Lantip Saleh: Suara yang Menenun Asa di Tengah Duk
Lantip Saleh: Suara yang Menenun Asa di Tengah Duka
Oleh Redaksi Suara Umat – Denpasar, Oktober 2025
Di tengah kesibukan dan riuh rendah kegiatan kemanusiaan, ada satu suara yang selalu mengiringi — lembut, tulus, namun penuh tenaga jiwa.
Suara itu milik H. Lantip Saleh, seorang pemusik, pelatih vokal, dan relawan yang tak pernah absen dari setiap gerak kebaikan Posko Bersama.
Dari Nada ke Nurani
Ia bukan sekadar musisi. Ia penyemai semangat.
Suara emasnya bukan hanya mengalun di ruang-ruang konser, tapi juga di tengah lumpur bencana, di bawah tenda darurat, di antara tumpukan bantuan dan wajah-wajah lelah para pengungsi.
Ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan untuk membuka acara Recovery Pascabencana di RM Bundo Kanduang, suaranya menggema, tegas namun lembut — seolah ingin mengingatkan, bahwa di tengah duka, cinta tanah air tetap harus dijaga.
Ia tak hanya memimpin lagu, tapi menyatukan hati mereka yang hadir.
Selepas itu, ia duduk di dekat anak-anak yang sedang mewarnai. Dengan organ tunggal kecilnya, ia memainkan lagu-lagu sederhana — tentang langit cerah, tentang bunga yang tumbuh kembali setelah hujan.
Nada-nada itu menenangkan hati, menghapus sisa trauma, membuat tawa anak-anak kembali mengembang.
Antara Musik, Ibadah, dan Pengabdian
Bagi H. Lantip Saleh, musik bukan hanya seni. Musik adalah ibadah yang bersuara.
Ia mengajarkan bahwa harmoni sejati bukan hanya berasal dari alat musik, tetapi dari jiwa yang ikhlas.
Di setiap kegiatan, baik milik ICMI, LANTIP, maupun Posko Bersama, beliau hadir tanpa diminta. Selalu ada di barisan depan — mengatur perlengkapan, membantu distribusi logistik, atau sekadar memastikan mic berfungsi dengan baik sebelum acara dimulai.
“Kalau musik bisa membuat orang tersenyum, itu sudah bagian dari sedekah,” ujarnya suatu ketika, sambil menepuk lembut keyboard yang sudah menemaninya bertahun-tahun.
Didampingi Cinta Sejati
Tak pernah sendiri.
Di setiap langkah, Hj. Titin, istrinya tercinta, selalu di sisi — menjadi rekan seperjalanan dalam suka dan duka kemanusiaan.
Keduanya seperti dua nada yang berpadu sempurna, menciptakan harmoni kehidupan yang menyentuh siapa saja yang mengenalnya.
Di Posko, Hj. Titin bergerak lincah membantu pendataan dan penataan perlengkapan. Sementara Lantip, dengan senyum ramahnya, menghibur para relawan yang lelah, mengalunkan lagu-lagu perjuangan saat jeda makan siang, bahkan memimpin doa penutup sebelum acara usai.
“Yang saya lakukan kecil saja,” katanya rendah hati.
“Tapi kalau semua orang melakukan hal kecil dengan hati, hasilnya bisa besar — seperti simfoni.”
Kakek Puluhan Cucu yang Tak Pernah Letih
Siapa sangka, di balik energinya yang luar biasa, H. Lantip Saleh adalah kakek dari puluhan cucu.
Namun semangatnya justru seperti anak muda — bergerak cepat, berpikir kreatif, dan tak pernah kehilangan selera humor.
Anak-anak di sekitar posko memanggilnya “Kakek Lantip”, tapi bagi mereka, ia lebih dari sekadar kakek. Ia teman, guru, sekaligus pelindung yang menyanyikan lagu di saat hujan turun, agar rasa takut tak lagi datang.
Nada Penutup yang Tak Pernah Usai
Ketika acara Recovery usai dan mikrofon dimatikan, H. Lantip masih duduk di sudut ruangan, memainkan lagu terakhir sore itu — lagu tanpa lirik, hanya alunan lembut yang mengantar relawan pulang dengan hati penuh syukur.
Bagi Posko Bersama, H. Lantip Saleh bukan hanya penghibur. Ia adalah penguat jiwa, yang dengan setiap nadanya, meneguhkan bahwa kemanusiaan bisa berirama indah — selama dimainkan dengan hati.
Suaranya mungkin berhenti saat senja turun,
tapi gema ketulusannya akan terus hidup,
menjadi simfoni kemanusiaan bagi Bali dan negeri ini.(RAYD)Donasi PT. Media Suara Umat. BSI 7326712967



