Detail Artikel

Mars 4 Mei dan Semangat Membela Islam: Sambutan Inspiratif Gunawan, Ketua KB PII

Mars 4 Mei dan Semangat Membela Islam: Sambutan Inspiratif Gunawan, Ketua KB PII Bali

Singaraja, 4 Mei 2025 –
Di tengah semarak Hari Bangkit ke-78 PII Wilayah Bali, suasana mendadak hening penuh khidmat saat Gunawan, S.Pd., Ketua Keluarga Besar PII Bali, naik ke atas panggung. Tapi ia tidak langsung berbicara. Ia menyanyikan satu bait terakhir dari Mars 4 Mei, dengan suara lantang dan getaran emosional:

"Bergerak membela Islam, rela berkorban untuk umat dan bangsa..."

Bait itu bukan sekadar lirik, melainkan napas perjuangan yang ia tanamkan kepada seluruh kader muda di hadapannya. Dengan nada tegas namun teduh, Gunawan mengawali sambutannya dengan rasa salut dan kebanggaan yang mendalam atas suksesnya kegiatan ini—bukan sekadar sukses secara teknis, tetapi penuh nilai dan idealisme.

“Saya sangat kagum. Kegiatan ini bukan hanya terselenggara dengan baik, tapi dilaksanakan oleh anak-anak SMP dan SMA—kader-kader PII yang sedang ditempa. Ini bukan kerja main-main. Ini adalah kerja perjuangan.”

Nostalgia: Dari Dapur Latihan ke Arena Perlawanan

Sebelum membahas tema acara, Gunawan mengajak peserta untuk bernostalgia ke masa latihannya dulu—saat PII belum seakrab sekarang dengan publik.

“Kami dulu latihan dengan nasi gosong, setengah matang, lauknya pindang seadanya. Tapi yang paling diingat itu: kami tidur sambil kucing-kucingan dengan aparat. Karena saat itu, PII dianggap lawan oleh penguasa awal Orde Baru.”

Momen-momen seperti itu, menurutnya, justru membentuk karakter dan militansi kader PII zaman dulu. Dan sekarang, meski zaman telah berubah, tantangan tetap ada. Hanya bentuknya saja yang berbeda.

Mengupas Tema: Misi Dakwah dalam Tiga Poros Dunia

Gunawan kemudian membedah tema acara dengan pemahaman geopolitik dan kebijakan yang mendalam. Ia mengangkat tiga poros kekuatan dunia yang kini menjadi strategi global:

  1. “If You Can Control Food, You Can Control People”
    Ia mengaitkan prinsip ini dengan ketahanan pangan. Gunawan mengajak para pelajar tidak sekadar memahami pentingnya makan sehat, tapi juga mandiri secara pangan.
    “Ketahanan pangan itu bukan urusan petani saja. Ini bagian dari jihad modern. Karena umat yang lapar, mudah ditaklukkan,” ujarnya.

  2. “If You Can Control Energy, You Can Control Country”
    Dalam hal energi, ia menekankan pentingnya kemandirian energi berbasis hijau dan terbarukan. Hilirisasi industri energi bukan hanya program negara, tapi peluang dakwah bagi pelajar untuk paham sains dan kontribusi nyata bagi keberlanjutan.
    “Pelajar harus bisa bicara panel surya, biomassa, dan inovasi energi. Inilah bentuk jihad ilmiah di era modern,” tegasnya.

  3. “If You Can Control Networking, You Can Control Anywhere”
    Di era digital, jaringan bukan sekadar akses internet, tapi jalur pengaruh dan penyebaran nilai. Gunawan mendorong kader PII menguasai teknologi, membangun komunitas cerdas, dan menyebarkan nilai Islam melalui digitalisasi dakwah dan edukasi.
    “Media sosial bukan untuk scroll candaan tak bermanfaat. Jadikan ia alat untuk memimpin opini dan peradaban,” ucapnya lantang.

Penutup: PII Sebagai Kompas Umat

Gunawan menutup dengan ajakan reflektif: agar kader PII tak hanya menjadi pelajar biasa, tapi pelajar berjiwa besar dan berpikiran global. Ia ingin agar dari Buleleng, muncul generasi yang siap menjadi pemimpin perubahan, bukan hanya penonton sejarah.

“Kalau dulu kami berjuang dengan bersembunyi, sekarang kalian harus berjuang dengan menunjukkan jati diri. Pelajar Islam bukan hanya bisa berpikir, tapi juga bergerak.”


Dan hari itu, Mars 4 Mei bukan hanya dinyanyikan. Ia dihidupkan.
Lewat semangat, visi, dan aksi nyata. Di tangan pelajar PII, masa depan tak sekadar ditunggu. Tapi dijemput—dengan penuh cita rasa perjuangan.

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'