Majlis Taklim Yasmin: Mengurai Makna di Tengah Reruntuhan, Menemukan Cahaya dalam Ujian
Denpasar, 26 Oktober 2025
Majlis Taklim Yasmin: Mengurai Makna di Tengah Reruntuhan, Menemukan Cahaya dalam Ujian
Di bawah langit Denpasar yang lembut sore itu, Minggu 26 Oktober 2025, Majlis Taklim Yasmin kembali menyelenggarakan pengajian bulanannya—kali ini di kediaman Ibu Hj. Fatimah, yang dengan penuh ketulusan membuka pintu rumah dan hatinya untuk jamaah. Seperti biasa, kegiatan berlangsung penuh kehangatan dan kesejukan batin, namun ada nuansa yang berbeda: suasana duka dan renungan mendalam atas musibah runtuhnya sebuah pesantren yang menelan korban santri-santri kecil, syahid dalam belajar dan berjuang di jalan Allah.
Pra-acara dimulai dengan lantunan hadroh oleh keluarga besar Yasmin, menghadirkan harmoni lintas generasi—ibu-ibu, remaja, dan anak-anak yang bersatu dalam irama pujian kepada Rasulullah. Dentingan rebana berpadu dengan suara lembut yang menggetarkan ruang, menjadi pembuka yang menghidupkan suasana spiritual penuh cinta.
Acara resmi dibuka dengan tawasul dan pembacaan surat Al-Fatihah, dipimpin oleh pembawa acara, Ibu Astuti. Setelah itu, lantunan tilawah Al-Qur’an terdengar dari suara bening Ibu Rahma Jayadi, yang membacakan ayat-ayat dari surah Al-Baqarah 153–157—ayat tentang kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi cobaan. Setiap ayatnya mengalun lembut, menembus kalbu jamaah yang hening menyimak, seolah Allah sendiri sedang menenangkan jiwa-jiwa yang diuji.
Seluruh jamaah kemudian bersama-sama membaca surat Al-Mulk, mengiringinya dengan lantunan Asmaul Husna, menyebut satu per satu nama Allah yang indah, agar hati semakin tunduk dan tenang dalam dzikir.
Memasuki acara inti, tausiah disampaikan oleh Abah Al, salah satu keluarga besar Yasmin sekaligus suami dari salah seorang jamaah. Ceramahnya yang berjudul “Terjebak” menjadi pusat perhatian sore itu. Dengan tutur lembut namun penuh makna, beliau mengajak jamaah merenungkan tiga lapis keterjebakan dalam hidup manusia.
“Kadang kita terjebak dalam tubuh,” ucapnya lirih, “saat kita memuja raga, melupakan jiwa. Kita sibuk memperindah yang fana, namun lalai memperkaya yang abadi.”
Beliau melanjutkan, “Kita pun sering terjebak dalam pikiran—menjadi tawanan logika dan ambisi, hingga hati kehilangan arah menuju Tuhan.”
Dan akhirnya, katanya, “Kita terjebak dalam dunia—mencintai gemerlapnya, tanpa sadar sedang berjalan di atas debu yang sementara.”
Ceramah itu seakan menjadi cermin yang memantulkan kesadaran baru. Suara Abah Al bergetar ketika menyinggung tragedi pesantren yang rubuh. “Allah kadang merobohkan bangunan dunia agar kita membangun kembali iman yang lebih kokoh,” ujarnya. Kata-kata itu menembus relung jiwa, membuat banyak mata berkaca-kaca.
Setelah tausiah, hadirin diajak melantunkan Sholawat Haikal, dibacakan dengan suara jernih oleh Haikal, seorang anak kecil yang sempat menjadi simbol keteguhan—selamat setelah dua hari terjebak dalam reruntuhan. Suaranya yang polos membawa suasana hening menjadi haru, seolah menggambarkan bahwa dari reruntuhan sekalipun, cahaya kasih Allah masih bersinar.
Usai sholawat, doa bersama dipimpin oleh Hj. Fatimah, sang tuan rumah. Doanya mengalir tenang namun menghanyutkan; setiap kalimatnya mengundang air mata yang jatuh tanpa suara. Doa untuk para korban, untuk keluarga yang ditinggalkan, dan untuk kita semua agar tidak terjebak dalam kelalaian dunia.
Acara dilanjutkan dengan sambutan dari penasehat Majlis Taklim Yasmin, Ibu Hj. Sweti Bambang, yang memberikan wejangan penuh kasih dan semangat kebersamaan. “Majlis ini bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi rumah bagi jiwa-jiwa yang ingin terus tumbuh dalam cahaya,” ujarnya dengan senyum lembut.
Kemudian, Koordinator Lapangan Ibu Purgiati menyampaikan beberapa pengumuman penting, termasuk rencana kegiatan mendatang serta apresiasi bagi partisipasi jamaah dalam kegiatan sebelumnya. Beliau mengingatkan agar semangat ukhuwah terus dijaga, sebab majlis ini hidup karena kebersamaan, bukan sekadar karena jadwal.
Sebagai penutup, Ibu Astuti kembali memandu acara dengan doa dan ucapan terima kasih kepada seluruh jamaah, sebelum kegiatan ditutup dengan suasana ramah tamah yang penuh keakraban. Gelak tawa kecil berpadu dengan percakapan lembut, menjadi penyeimbang setelah air mata dan renungan yang mengisi sore penuh makna itu.
Pengajian Majlis Taklim Yasmin kali ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan ziarah batin—mengajak hati untuk menengok ke dalam, menafsirkan ulang makna “terjebak,” dan belajar bagaimana menemukan kebebasan sejati dalam iman. Dari reruntuhan pesantren, mereka belajar tentang kekuatan doa; dari hadroh yang mengalun, mereka belajar tentang harmoni; dan dari air mata yang jatuh, mereka menemukan kembali keteguhan untuk terus berjalan di jalan-Nya. . (RAYD)



