Detail Artikel

Kucing-kucing Bule, Fenomena Tiba-Tiba yang Membuat Geleng-geleng

Kucing-kucing Bule, Fenomena Tiba-Tiba yang Membuat Geleng-geleng

Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Suara gebrak dari atas genteng seperti pertanda bencana, kucing-kucing besar yang tadinya asyik bercengkrama sambil bercanda, seolah sedang rapat penting, langsung kabur ke rumah masing-masing. Kucing-kucing gemuk dengan bulu cantik, halus, dan warna-warni, seperti Angora, Siam, atau mungkin Angodo, berlarian. Kalau dijual, pasti lumayan, pikirku.

Tapi, apalah daya—kucing-kucing itu, meski berbadan besar dan cantik, ternyata juga punya masalah: bocor. Bocor di mana-mana, begitu kata kucing lokal yang udah lama enggak kelihatan. Biasanya sih, mereka yang suka ngejebak tikus atau sekadar bermain dengan mangsanya, tapi sekarang kucing-kucing ini malah enggan melihat tikus. Jijik, katanya. Bahkan kalau tikus melenggang di depan mata, mereka lebih memilih melenggang dengan anggun sambil makan sereal merek ternama, yang harganya nggak jauh beda dengan uang gaji guru honor.

Makanan mereka bukan lagi nasi diremas ikan pindang, tapi sudah sereal premium, sepertinya mereka lebih memilih jadi pecinta hidup mewah, seperti anjing-anjing ras yang viral. Kita? Kita cuma makan tahu dan tempe, menghabiskan sepertiga uang untuk mereka, si kucing lucu yang makin banyak, sementara kita cuma bisa geleng-geleng kepala.

Oh... cilaka! Fenomena hewan peliharaan yang semakin berubah, membuat para pemilik hewan peliharaan merasa seperti menanggung beban hidup dua kali lipat. Apakah ini tanda-tanda bahwa tren hewan peliharaan kini lebih memihak kepada yang berkelas? Atau memang sudah waktunya para pemiliknya beralih menjadi pecinta kucing bule?

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'