Langit Mendung Mengiringi Takbir: Khidmat Salat Idul Adha 1447 H di Mushola KH Ahmad Dahlan Denpasar
Langit
Mendung Mengiringi Takbir: Khidmat Salat Idul Adha 1447 H di Mushola KH Ahmad
Dahlan Denpasar
Denpasar, 27 Mei 2026 —
Pagi itu langit tampak mendung. Awan menggantung rendah di atas Kota Denpasar
seakan ikut menundukkan diri di hadapan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Udara dingin menyelimuti Jalan Pulau Batanta No. 80, sementara gema takbir
perlahan memecah sunyi malam yang belum sepenuhnya pergi.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar
walillahil hamd…”
Takbir berkumandang dari pengeras suara Mushola KH
Ahmad Dahlan, menyusup ke sela-sela rumah warga, mengetuk hati yang lama lelah
oleh hiruk-pikuk dunia. Burung-burung merpati beterbangan bergerombol di langit
kelabu, berputar seperti sedang thawaf mengelilingi cakrawala. Layang- layang dengan lampu warna warninya belum sepenuhnya diturunkan, seolah
enggan berpisah dari kemuliaan malam Idul Adha.
Tepat pukul 06.30 WITA, ratusan jemaah mulai
memadati area mushola untuk menunaikan Salat Idul Adha 1447 Hijriah. Anak-anak
kecil menggenggam tangan ayahnya. Para ibu berjalan perlahan dengan wajah
teduh. Saf demi saf terbentuk rapi dalam suasana penuh khusyuk dan harapan akan
rahmat Allah.
Dalam khutbahnya, khatib mengingatkan bahwa Hari Raya Idul Adha merupakan hari paling agung dalam setahun, sebagaimana sabda Rasulullah
“A’zhamu al-ayyam ‘indallahi Yawmun Nahr.”
“Hari yang paling agung di sisi Allah adalah Hari Nahr (hari penyembelihan
kurban).”
Hari Raya Idul Adha menjadi begitu mulia karena
pada hari itu berkumpul dua ibadah terbesar: salat dan kurban. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan
berkurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)
Dalam penjelasannya, khatib menyampaikan pandangan
Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah bahwa ayat tersebut menghimpun dua bentuk penghambaan paling
agung:
- Ibadah badaniyah,
yakni salat yang dilakukan dengan tubuh dan ketundukan jiwa.
- Ibadah maliyah,
yakni kurban yang dilakukan dengan harta terbaik yang dimiliki.
“Tidaklah dua ibadah besar itu berkumpul dalam satu
waktu kecuali menunjukkan kemuliaan hari tersebut,” terang khatib di hadapan
jemaah.
Momentum Idul Adha, lanjutnya, bukan sekadar
tentang penyembelihan hewan kurban, melainkan tentang menyembelih ego,
kesombongan, dan cinta dunia yang berlebihan. Saat hewan kurban dibaringkan,
Rasulullah mengajarkan doa:
“Allahumma inna hadza minka wa laka. Allahumma
taqabbal ”
“Ya Allah, sesungguhnya ini berasal dari-Mu dan dipersembahkan hanya untuk-Mu.
Ya Allah, terimalah kurbanku.”
Doa itu menjadi pengingat bahwa seluruh harta,
rezeki, dan kehidupan sejatinya hanyalah titipan Allah.
Khatib juga menegaskan bahwa diterimanya ibadah
kurban memiliki syarat utama, yakni keimanan dan keikhlasan. Seorang muslim
wajib menjaga salat lima waktu sebagai tiang agama. Nabi Ibrahim Seorang
kekasih Allah sekalipun, tetap memohon:
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak keturunanku
orang-orang yang tetap mendirikan salat.”
Pesan itu menjadi tamparan lembut bagi kaum
muslimin agar tidak lalai menjaga salat wajib di tengah kesibukan dunia.
Selain itu, jemaah juga diingatkan agar meluruskan
niat dalam berkurban. Jangan sampai ibadah yang agung dicampuri kepentingan
duniawi, pujian manusia, atau ambisi politik sesaat. Karena yang sampai kepada
Allah bukanlah darah dan daging hewan kurban, melainkan ketakwaan dari hati
manusia.
Idul Adha juga menjadi simbol kepedulian sosial dan
persaudaraan umat. Daging kurban dibagikan kepada masyarakat, menghadirkan
kebahagiaan di rumah-rumah kaum dhuafa yang mungkin hanya sekali dalam setahun
menikmati hidangan daging.
Bagi yang belum mampu berkurban tahun ini, khatib
mengajak agar tidak berputus asa. Islam adalah agama yang penuh kemudahan. Satu
ekor kambing dapat diniatkan untuk satu keluarga, sementara seekor sapi dapat
menjadi ibadah bersama tujuh orang.
Di penghujung khutbah, doa-doa pun melangit untuk
kedua orang tua, keluarga, bangsa Indonesia, dan kaum muslimin di Palestina
serta seluruh penjuru dunia.
Pagi itu, di bawah langit mendung Denpasar dan gema
takbir yang terus berkumandang, umat Islam kembali diingatkan bahwa hidup bukan
sekadar tentang memiliki.
Tetapi tentang bagaimana seorang hamba
mempersembahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.
(RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



