Detail Artikel

KHOTBAH JUMAT: MENELADANI NABI IBRAHIM MEMBANGUN KELUARGA YANG TAAT KEPADA ALLAH

KHOTBAH JUMAT: MENELADANI NABI IBRAHIM MEMBANGUN KELUARGA YANG TAAT KEPADA ALLAH

Denpasar, 19 Juni 2026 – Khotbah Jumat di Mushola KH Ahmad Dahlan, Jalan Pulau Batanta No. 80 Denpasar, disampaikan oleh Ustadz Hery Kiswanto. Dalam khutbahnya, khatib mengajak jamaah menjadikan momentum tahun baru Hijriah sebagai sarana evaluasi diri sekaligus memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT melalui keteladanan keluarga Nabi Ibrahim AS.

Mengawali khutbah, khatib mengingatkan pentingnya meningkatkan kualitas iman dan takwa sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran ayat 102:

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Muslim."

Menurut beliau, memasuki Jumat pertama di tahun 1448 Hijriah, umat Islam perlu melakukan refleksi terhadap perjalanan hidup yang telah dilalui.

"Mari kita melihat kembali kualitas ibadah kita, kualitas ketakwaan kita, hubungan sosial kita, serta bagaimana kita membangun keluarga selama ini. Evaluasi ini penting agar kita mampu menjadi pribadi yang lebih baik di masa yang akan datang," ujarnya.

Nabi Ibrahim, Teladan Keluarga Bertakwa

Dalam khutbahnya, Ustadz Hery mengangkat sosok Nabi Ibrahim AS sebagai teladan dalam membangun keluarga yang taat kepada Allah SWT.

Beliau menjelaskan bahwa dalam Al-Qur'an, Allah SWT tidak hanya memuji Nabi Ibrahim secara pribadi, tetapi juga menjadikan keluarganya sebagai contoh keluarga yang berhasil menanamkan nilai tauhid dan ketakwaan.

Pertama, Selalu Belajar untuk Meyakini Allah

Khatib menjelaskan bahwa salah satu rahasia keberhasilan Nabi Ibrahim adalah kesungguhannya dalam memperkuat keyakinan kepada Allah SWT.

Mengutip QS. Al-An'am ayat 75–79, beliau menjelaskan bagaimana Allah memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Nabi Ibrahim sehingga beliau mencapai keyakinan yang sempurna.

"Nabi Ibrahim terus belajar mengenal Allah, mempelajari tanda-tanda kekuasaan-Nya, hingga keyakinannya semakin kuat. Keyakinan itulah yang membuat beliau semakin dekat dengan Allah SWT," jelasnya.

Beliau mengajak jamaah untuk terus meningkatkan ilmu dan pemahaman agama di tengah kesibukan dunia.

"Jika Nabi Ibrahim yang merupakan Khalilullah masih terus belajar mendekatkan diri kepada Allah, maka kita tentu lebih membutuhkan proses belajar dan memperkuat keimanan setiap hari."

Menanamkan Tauhid di Dalam Keluarga

Pelajaran kedua yang disampaikan adalah pentingnya menanamkan nilai-nilai tauhid kepada pasangan dan keluarga.

Khatib mencontohkan kisah Nabi Ibrahim ketika meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail di lembah tandus Makkah atas perintah Allah SWT.

Saat itu, Siti Hajar menunjukkan ketawakkalan yang luar biasa dengan mengatakan bahwa jika itu adalah perintah Allah, maka Allah pula yang akan menjaga mereka.

"Keteguhan Siti Hajar lahir karena Nabi Ibrahim berhasil menanamkan nilai tauhid dan keimanan dalam keluarganya," terang Ustadz Hery.

Beliau mengingatkan para suami bahwa mencari nafkah bukan satu-satunya tugas kepala keluarga.

"Sebelum meninggalkan keluarga untuk bekerja, tanamkan terlebih dahulu nilai keimanan dan ketauhidan. Sebab yang menjaga keluarga kita bukan semata-mata kehadiran kita, tetapi Allah SWT."

Sesibuk Apa Pun, Jangan Abaikan Anak

Dalam bagian berikutnya, khatib menyoroti pentingnya perhatian seorang ayah terhadap anak-anaknya.

Menurut beliau, Nabi Ibrahim tetap memberikan perhatian kepada Nabi Ismail meskipun disibukkan dengan berbagai tugas dakwah.

"Kesibukan tidak boleh menjadi alasan untuk melupakan anak-anak. Harta terbaik yang kita miliki sesungguhnya ada di rumah kita sendiri," tegasnya.

Beliau mengingatkan bahwa banyak orang tua yang terlalu larut dalam urusan pekerjaan hingga kehilangan kedekatan dengan keluarga.

"Jangan sampai kita pulang ke rumah hanya membawa kelelahan dan kemarahan. Sebaliknya, hadirkan ketenangan, perhatian, dan kasih sayang kepada anak-anak kita."

Khatib mencontohkan hubungan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang penuh kedekatan sehingga Ismail tumbuh menjadi anak yang ringan membantu ayahnya dalam menjalankan perintah Allah SWT, termasuk saat membangun kembali Ka'bah.

Momentum Tahun Baru Hijriah untuk Berbenah

Menutup khutbahnya, Ustadz Hery Kiswanto mengajak seluruh jamaah menjadikan awal tahun Hijriah sebagai titik awal memperbaiki kualitas diri dan keluarga.

"Mari kita jadikan tahun baru Hijriah ini sebagai momentum membangun keluarga yang semakin dekat dengan Allah SWT, memperkuat tauhid, memperbaiki ibadah, serta meningkatkan perhatian kepada pasangan dan anak-anak kita."

Beliau berharap seluruh jamaah dapat meneladani keluarga Nabi Ibrahim AS sehingga lahir generasi yang kuat iman, kuat akhlak, dan istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT.

"Semoga Allah SWT menjadikan keluarga-keluarga kita sebagai keluarga yang sakinah, penuh keberkahan, dan menjadi jalan menuju surga-Nya."

Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

  (RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'