Detail Artikel

Lantip Bali Gelar Pertemuan Hangat di Joglo: Sinergi, Penghargaan, dan Harapan Baru

Lantip Bali Gelar Pertemuan Hangat di Joglo: Sinergi, Penghargaan, dan Harapan Baru

Denpasar, 5 September 2025 –

Joglo, Rumah Makan Teuku Umar Barat, Denpasar, sore itu bukan sekadar ruang makan. Ia menjelma menjadi forum kebersamaan ketika Lantip Bali menggelar agenda khusus yang sarat makna: penyerahan penghargaan kepada dr. Teguh dan Lantip Ida Bagus Purwasila, disertai diskusi inspiratif tentang arah perjuangan lansia tangguh di Bali.

Prolog: Lantip sebagai Rumah Kedua Lansia

Tepat pukul 17.30 WITA, acara dibuka oleh L. Imam. Dalam pengantar singkatnya, ia memaparkan gambaran umum Lantip: wadah yang merangkul lansia berusia 60 tahun ke atas untuk terus sehat, bahagia, dan berdaya. “Lantip bukan sekadar organisasi. Ia adalah rumah kedua, tempat kita menyemai kebersamaan sekaligus mempertegas jati diri,” ujarnya dengan tenang.

Identitas dan Filosofi Nama

Setelahnya, L. Henk, Ketua Lantipda Bali, menyampaikan pemikiran penting kepada dr. Teguh dan peserta. Ia menegaskan bahwa penggunaan istilah “Lantip” di depan nama setiap anggota bukanlah seremonial belaka, melainkan identitas kehormatan.

ia juga menjelaskan struktur keanggotaan: lansia berusia minimal 60 tahun berhak menjadi anggota penuh, sementara yang lebih muda bisa masuk sebagai anggota luar biasa – boleh belajar dan terlibat, tetapi belum memiliki hak memilih maupun dipilih dalam kepengurusan. “Dengan cara ini, kita menjaga nilai, sekaligus membuka ruang regenerasi,” tegasnya.

Diskusi Program: Dari HUT hingga Seminar

Diskusi berlanjut dengan agenda pembahasan HUT Lantip, termasuk penunjukan ketua panitia. Tak kalah penting, dibicarakan juga pengembangan produk-produk Lantip sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi kreatif lansia.

Dr. Teguh yang hadir bersama Ny., seorang senior pendamping, menyambut baik tawaran kerjasama. Ia menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi lansia, termasuk lewat seminar berbayar yang bermanfaat sekaligus menopang kemandirian organisasi.

“Saya melihat Lantip punya energi besar. Kita bisa bersinergi agar lansia tidak hanya sehat, tapi juga dihargai,” ungkap dr. Teguh yang sejak lama aktif membina komunitas lansia.

Apresiasi untuk dr. Teguh dan L. Purwasila

Acara kemudian mencapai puncaknya dengan penyerahan plakat penghargaan. Pertama, kepada dr. Teguh, sebagai bentuk terima kasih atas kesediaannya menjadi dokter pengganti yang memberikan pencerahan kesehatan pada perayaan HUT RI bersama Lantip.

Kedua, kepada L. Ida Bagus Purwasila, yang dinilai luar biasa dalam perannya sebagai MC di berbagai acara Lantip. Dengan gaya tenang, wibawa, dan penuh energi, ia mampu menjaga ritme acara sehingga selalu hidup dan berkesan.

Ramah Tamah di Joglo

Pertemuan ditutup dengan makan bersama dalam suasana hangat. Konsep self-service khas Joglo menghadirkan nuansa egaliter: semua peserta, mulai dari L. Imam, L. Henk, dr. Teguh, L. Yayuk, L. Purwasila, hingga Alit (Tu Aji), larut dalam canda tawa dan percakapan ringan. Hanya L. Saleh yang berhalangan hadir.

Di antara aroma kopi dan sajian Nusantara, terjalin rasa persaudaraan yang tulus. Tak sekadar jamuan makan, tetapi momentum mempertegas arah: bahwa Lantip Bali adalah gerakan lansia tangguh

yang terus berinovasi, bersinergi, dan menjadi teladan bagi generasi penerus.

 Catatan Redaksi

Pertemuan sederhana di Joglo ini membuktikan: lansia bukan hanya objek perhatian, melainkan subjek yang terus memberi arah. Dengan penghargaan, kerjasama, dan program nyata, Lantip Bali menegaskan diri sebagai organisasi yang bukan saja menghormati usia, tetapi juga merayakan kebijaksanaan.(RAYD) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'