Khutbah Jumat H. Khoirudin Usman: Menjaga Kemurnian Tauhid di Tengah Kabut Tradisi dan Zaman
Khutbah Jumat H. Khoirudin Usman: Menjaga Kemurnian Tauhid di Tengah Kabut Tradisi dan Zaman
Denpasar — Khutbah Jumat di Mushola KH Ahmad Dahlan, Jalan Batanta Nomor 80, Denpasar, Jumat (2 Januari 2026), menghadirkan refleksi mendalam tentang pentingnya menjaga kemurnian tauhid di tengah kompleksitas kehidupan modern. Khatib H. Khoirudin Usman menegaskan bahwa iman adalah anugerah Ilahi yang harus dirawat dengan ilmu dan kehati-hatian, bukan diwariskan secara serampangan melalui kebiasaan dan tradisi yang kehilangan dasar.
Dalam khutbahnya, H. Khoirudin Usman mengingatkan jamaah bahwa ketergantungan manusia kepada selain Allah merupakan awal dari keretakan akidah. Banyak orang, menurutnya, merasa aman karena bersandar pada simbol, tokoh, atau tradisi tertentu, padahal tidak ada satu pun makhluk yang memiliki kuasa menyelamatkan manusia dari kehendak Tuhan.
Ia menyoroti gejala zaman ketika batas antara kebenaran dan kebatilan kian kabur. Salah satu indikatornya adalah mudahnya umat mengadopsi perayaan, amalan, dan keyakinan tanpa menimbang kesesuaiannya dengan nilai-nilai Islam. Dalam konteks ini, khatib menyinggung peringatan-peringatan populer yang berasal dari budaya luar, yang sering diterima tanpa sikap kritis.
Menurut H. Khoirudin Usman, Islam telah menempatkan kemuliaan manusia—terutama perempuan dan ibu—pada posisi yang luhur tanpa memerlukan pengakuan simbolik tahunan. Kemuliaan seorang ibu dalam Islam bukanlah seremoni, melainkan syarat keselamatan dan pintu keberkahan hidup.
Khutbah tersebut juga mengingatkan jamaah agar waspada terhadap klaim-klaim keutamaan ibadah yang berlebihan, khususnya yang disandarkan pada waktu-waktu tertentu tanpa dasar yang jelas. Ia menegaskan bahwa agama tidak dibangun di atas kisah dan sensasi pahala, melainkan di atas tuntunan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan spiritual.
“Keberagamaan yang sehat,” ujarnya, “lahir dari iman yang berilmu, bukan dari cerita yang memikat tetapi menyesatkan.”
Lebih jauh, khatib mengajak jamaah untuk menyadari bahwa setiap amal, sekecil apa pun, akan bernilai besar apabila dilandasi keikhlasan dan kesadaran akan kehadiran Allah. Bahkan pandangan mata, arah cinta, dan gerak hati manusia dapat menjadi sebab turunnya rahmat dan kemudahan menuju keselamatan akhirat.
Dalam bagian akhir khutbah, H. Khoirudin Usman menghadirkan teladan sejarah hijrah Rasulullah bersama para sahabat sebagai simbol cinta, pengorbanan, dan keteguhan iman. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa keimanan sejati selalu menuntut keberanian untuk meninggalkan kenyamanan demi kebenaran.
Khutbah Jumat di Mushola KH Ahmad Dahlan itu menegaskan kembali bahwa keselamatan umat tidak terletak pada ramainya ritual, tetapi pada kejernihan tauhid, lurusnya ibadah, dan kokohnya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. (RAYD)



