Detail Artikel

KPMDI Bekali Muballighoh dengan Dakwah Berbasis Kompetensi dan Public Speaking

KPMDI Bekali Muballighoh dengan Dakwah Berbasis Kompetensi dan Public Speaking


Bukan Sekadar Pandai Berbicara, Muballighoh Dituntut Mampu Menguasai Materi, Memahami Jamaah, dan Menyampaikan Pesan dengan Meyakinkan

DENPASAR — Dakwah tidak cukup hanya dengan keberanian berdiri di depan jamaah. Di balik setiap kata yang disampaikan seorang muballighoh, ada ilmu yang harus dikuasai, mental yang harus dipersiapkan, serta kemampuan komunikasi yang perlu terus diasah.

Kesadaran itulah yang mengemuka dalam Diklat Muballighoh KPMDI yang diselenggarakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dan profesionalitas para anggota KPMDI. Kegiatan tersebut menghadirkan Hj. Yunisia sebagai pemateri sesi dakwah dan Hj. Maria Ulfa untuk materi public speaking.

Bagi KPMDI, peningkatan kualitas muballighoh bukan sekadar agenda pelatihan, melainkan bagian dari investasi sumber daya manusia. Seorang muballighoh tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan agama, tetapi juga harus mampu mengemas dan menyampaikan pengetahuan tersebut sehingga dapat diterima oleh jamaah.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh MC Bu Bastiah, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ibu Hj. Isti Mufidah dan sari tilawah oleh Bu Hj. Nur Hidayah. Acara kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan Indonesia Raya dan Mars KPMDI, sambutan Ketua KPMDI Ibu Hj. Neneng, doa oleh Ibu Hj. Yunisia, serta dua sesi utama materi diklat.

Hj. Neneng: Kompetensi Anggota Menjadi Perhatian

Dalam kepemimpinannya, Ketua KPMDI Ibu Hj. Neneng menunjukkan perhatian yang kuat terhadap peningkatan kompetensi dan profesionalitas anggota. Diklat Muballighoh menjadi salah satu ruang penting untuk mendorong anggota agar tidak berhenti pada kemampuan yang sudah dimiliki, tetapi terus belajar dan meningkatkan kualitas diri.

Semangat tersebut menjadi penting karena tantangan dakwah di tengah masyarakat terus berubah. Jamaah hari ini bukan hanya membutuhkan pesan yang benar, tetapi juga membutuhkan cara penyampaian yang mampu menyentuh kehidupan mereka.

Dakwah membutuhkan ilmu, tetapi ilmu yang tidak dikomunikasikan dengan baik akan kehilangan sebagian daya jangkaunya.

Karena itu, peningkatan kompetensi muballighoh perlu ditempatkan sebagai proses yang berkelanjutan. Seorang muballighoh perlu memiliki keberanian untuk belajar, berlatih, menerima kritik, mengevaluasi diri, dan kembali mencoba.

Inilah semangat yang terasa dalam diklat tersebut: membangun muballighoh yang tidak hanya siap berbicara, tetapi juga siap bertanggung jawab terhadap pesan yang disampaikannya.

Hj. Yunisia: Kuasai Materi Sebelum Berdiri di Hadapan Jamaah

Pada sesi pertama, Hj. Yunisia membawa peserta pada persoalan mendasar yang sering dihadapi seseorang ketika harus berbicara di depan publik: kesiapan materi dan kesiapan mental.

Menurut materi yang disampaikan, rasa kurang percaya diri merupakan sesuatu yang wajar, terutama bagi mereka yang belum terbiasa tampil di depan banyak orang. Namun, rasa tersebut tidak boleh menjadi penghalang.

Salah satu cara membangun kepercayaan diri adalah dengan menguasai materi secara bertahap.

Materi dakwah harus dipersiapkan secara terstruktur, mulai dari menentukan tema, menyusun pembukaan, mengembangkan isi, hingga menyiapkan penutup. Dalam materi dakwah Islam, penguasaan dalil juga menjadi bagian penting.

Peserta diarahkan untuk mencari dalil Al-Qur’an dan hadis yang relevan dengan tema, memahami bacaannya, mengetahui artinya, kemudian menjabarkan kandungan dalil tersebut ke dalam poin-poin yang mudah dipahami jamaah.

Dengan demikian, muballighoh tidak berhenti pada membaca ayat atau hadis, tetapi mampu menjelaskan apa maknanya, apa pesan yang terkandung di dalamnya, dan bagaimana pesan tersebut relevan dengan kehidupan jamaah.

Di sinilah dakwah menjadi lebih hidup.

Dalil memberikan landasan, penjelasan memberikan pemahaman, sementara cara penyampaian memberikan daya sentuh kepada jamaah.

Pembukaan adalah pintu pertama

Hal menarik lainnya adalah penekanan terhadap pentingnya pembukaan.

Salam, pujian kepada Allah, shalawat, maupun ungkapan pembuka dalam bahasa Arab bukan sekadar formalitas. Semuanya harus disampaikan dengan lafal yang jelas, intonasi yang tepat, ekspresi yang sesuai, serta keyakinan.

Seorang pembicara harus mampu membangun hubungan dengan audiens sejak kalimat pertama.

Salam yang disampaikan dengan tegas dan penuh keyakinan akan menghasilkan respons jamaah yang berbeda dibandingkan salam yang disampaikan dengan suara ragu-ragu.

Kalimat pertama adalah pintu. Dari pintu itulah jamaah menentukan apakah mereka akan ikut masuk dan menyimak perjalanan dakwah yang disampaikan.

Karena itu, pembukaan perlu dilatih secara berulang-ulang hingga menjadi bagian dari kemampuan yang dikuasai.

Public Speaking: Ketika Ilmu Harus Bertemu dengan Cara Menyampaikan

Sesi berikutnya bersama Hj. Maria Ulfa membawa peserta pada dimensi yang tidak kalah penting: public speaking.

Seorang muballighoh mungkin menguasai materi dengan sangat baik. Namun, penguasaan materi saja belum menjamin pesan dapat diterima secara optimal apabila cara penyampaiannya tidak efektif.

Karena itu, public speaking bukan sekadar kemampuan berbicara. Ia merupakan perpaduan antara bahasa tubuh, kontak mata, intonasi, artikulasi, pengaturan napas, ketenangan, dan kemampuan membaca audiens.

Peserta diajak memahami bahwa tubuh juga ikut berbicara.

Orang yang tidak percaya diri biasanya akan memperlihatkan gerakan tubuh yang tidak terkontrol, seperti sering berpindah posisi, melihat ke berbagai arah, atau menunjukkan tanda-tanda kegelisahan. Sebaliknya, pembicara yang percaya diri mampu menjaga posisi tubuh, melakukan kontak mata, dan menyampaikan pesan dengan lebih tenang.

Kepercayaan diri bukan hanya terdengar melalui suara, tetapi juga terlihat melalui bahasa tubuh.

Kenali siapa yang diajak bicara

Public speaking yang baik juga menuntut kemampuan memahami audiens.

Berbicara di hadapan anak-anak tentu berbeda dengan berbicara di hadapan jamaah dewasa. Demikian pula berbicara kepada kelompok ibu-ibu pengajian membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan ketika berbicara dalam forum formal.

Karena itu, muballighoh perlu memperhatikan usia, karakter, kebutuhan, dan situasi audiens.

Intonasi pun harus disesuaikan. Penyampaian yang terlalu cepat dapat membuat pesan sulit ditangkap, sementara suara yang tidak jelas dapat mengurangi perhatian jamaah.

Pembicara yang baik bukan hanya bertanya, “Apa yang ingin saya sampaikan?”, tetapi juga “Apa yang dibutuhkan audiens untuk memahami apa yang saya sampaikan?”

Hindari Filler Words, Bangun Ketenangan

Dalam latihan public speaking, peserta juga diperkenalkan pada kebiasaan-kebiasaan kecil yang sering tidak disadari pembicara, salah satunya penggunaan filler words atau kata-kata pengisi yang muncul berulang ketika seseorang sedang berpikir atau kehilangan alur pembicaraan.

Kebiasaan semacam itu perlu dikurangi melalui latihan.

Pembicara tidak harus selalu berbicara cepat untuk menunjukkan bahwa dirinya menguasai materi. Justru jeda, ketenangan, dan artikulasi yang jelas dapat membuat pesan lebih kuat.

Demikian pula penguasaan suara atau olah vokal. Suara perlu dilatih agar memiliki kekuatan, artikulasi yang jelas, serta intonasi yang tidak monoton.

Sedikit kata yang disampaikan dengan suara, intonasi, dan keyakinan yang tepat sering kali lebih kuat daripada banyak kata yang kehilangan arah.

Storytelling: Membawa Jamaah Masuk ke Dalam Pesan

Salah satu materi menarik dalam diklat adalah pentingnya storytelling dalam penyampaian dakwah.

Cerita membuat sebuah pesan lebih dekat dengan kehidupan manusia. Kisah Nabi, pengalaman sehari-hari, maupun peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar dapat menjadi jembatan untuk menjelaskan nilai-nilai agama.

Dalam dunia komunikasi saat ini, kemampuan bercerita bahkan menjadi semakin penting. Di tengah derasnya informasi digital dan budaya media sosial, perhatian manusia menjadi semakin mudah berpindah.

Karena itu, muballighoh dituntut mampu membuat pesan dakwah tetap menarik tanpa kehilangan substansi.

Storytelling bukan berarti mengurangi nilai dakwah menjadi sekadar cerita. Sebaliknya, cerita menjadi kendaraan untuk membawa pesan agar lebih dekat dengan hati dan pengalaman jamaah.

Latihan, Evaluasi, dan Jam Terbang

Satu pesan kuat yang muncul dari kedua sesi tersebut adalah bahwa kemampuan tidak lahir secara instan.

Muballighoh perlu berlatih.

Latihan dapat dimulai dari diri sendiri, berbicara di depan cermin, merekam suara atau penampilan, kemudian melakukan evaluasi. Latihan juga dapat dilakukan bersama teman dengan membuka ruang untuk menerima masukan.

Masukan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.

Kritik dan saran justru menjadi cermin untuk mengetahui bagian mana yang sudah baik dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki.

Semakin sering seseorang tampil, semakin ia mengenali dirinya sendiri. Dari situlah lahir jam terbang.

Bahkan untuk seorang MC yang harus tampil secara mendadak, kunci utamanya tetap sama: memahami tema acara, menguasai pembukaan, mengetahui susunan acara, memahami siapa saja yang hadir, serta mampu memanfaatkan jeda untuk menjaga alur acara.

Pengalaman akan membuat seseorang lebih tenang, tetapi pengalaman hanya lahir dari keberanian untuk terus mencoba.

Dari KPMDI untuk Dakwah yang Lebih Profesional

Diklat Muballighoh KPMDI memperlihatkan bahwa dunia dakwah perempuan membutuhkan ruang pembelajaran yang serius dan berkelanjutan.

Perempuan yang berada di tengah keluarga dan masyarakat memiliki ruang strategis dalam menyampaikan nilai-nilai kebaikan. Karena itu, kemampuan mereka untuk berbicara, mendidik, menggerakkan, dan membangun komunikasi dengan jamaah merupakan bagian penting dari penguatan peran perempuan dalam kehidupan umat.

KPMDI melalui kegiatan ini tidak sekadar mengajarkan bagaimana berbicara di depan orang lain, tetapi juga bagaimana mempersiapkan diri agar setiap kata memiliki landasan, setiap pesan memiliki tujuan, dan setiap penampilan memberikan manfaat.

Pada akhirnya, seorang muballighoh bukanlah orang yang harus terlihat sempurna. Ia adalah seseorang yang mau terus belajar, memperbaiki diri, memperdalam ilmu, dan berusaha menyampaikan kebaikan dengan cara terbaik yang mampu dilakukannya.

Dan di situlah makna penting dari diklat ini.

Sebab dakwah bukan perlombaan siapa yang paling banyak berbicara. Dakwah adalah ikhtiar agar kebenaran dapat disampaikan dengan ilmu, diterima dengan akal, dan menyentuh hati.

Melalui perhatian kepemimpinan Ibu Hj. Neneng terhadap peningkatan kompetensi dan profesionalitas anggota, serta kontribusi para pemateri, KPMDI sedang menyiapkan bukan hanya perempuan yang berani berbicara, tetapi perempuan yang siap menjadi pembawa pesan kebaikan di tengah umat.

Dari ilmu menuju kemampuan. Dari latihan menuju kepercayaan diri. Dan dari kepercayaan diri menuju dakwah yang memberi arti.

  (RAYD) Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'