Kulit Ari yang Diremehkan—Dan Tuhan-Tuhan yang Lebih Lemah Darinya”
Kulit Ari yang Diremehkan—Dan Tuhan-Tuhan yang Lebih Lemah Darinya”
Suara Umat — Renungan Ringan Hari Ini
Dalam satu ayat yang sering kita lewatkan tanpa jeda, Allah menyinggung sesuatu yang hampir tak pernah kita pikirkan: kulit ari. Selapis tipis yang menempel pada biji kurma—nyaris tak berbobot, nyaris tak terlihat, bahkan sering ikut terpupus saat kita membelah buahnya.
Namun, justru lapisan sehalus itu dipilih Allah sebagai perumpamaan untuk menggugurkan kesombongan sesembahan selain-Nya.
“Mereka (sesembahan itu) tidak mampu memiliki walau sebesar kulit ari biji kurma.”
— Surah Fâthir, 13
Kalimatnya sederhana. Tapi maknanya menghunjam.
Di hadapan manusia, kulit ari tampak remeh, tidak dianggap, bahkan tidak bernilai. Tapi di hadapan ilmu pengetahuan, ia adalah keajaiban kecil yang bekerja tanpa keluh: melindungi, menjaga nutrisi, dan menyempurnakan proses tumbuhnya kehidupan pada biji. Setipis apapun, ia tetap ciptaan Allah—lengkap dengan struktur, fungsi, dan hikmah.
Dan itulah titik yang membuat kita terdiam.
Karena yang dianggap sepele itu ternyata lebih bernilai daripada seluruh sesembahan selain Allah.
Jika berhala—atau apa pun yang disembah manusia selain Tuhan—tidak mampu menciptakan sesuatu setipis itu, maka apa sebenarnya yang mereka tawarkan? Tidak bisa memeluk kita, tidak mampu menjawab doa, tidak sanggup menolak mudarat. Mereka bahkan lebih lemah daripada lapisan yang selalu kita abaikan.
Betapa lembut cara Allah menyadarkan manusia:
bahwa kadang, yang paling kecil justru menyimpan bukti kuasa-Nya paling besar.
Di titik ini, ayat tersebut menjadi cermin.
Kita sering terpesona pada yang besar—kekuasaan, gelar, jabatan, nama.
Padahal tanda-tanda keagungan Allah justru berserakan pada hal-hal yang kita anggap remeh: sehelai kulit ari, sehelai daun, bahkan setetes air yang menghidupkan bumi.
Maka tidakkah aneh jika manusia masih mencari “tuhan-tuhan kecil” dalam bentuk lain—harta, prestise, popularitas—padahal semuanya tidak mampu memberi kita walau sebesar kulit ari?
Mungkin inilah pesan halus dari ayat itu:
Bahwa apa pun yang kita jadikan tempat bersandar selain Allah akan selalu mengecewakan.
Bahwa kekuatan yang sejati tidak pernah ditemukan pada hal-hal yang riuh, tetapi pada ketundukan yang paling sunyi.
Dan bahwa Allah tidak butuh menunjukkan kuasa-Nya lewat gunung dan lautan.
Cukup dengan kulit ari—dan seluruh tirani dunia pun runtuh.
Suara kecil dalam ayat itu sesungguhnya sedang berkata:
“Jika yang paling kecil saja menunjukkan keagungan Tuhan, maka kepada siapa lagi manusia akan bersandar selain Dia?”
(RAYD) Donasi.. PT Media Suara Umat. Bank BSI 7326712967



