Detail Artikel

Malam Kesederhanaan Penuh Cahaya: Hikmah Isra Mi'raj di Tengah Hujan

Malam Kesederhanaan Penuh Cahaya: Hikmah Isra Mi'raj di Tengah Hujan

 

Hujan mengguyur sejak pagi tanpa jeda, seolah bumi enggan melepaskan limpahan rahmatnya. Senja mulai memudar, dan azan Maghrib menggema, memecah keheningan di perumahan Senapahan, Alas Kedaton Blok C76. Langit sudah gelap, jalanan yang naik turun semakin sulit dilalui, namun semangat untuk menghadiri peringatan Isra Mi'raj tetap menyala. Undangan di sebuah rumah tipe 45 yang sederhana namun penuh kehangatan menjadi saksi bisu perjalanan menuju hikmah malam itu.

 

Setelah Maghrib berjamaah, jamaah mulai memenuhi rumah yang beralih fungsi menjadi gedung serbaguna.   spanduk-spanduk dilapisi karpet menjadi alas duduk. Ruang sederhana itu tidak menyembunyikan kekhusyukan. Dalam suasana yang penuh harmoni, lantunan wirid dan tawasul mengalun panjang, mengantarkan doa kepada Ilahi dan rasa rindu kepada Rasulullah SAW. Setiap kata dan pujian terasa menembus ruang-ruang hati yang sering kali terlupa akan kebesaran-Nya.

 

Selepas Isya, hadroh dari Jamiyah Ahbabbur Rosul membuka acara dengan tabuhan rebana. Irama yang awalnya perlahan berubah menjadi harmoni yang menghentak jiwa. Bass berdentum, memberikan nada rendah yang menggema dalam hati, sementara tam-tam memukul dengan nada ritmis, seolah mengisi rongga paru-paru dengan udara segar. Suara simbal yang melengking halus menghempaskan segala pikiran negatif, mengubah kesuraman menjadi terang.

 

Lagu-lagu cinta kepada Rasulullah pun dilantunkan. Tiap syairnya menjadi pesan rindu yang menghanyutkan. Saraf-saraf dalam tubuh seakan bergetar, bahkan saraf yang mati pun seolah bangkit kembali. Irama hadroh ini bukan sekadar musik; ia adalah obat jiwa. Bass seolah merontokkan kotoran hati, tam-tam mengalirkan kesegaran baru, sementara vokal para pelantun menggetarkan seluruh jiwa, meluruhkan segala beban dunia.

 

Puncak acara tiba ketika Ustadz Abdul Malik, ketua Pesantren Militer Tabanan, menyampaikan tausiah. Dengan pembawaan yang tegas namun penuh kelembutan, beliau membahas inti dari Isra Mi'raj: sholat yang khusyuk. "Sholat bukan hanya gerakan tubuh," katanya. "Sholat adalah perjalanan spiritual. Ia adalah jembatan yang membawa kita mendekat kepada Allah, menyejukkan hati, dan memberikan arah hidup yang benar." Kata-katanya menembus hati setiap pendengar, mengingatkan akan pentingnya menghadirkan Allah dalam setiap sujud.

 

Acara diakhiri dengan doa yang begitu menyentuh, seolah merobek lapisan jiwa yang selama ini keras. Air mata para jamaah mengalir, membersihkan pandangan dari debu-debu dosa, memberikan kelegaan yang sulit dilukiskan. Doa itu membawa harapan baru, semangat baru, dan keteguhan untuk kembali pada ketaatan.

 

Sebagai penutup, lagu penuh semangat Syubbanul Wathon dikumandangkan. Suara jamaah bergemuruh, membakar semangat kebersamaan, cinta tanah air, dan persatuan. Malam itu ditutup dengan rasa syukur yang tak terhingga.

 

Kesederhanaan yang ada bukanlah kekurangan, melainkan bukti bahwa kebahagiaan sejati tidak memerlukan kemewahan. Malam itu memberikan pelajaran bahwa cinta kepada Rasulullah, pengamalan sholat yang khusyuk, dan rasa syukur mampu menjadi penawar bagi segala resah dan gelisah.

 

Maka, jadilah seperti malam itu: sederhana namun penuh makna, menjadi cahaya di tengah gelap, menjadi inspirasi bagi siapa saja yang mendambakan ketenangan hati.(Raden-Rahma)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'