Maulid Nabi 1448 H di Masjid Al-Ansor Sanur: Menumbuhkan Potensi Anak dengan Cinta dan Keteladanan
Maulid Nabi 1448 H di Masjid
Al-Ansor Sanur: Menumbuhkan Potensi Anak dengan Cinta dan Keteladanan
Yayasan Tawakkal Hadirkan Ustadz
Hadi Rosyadi sebagai Pengisi Tausiah
DENPASAR, SuaraUmat.id — Suasana religius dan
keakraban menyelimuti Masjid Al-Ansor, Sanur, Denpasar, Sabtu, 12
September 2026, dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448
H/2026 M yang diselenggarakan Yayasan Tawakkal.
Mengusung tema “Menumbuhkan Potensi Anak dengan
Pendekatan Cinta, Keteladanan, dan Komunikasi Positif ‘Ala Nabi”, kegiatan
tersebut menjadi momentum untuk kembali menggali keteladanan Rasulullah SAW
dalam membangun generasi yang berakhlak, percaya diri, dan memiliki kepedulian
terhadap sesama.
Rangkaian acara diawali dengan salam dan puji
syukur kepada Allah SWT serta selawat dan salam kepada junjungan Nabi Muhammad
SAW.
Ustadz Hadi Rosyadi, S.Sy., M.Ag. hadir sebagai pengisi tausiah
dalam kegiatan tersebut.
Kehadiran tausiah menjadi bagian penting dari
peringatan Maulid. Sebab, mengenang Rasulullah SAW bukan sekadar menghadirkan
kembali sebuah peristiwa sejarah, melainkan menghidupkan kembali nilai-nilai
kenabian dalam kehidupan sehari-hari.
Cinta sebagai Jalan Pendidikan
Tema yang diangkat Yayasan Tawakkal memiliki makna
yang kuat di tengah tantangan pendidikan anak dewasa ini.
Anak bukan sekadar objek yang harus menerima
perintah dan aturan. Mereka adalah pribadi yang sedang bertumbuh, membutuhkan
ruang untuk didengar, dipahami, diarahkan, sekaligus diberi teladan.
Dalam konteks itulah pendekatan cinta,
keteladanan, dan komunikasi positif menemukan relevansinya.
Rasulullah Muhammad SAW memberikan teladan
bagaimana manusia dibimbing dengan kelembutan tanpa kehilangan ketegasan.
Beliau menunjukkan bahwa komunikasi yang baik bukan hanya tentang bagaimana
berbicara, tetapi juga tentang bagaimana mendengar, memahami keadaan orang
lain, dan menempatkan manusia dengan penuh penghormatan.
Nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting ketika
diterapkan dalam pendidikan anak.
Sebab, seorang anak sering kali belajar bukan dari
apa yang diperintahkan kepadanya, melainkan dari apa yang ia lihat setiap hari.
Ketika orang dewasa memberikan keteladanan dalam
kesabaran, anak belajar tentang kesabaran. Ketika ia dibiasakan berbicara
dengan santun, ia belajar menghargai orang lain. Dan ketika ia dibesarkan dalam
suasana penuh kasih sayang, ia memiliki fondasi emosional untuk tumbuh menjadi
pribadi yang mampu memberikan kasih kepada lingkungannya.
Maulid sebagai Ruang Muhasabah
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga menjadi
ruang untuk melakukan muhasabah.
Di tengah kehidupan yang semakin cepat, komunikasi
manusia sering kali menjadi pendek dan tergesa-gesa. Teknologi membuat manusia
semakin mudah terhubung, tetapi tidak selalu semakin dekat secara emosional.
Karena itu, keteladanan Rasulullah SAW menjadi
relevan untuk terus dihadirkan.
Maulid mengajak umat untuk tidak berhenti pada
perayaan, tetapi melanjutkannya dalam bentuk perubahan perilaku.
Cinta kepada Rasulullah harus menemukan bentuknya
dalam akhlak.
Ia hadir dalam cara orang tua berbicara kepada
anak, cara guru mendidik peserta didik, cara seorang pemimpin memperlakukan
bawahannya, dan cara seorang Muslim memperlakukan sesamanya.
Dengan demikian, Maulid bukan sekadar mengenang
kelahiran Nabi, melainkan momentum untuk memperbarui komitmen mengikuti jalan
hidup yang beliau teladankan.
Mempererat Silaturahmi dan
Kepedulian
Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al-Ansor Sanur
tersebut juga menjadi ruang silaturahmi bagi keluarga besar Yayasan Tawakkal,
para kepala sekolah, guru, jamaah majelis ta'lim, serta masyarakat yang hadir.
Dalam rangkaian kegiatan, panitia turut
menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah
memberikan dukungan terhadap terselenggaranya acara.
Dukungan tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan
keumatan selalu bertumpu pada semangat gotong royong.
Ada mereka yang hadir sebagai panitia, ada yang
memberikan dukungan, ada yang menyumbangkan tenaga dan pikiran, dan ada pula
yang datang sebagai jamaah. Semuanya bertemu dalam satu semangat: merawat
kecintaan kepada Rasulullah SAW dan memperkuat ukhuwah.
Suasana kebersamaan juga terasa dalam rangkaian
acara yang diselingi apresiasi serta pemberian hadiah kepada jamaah.
Kehangatan semacam itu menjadi bagian dari wajah
Islam yang ramah—agama yang mengajarkan bahwa kebahagiaan dapat dibagikan dan
kebaikan akan selalu menemukan jalannya ketika dikerjakan bersama.
Dari Masjid, Menyalakan Cahaya
di Rumah dan Sekolah
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H yang
digelar Yayasan Tawakkal pada akhirnya membawa pesan yang sederhana, tetapi
mendalam.
Anak-anak membutuhkan cinta. Mereka membutuhkan
teladan. Dan mereka membutuhkan komunikasi yang membuat mereka merasa dihargai
sebagai manusia.
Dari masjid, pesan itu diharapkan tidak berhenti
sebagai nasihat.
Ia perlu dibawa pulang ke rumah.
Dibawa ke ruang kelas.
Dibawa ke lingkungan kerja.
Dan dihidupkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebab, generasi yang berakhlak tidak lahir hanya
dari banyaknya nasihat, tetapi dari lingkungan yang konsisten memberikan
contoh.
Dan Rasulullah SAW telah meninggalkan teladan itu
jauh sebelum zaman kita mengenal istilah pendidikan karakter, komunikasi
positif, maupun parenting.
Maka memperingati Maulid sejatinya adalah
menghidupkan kembali teladan itu—agar cahaya akhlak Rasulullah tidak hanya
dikenang dalam lantunan selawat, tetapi juga tampak dalam cara kita mendidik,
berbicara, mencintai, dan memperlakukan sesama.
SuaraUmat.id
Menjaga Suara Umat, Merawat Akhlak, Menguatkan Peradaban.
Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



