Lansia Berdendang: Suara Hati yang Tak Pernah Menua
Lansia Berdendang: Suara Hati yang Tak Pernah Menua
Denpasar, 15 Juni 2025 – Siang belum benar-benar terik ketika panggung sederhana di Sekolah Pelangi Dharma Nusantara mendadak meriah oleh irama nostalgia. Ini bukan sembarang pertunjukan. Ini adalah sesi “Lansia Berdendang”, di mana para senior bukan hanya hadir sebagai penonton, tapi turun langsung sebagai bintang panggung.
Tanpa ragu, mereka menyanyi. Dengan suara serak-serak basah yang justru menyentuh, para lansia menyanyikan lagu-lagu kenangan, dari “Sepanjang Jalan Kenangan” hingga “Manis dan Sayang”.
Bukan Suara Emas, Tapi Jiwa yang Menyala
Di atas panggung, tak ada diva. Yang ada adalah semangat yang tidak lekang oleh waktu. Seorang Ibu lansia bahkan sempat bercanda:“
Maaf ya kalau fals, yang penting tulus!”
Dan hadirin tertawa — bukan karena suaranya lucu, tapi karena jujurnya kehidupan yang dibawakan lewat nyanyian. Suara mereka mungkin tak lagi sekuat dulu, tapi maknanya justru makin dalam.
Terapi Musik, Terapi Bahagia
Menurut panitia kegiatan, sesi “Lansia Berdendang” bukan sekadar hiburan, tapi juga bagian dari terapi kesehatan emosional. Musik dikenal luas sebagai cara untuk menstimulasi memori, suasana hati, dan bahkan memperkuat daya kognitif, terutama bagi lansia.“
Lansia yang menyanyi akan merangsang hormon kebahagiaan. Kita ingin mereka pulang tidak hanya bawa sembako, tapi juga bawa senyum,” ujar dr. Dian Ridhani dari Lantipda.
Berdendang Menyambung Hidup
Salah satu peserta, Bapak Made Sudarma, 75 tahun, menyanyikan lagu daerah Bali dengan penuh semangat. Tangannya bergetar sedikit, tapi matanya berbinar:“
Nyanyi itu seperti menyalakan hidup kembali. Saya jadi ingat istri saya dulu suka dengar saya nyanyi di dapur.”
Dan begitulah: musik membuka pintu kenangan, dan dari sanalah bahagia masuk kembali.
Sebuah Simfoni Usia Senja
Jika biasanya kita berbicara tentang konser dengan sound system raksasa dan artis nasional, maka “Lansia Berdendang” adalah panggung hati. Setiap nada yang terdengar bukan hanya lagu, tapi cerita panjang tentang perjuangan, cinta, dan ketangguhan.
Acara ini menutup sesi sebelum makan siang. Tapi siapa sangka, justru di momen-momen akhir inilah, banyak air mata tumpah — bukan karena sedih, tapi karena keharuan yang tidak bisa ditahan.(Chef RAYD)



