Detail Artikel

Kopi Harus Tetap Ada di Hulu Bali

Kopi Harus Tetap Ada di Hulu Bali

Pemerintah dan seluruh masyarakat Bali perlu menyadari satu hal mendasar: masa depan Bali sangat ditentukan oleh keberlanjutan kawasan hulunya. Jika Bali ingin tetap aman, nyaman, dan lestari—baik bagi penduduk maupun wisatawan—maka perlindungan kawasan hulu bukanlah pilihan, melainkan keharusan.

Penegasan itu disampaikan aktivis lingkungan sekaligus Anggota Dewan Pakar ICMI Bali, Ir. Suprio Guntoro. Menurutnya, salah satu kunci menjaga keseimbangan ekologis Bali terletak pada pelestarian tanaman kopi di kawasan hulu. Kopi bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi tanaman hidrologis yang memiliki peran strategis dalam menjaga neraca air.

“Kopi memiliki neraca air surplus. Ia mampu menyimpan air dalam tanah dan melahirkan mata air. Dari sanalah sungai-sungai Bali mendapatkan pasokannya, terutama di musim kemarau,” ujar Guntoro.

Data lapangan menunjukkan kondisi yang kian mengkhawatirkan. Dari 318 sungai yang ada di Bali, sekitar 57 persen di antaranya kini mengering saat musim kemarau. Angka ini terus meningkat dari tahun ke tahun, seiring perubahan tata guna lahan di kawasan hulu.

Untuk mendorong masyarakat tetap mempertahankan kopi, Guntoro menekankan pentingnya peningkatan nilai ekonomi perkebunan kopi. Salah satu strategi yang ditawarkan adalah sistem tumpang sari dengan tanaman biofarmaka. Tanaman seperti jahe, kencur, kunyit, cabe puyang, kapulaga, kenanga, dan sejenisnya dapat dibudidayakan di sela tanaman kopi tanpa mengganggu produktivitas, karena perakarannya dangkal dan ramah terhadap sistem tanah.

Ia menambahkan, di wilayah dataran menengah dengan suhu lebih hangat, sela-sela kebun kakao juga dapat dimanfaatkan untuk budidaya kapulaga, sirih, atau melati. Pola ini dinilai mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus menjaga fungsi ekologis lahan.

Dalam waktu dekat, uji coba budidaya cabe puyang direncanakan akan dilakukan di Desa Pujungan, pada perkebunan kopi milik drh. Luh Laksmi Werti. Uji coba awal akan dilakukan di lahan seluas satu hingga dua hektare. Cabe puyang dikenal sebagai bahan baku biofarmasi bernilai tinggi yang banyak diekspor, terutama ke China, untuk pengobatan reumatik, vertigo, demam, gangguan pencernaan, hingga vitalitas tubuh.

Namun, Guntoro mengingatkan adanya praktik yang justru mengancam keberlanjutan hulu Bali, yakni penggantian tanaman kopi dengan jeruk. Tanaman jeruk memiliki neraca air negatif, sehingga penanamannya di kawasan hulu dapat merusak siklus hidrologis dan memicu kekeringan di wilayah hilir.

Maraknya alih fungsi kebun kopi menjadi kebun jeruk di kawasan Kintamani, menurut Guntoro, tidak lepas dari minimnya kehadiran pemerintah dan dinas terkait di tengah masyarakat. Tanpa pendampingan dan arahan yang memadai, petani kerap mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan ekonomi jangka pendek, tanpa memahami dampak ekologis jangka panjang.

“Ketika negara absen, alam yang membayar harganya, dan masyarakat di hilir yang menanggung akibatnya,” pungkasnya.

Melindungi kopi di hulu Bali berarti menjaga air, kehidupan, dan masa depan pulau ini.(Yahya Umar)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'