Detail Artikel

Khutbah Jumat P. Hariyadi: Tauhid sebagai Pondasi Kebangkitan Umat

Khutbah Jumat P. Hariyadi: Tauhid sebagai Pondasi Kebangkitan Umat

Tabanan — Khutbah Jumat di Musala Hidayatullah, Banjar Anyar, Tabanan, Jumat (26/12/2025), menjadi ruang refleksi mendalam tentang arah keberagamaan umat Islam. Khatib, P. Hariyadi, mengajak jamaah untuk kembali menegakkan tauhid sebagai fondasi utama kebangkitan umat, sekaligus benteng dari berbagai bentuk penyimpangan akidah yang kian samar di tengah kehidupan modern.

Dalam khutbahnya, P. Hariyadi menegaskan bahwa ketakwaan bukan sekadar seruan moral, melainkan wasiat ilahiah yang diwariskan lintas generasi. Ia mengingatkan bahwa seluruh isi langit dan bumi adalah milik Allah semata, sehingga manusia tidak memiliki alasan untuk menggantungkan harapan, rasa takut, maupun kepatuhan kepada selain-Nya.

Menurutnya, kemurnian tauhid adalah inti dari seluruh risalah para nabi. Tauhid bukan hanya konsep teologis, tetapi kekuatan pembebas yang mengangkat manusia dari penghambaan kepada makhluk, sistem, simbol, maupun kekuasaan semu. Dari sanalah Rasulullah membangun generasi awal Islam: generasi yang tegak berdiri karena keyakinan bahwa hanya Allah satu-satunya tempat bergantung.

“Kalimat tauhid bukan sekadar ucapan,” ujar P. Hariyadi dalam khutbahnya, “ia menuntut pembersihan total terhadap segala bentuk kesyirikan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.”

Ia mengurai bahwa kesyirikan di masa kini kerap hadir dalam rupa yang halus: keyakinan berlebihan pada benda, kekuatan manusia, ramalan, jimat, bahkan pada sistem yang dijadikan sumber hukum dan penentu nasib, menggantikan peran Tuhan. Semua itu, menurutnya, menggerogoti kemurnian iman tanpa disadari.

Khutbah tersebut juga menyoroti fenomena sebagian umat yang mencari keselamatan dan pertolongan pada praktik-praktik mistik, peramal, atau simbol-simbol tertentu. P. Hariyadi menegaskan bahwa keyakinan semacam itu bukan hanya melemahkan akal sehat, tetapi juga mencederai keimanan, karena mengalihkan ketergantungan hati dari Allah kepada selain-Nya.

Ia mengingatkan jamaah bahwa tidak ada satu pun musibah yang dapat diangkat kecuali dengan izin Allah, dan tidak ada satu pun kebaikan yang datang tanpa kehendak-Nya. Ketergantungan kepada selain Allah, tegasnya, adalah bentuk kelemahan spiritual yang berujung pada kesesatan.

Lebih jauh, P. Hariyadi mengaitkan kemunduran umat Islam dengan rapuhnya tauhid dalam jiwa. Ketika keyakinan kepada Allah tidak lagi menjadi pusat orientasi hidup, maka umat kehilangan keberanian, kejernihan arah, dan kekuatan moral. Sebaliknya, musuh-musuh Islam menemukan celah untuk menguasai.

Ia menutup khutbah dengan seruan agar umat Islam kembali menata iman dari akarnya: memahami tauhid dengan ilmu, meyakininya tanpa ragu, mengamalkannya dengan ikhlas, serta menundukkan seluruh aspek kehidupan di bawah nilai-nilai ketuhanan. Hanya dengan cara itulah, menurutnya, umat Islam dapat bangkit sebagai komunitas yang bermartabat dan berdaya.

Khutbah Jumat di Musala Hidayatullah pagi itu tidak sekadar menjadi rutinitas ibadah, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kebangkitan umat selalu berawal dari kejernihan akidah dan keteguhan iman.(RAYD) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'