Detail Artikel

Khutbah Jum'at : Prinsip-Prinsip Beribadah kepada Allah


SUARA UMAT - Berikut isi khutbah Jum'at oleh ustadz Safarudin di Musholla KH Ahmad Dahlan, Jl. Pulau Batanta No. 80, 1 November 2024.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang telah memberi kita kesempatan untuk berkumpul pada hari ini. Shalawat dan salam kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah, pada kesempatan kali ini, kita akan membahas beberapa prinsip penting dalam beribadah kepada Allah. Prinsip-prinsip ini merupakan landasan utama dalam setiap amalan kita, sehingga dengan memahami dan menerapkannya, insya Allah ibadah kita akan diterima dan mendapatkan keridhaan dari Allah.

1. Hanya Menyembah Allah

Prinsip pertama adalah bahwa kita harus hanya menyembah Allah. Ini adalah inti dari tauhid, yang berarti mengesakan Allah dalam setiap aspek kehidupan kita. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 21:

"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Ayat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk menyembah Allah saja, tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun atau siapa pun. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini berarti tidak mengarahkan rasa takut, harap, cinta, dan ibadah kita kepada selain Allah, seperti kepada benda-benda, orang tertentu, atau kekuatan-kekuatan lain yang dianggap memiliki pengaruh di luar kehendak Allah.

Dalam Surah Al-Fatihah yang kita baca dalam setiap rakaat shalat, kita selalu mengucapkan, “Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in” (Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan). Hal ini menegaskan bahwa ibadah kita hanya kepada Allah semata, sebagai bukti ketauhidan kita.

2. Mengikuti Syarat-Syarat yang Telah Ditentukan Allah

Dalam beribadah, kita juga harus mengikuti syarat-syarat yang telah ditentukan Allah. Ibadah bukanlah sekadar melakukan ritual, tetapi ada ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi agar ibadah kita sah dan diterima.

Misalnya, dalam ibadah shalat, kita harus memenuhi rukun dan syarat shalat, seperti wudhu, menghadap kiblat, serta menunaikannya pada waktu yang ditentukan. Allah berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 6:

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki."

Syarat-syarat ini bukanlah bentuk beban, melainkan rahmat Allah yang mengajarkan kita kedisiplinan dan ketertiban. Dengan memenuhi syarat-syarat yang telah Allah tetapkan, kita menunjukkan kepatuhan penuh kepada-Nya dan berusaha untuk beribadah dengan cara yang Allah ridai.

3. Ikhlas dalam Beribadah

Prinsip berikutnya adalah keikhlasan dalam beribadah, yaitu beribadah hanya untuk Allah dan mengharapkan ridha-Nya, bukan pujian atau penghargaan dari makhluk lain. Dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5, Allah berfirman:

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas mentaati-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus."

Keikhlasan adalah syarat diterimanya amal ibadah. Tanpa keikhlasan, ibadah kita hanya akan menjadi sia-sia dan tidak akan mendapatkan balasan dari Allah. Keikhlasan adalah kunci ketulusan hati, membebaskan kita dari keinginan duniawi dan membuat kita lebih dekat kepada Allah. Dengan ikhlas, kita berusaha menyingkirkan riya’ atau ingin dilihat, serta sum’ah atau ingin didengar orang lain, karena kita yakin bahwa hanya Allah yang berhak menilai amal kita.

4. Mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam

Prinsip selanjutnya adalah bahwa ibadah kita harus mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 21:

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu."

Rasulullah diutus untuk menunjukkan cara yang benar dalam beribadah kepada Allah, termasuk dalam shalat, puasa, zakat, haji, dan amalan lainnya. Beliau bersabda, "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari).

Dengan mengikuti Rasulullah, kita menjaga ibadah kita dari penyimpangan dan memastikan ibadah kita diterima Allah, karena setiap ibadah yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah bisa menjadi bid'ah yang tertolak. Jadi, mari kita selalu berupaya memperdalam ilmu dan mengikuti sunnah beliau agar ibadah kita sempurna.

5. Menjaga Keseimbangan (al-mizan)

Dalam beribadah, kita juga harus menjaga keseimbangan antara ibadah mahdhah (ibadah langsung kepada Allah seperti shalat dan puasa) dan ibadah ghairu mahdhah (ibadah yang terkait dengan hubungan sosial, seperti berbuat baik kepada sesama). Allah berfirman dalam Surah Al-Kautsar ayat 2:

"Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah."

Ayat ini mengisyaratkan bahwa kita tidak hanya berfokus pada ibadah individu, tetapi juga berkorban untuk kesejahteraan orang lain, menunjukkan keseimbangan antara tanggung jawab individu dan sosial. Dalam konteks keseimbangan ini, kita juga perlu memperhatikan kehidupan dunia tanpa melupakan akhirat. Allah mengingatkan kita dalam Surah Al-Qashash ayat 77:

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia."

Oleh karena itu, mari kita jaga keseimbangan dalam hidup ini, baik dalam menjalankan ibadah, bekerja, maupun menjaga hubungan dengan sesama.

6. Kesadaran Bahwa Syarat yang Ditetapkan Allah Bukan Beban

Prinsip terakhir adalah menyadari bahwa syarat dan ketentuan yang Allah tetapkan bukanlah bentuk beban atau kesulitan, melainkan merupakan cara untuk mendekatkan kita kepada-Nya. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 286:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak membebankan apa pun kepada kita kecuali sesuai dengan kemampuan kita. Setiap ketentuan ibadah telah diatur sedemikian rupa agar manusia dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuannya. Contohnya, jika kita tidak bisa shalat sambil berdiri karena sakit, kita boleh melakukannya sambil duduk atau berbaring.

Allah menurunkan syariat-Nya untuk kebaikan kita sendiri, bukan untuk membebani. Mari kita pahami bahwa aturan-aturan Allah adalah bentuk kasih sayang dan perhatian-Nya kepada kita sebagai hamba-Nya.

Penutup

Hadirin yang dimuliakan Allah, inilah beberapa prinsip utama dalam beribadah kepada Allah: menyembah Allah semata, mengikuti syarat yang telah ditentukan, ikhlas, mengikuti sunnah Rasulullah, menjaga keseimbangan, dan memahami bahwa ketentuan Allah bukanlah beban.

Semoga kita semua selalu diberi kekuatan dan keikhlasan oleh Allah untuk melaksanakan ibadah-ibadah ini dengan sebaik-baiknya, serta diberikan rahmat dan keberkahan dalam hidup kita. Aamiin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'