Detail Artikel

Maulid Nabi: Merayakan Kelahiran, Menghidupkan Keteladanan

Maulid Nabi: Merayakan Kelahiran, Menghidupkan Keteladanan

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan semata-mata tentang sebuah tanggal, keramaian, atau seremoni. Ia seharusnya menjadi momentum untuk kembali mengenal Rasulullah, mencintainya, dan menghidupkan ajarannya dalam kehidupan.

Demikian salah satu pokok penjelasan Ustaz Adi Hidayat dalam ceramahnya mengenai Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, sebelum terburu-buru menghukumi sebuah perkara, umat Islam perlu terlebih dahulu memahami apa yang sedang dibicarakan. Dalam tradisi keilmuan Islam, langkah ini dikenal dengan ta'rif—mendefinisikan sesuatu secara tepat sebelum menarik kesimpulan hukum.

Sebab, menurut dia, kesalahan mendefinisikan objek pembahasan dapat membuat kesimpulan hukum meleset sejak awal.

Memahami Apa Itu Maulid

Ustaz Adi Hidayat mengajak jamaah membedakan istilah maulid dan maulud.

Secara bahasa, maulid merujuk pada waktu atau tempat kelahiran. Sementara maulud merujuk kepada sesuatu atau seseorang yang dilahirkan. Dalam konteks Nabi Muhammad SAW, maulid Nabi berarti waktu kelahiran Nabi, sedangkan maulud Nabi merujuk kepada Nabi Muhammad sebagai sosok yang dilahirkan.

Dari sini, ia mengingatkan bahwa pertanyaan “apa hukum maulid?” perlu diperjelas terlebih dahulu.

Kelahiran seseorang pada dirinya sendiri bukanlah sebuah perbuatan yang dapat diberi hukum halal, haram, sunnah, atau makruh. Yang menjadi objek hukum adalah bagaimana manusia menyikapi dan melakukan sesuatu berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Ia memberi gambaran sederhana. Sebuah gelas, misalnya, tidak dengan sendirinya memiliki hukum haram atau sunnah. Hukum dapat muncul berdasarkan penggunaannya. Gelas yang digunakan untuk minum air berada dalam konteks yang berbeda dengan gelas yang digunakan untuk melakukan tindakan terlarang.

Demikian pula sebuah waktu atau momentum. Yang perlu dinilai bukan semata-mata keberadaan waktunya, melainkan perbuatan yang dilakukan di dalamnya.

Nabi Muhammad, Kabar Gembira yang Dinantikan

Dalam ceramahnya, Ustaz Adi Hidayat kemudian membawa pembahasan kepada posisi Nabi Muhammad SAW dalam sejarah kenabian.

Ia mengaitkannya dengan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 129 tentang doa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS agar Allah mengutus seorang rasul dari kalangan mereka.

Doa itu, dalam penjelasannya, menjadi bagian dari rangkaian panjang sejarah yang akhirnya bermuara pada kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Ia juga mengutip Surah Ash-Shaff ayat 6, ketika Nabi Isa AS memberikan kabar gembira tentang kedatangan seorang rasul setelahnya yang bernama Ahmad.

Pesan yang ingin ditekankan adalah bahwa kedatangan Nabi Muhammad SAW bukan peristiwa yang berdiri sendiri dalam sejarah. Ia merupakan bagian dari rangkaian risalah para nabi yang saling berkesinambungan.

Karena itu, menurut Ustaz Adi Hidayat, kegembiraan atas kedatangan Rasulullah bukan sesuatu yang asing dalam tradisi kenabian.

Nabi Isa AS, dalam ayat tersebut, justru menyampaikan kabar gembira kepada kaumnya mengenai datangnya Rasul setelah dirinya. Maka, ketika umat Islam kemudian bergembira karena telah menjadi umat Nabi Muhammad SAW, kegembiraan itu semestinya tidak berhenti pada emosi sesaat.

Kegembiraan kepada Rasulullah harus menemukan bentuknya dalam kecintaan, pengenalan, pengamalan sunnah, dan kesediaan mengikuti akhlaknya.

Bagaimana Nabi Menyikapi Hari Kelahirannya?

Salah satu dalil penting yang dibahas Ustaz Adi Hidayat adalah hadis mengenai puasa Nabi Muhammad SAW pada hari Senin.

Ketika ditanya mengenai puasanya pada hari tersebut, Nabi menjelaskan bahwa hari Senin adalah hari beliau dilahirkan dan hari ketika wahyu diturunkan kepadanya.

Dari sini, Ustaz Adi Hidayat menekankan bahwa Nabi Muhammad SAW sendiri mengaitkan hari kelahirannya dengan sebuah bentuk ibadah: puasa.

Karena itu, menurutnya, jika seseorang ingin menjadikan momentum kelahiran sebagai kesempatan meningkatkan ibadah, maka nilai yang paling penting justru bukan kemeriahannya.

Melainkan refleksi.

Sudah sejauh mana seseorang mengikuti Rasulullah? Berapa banyak sunnah yang telah dihidupkan? Berapa banyak maksiat yang telah ditinggalkan?

Sebab puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia juga melatih manusia memperbanyak ketaatan sekaligus menahan diri dari perbuatan tercela.

Maka, momentum kelahiran Nabi seharusnya menjadi momentum untuk “mengoreksi diri”: apakah kecintaan kepada Nabi sudah terlihat dalam perilaku sehari-hari?

Maulid Bukan Sekadar Keramaian

Di titik ini, ceramah Ustaz Adi Hidayat mengambil arah yang lebih substantif.

Ia mengkritik pemahaman tentang Maulid yang berhenti pada seremoni, makanan, atau kemeriahan acara.

Menurutnya, jika momentum Maulid digunakan untuk mengajarkan sirah Nabi, membaca dan memahami Al-Qur'an, menyampaikan hadis, memperbanyak shalawat, serta mengajak umat meneladani akhlak Rasulullah, maka yang perlu diperhatikan adalah isi kegiatan tersebut.

Maulid bukan tentang seberapa ramai acaranya, melainkan seberapa jauh momentum itu mengembalikan manusia kepada Rasulullah.

Sebab mengenang Nabi tidak seharusnya hanya berlangsung pada Rabiul Awal. Kecintaan kepada Rasulullah tidak mengenal musim.

Sirah Nabi bisa dipelajari sepanjang tahun. Shalawat dapat dilantunkan setiap waktu. Sunnah dapat diamalkan setiap hari. Akhlak Nabi dapat diteladani dalam setiap keadaan.

Dengan demikian, peringatan Maulid dapat dipandang sebagai salah satu momentum untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif umat kepada Rasulullah.

Antara Momentum dan Isi

Ustaz Adi Hidayat juga mengingatkan agar umat tidak gegabah menggunakan istilah bid'ah.

Menurutnya, jika setiap sesuatu yang tidak dilakukan secara persis pada zaman Nabi langsung dihukumi sebagai bid'ah, maka persoalannya akan menjadi sangat luas. Pengajaran Islam dalam format tertentu, lembaga pendidikan, pencetakan mushaf, hingga berbagai bentuk sarana dakwah modern memiliki bentuk yang tidak semuanya hadir secara persis pada masa Rasulullah.

Karena itu, yang harus dilihat adalah substansi perbuatannya, bukan semata-mata bentuk atau momentum yang digunakan.

Jika sebuah kegiatan Maulid diisi dengan hal-hal yang bertentangan dengan syariat, tentu persoalannya berbeda. Misalnya, jika acara dijadikan sarana untuk kemaksiatan, pemborosan, atau tujuan-tujuan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Sebaliknya, jika sebuah momentum digunakan untuk mengajarkan sirah, memperdalam ilmu agama, membaca shalawat, mengingat akhlak Nabi, dan mengajak umat mengamalkan sunnah, maka yang harus dilihat adalah nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan tersebut.

Dengan kata lain, bukan nama acaranya yang otomatis menentukan hukum, tetapi apa yang dilakukan di dalamnya.

Nabi sebagai Teladan, Bukan Sekadar Tokoh yang Dipuji

Ustaz Adi Hidayat kemudian mengingatkan Surah Al-Ahzab ayat 21: pada diri Rasulullah terdapat uswah hasanah—teladan yang baik bagi orang-orang yang mengharap Allah dan hari akhir.

Ayat ini penting karena menggeser kecintaan kepada Nabi dari sekadar kekaguman menuju keteladanan.

Mencintai Nabi berarti belajar bagaimana beliau beribadah.

Bagaimana beliau memperlakukan keluarga.

Bagaimana beliau menghadapi orang yang berbeda.

Bagaimana beliau memperlakukan hewan.

Bagaimana beliau menjaga lingkungan.

Bagaimana beliau bersikap dalam perang.

Bagaimana beliau memaafkan.

Bagaimana beliau menjalankan amanah.

Rasulullah tidak cukup hanya dikenang. Ia harus diteladani.

Maka, bila Maulid membuat seseorang semakin mengenal Nabi tetapi tidak membuat akhlaknya berubah, ada sesuatu yang perlu direnungkan kembali.

Sebaliknya, jika momentum itu membuat seseorang lebih rajin bershalawat, lebih tekun beribadah, lebih lembut kepada sesama, lebih menjaga lisan, dan lebih sungguh-sungguh mengikuti sunnah, maka di situlah nilai Maulid menemukan makna yang lebih dalam.

Kegembiraan yang Berujung pada Perubahan

Al-Qur'an juga menyebutkan dalam Surah Yunus ayat 57–58 tentang karunia dan rahmat Allah yang semestinya membuat manusia bergembira.

Dalam konteks kecintaan kepada Rasulullah, kegembiraan tidak berhenti sebagai perasaan.

Ia harus bergerak menjadi amal.

Kegembiraan yang paling bernilai bukanlah kegembiraan yang selesai ketika acara bubar, melainkan kegembiraan yang meninggalkan perubahan setelahnya.

Setelah Maulid selesai, apakah kita menjadi lebih dekat dengan Al-Qur'an?

Apakah shalat kita semakin baik?

Apakah shalawat semakin hidup di lisan?

Apakah kita mulai membaca sirah Nabi?

Apakah akhlak kita kepada orang tua, pasangan, anak, tetangga, dan masyarakat semakin baik?

Jika jawabannya ya, maka momentum itu telah melahirkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar keramaian.

Jangan Jadikan Maulid Sebagai Sekadar Tradisi

Pada akhirnya, perdebatan mengenai Maulid semestinya tidak membuat umat kehilangan substansi yang lebih besar: siapa sebenarnya Muhammad SAW bagi kehidupan seorang Muslim?

Ia adalah Rasul terakhir.

Ia adalah pembawa risalah.

Ia adalah teladan.

Ia adalah manusia yang mengajarkan bagaimana seorang hamba berhubungan dengan Allah sekaligus bagaimana manusia memperlakukan sesamanya.

Karena itu, perbedaan pandangan mengenai bentuk peringatan Maulid hendaknya tidak berubah menjadi alasan untuk saling mencela dan meniadakan.

Yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap bentuk kegiatan yang mengatasnamakan kecintaan kepada Nabi tetap berada dalam koridor syariat dan tidak diisi dengan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Jika Maulid menjadi pintu untuk mengenal Rasulullah, maka jangan berhenti di pintunya. Masuklah ke dalam kehidupan beliau: pelajari sirahnya, pahami sunnahnya, dan teladani akhlaknya.

Sebab pada akhirnya, ukuran kecintaan kepada Nabi bukan hanya seberapa sering nama beliau disebut, tetapi seberapa jauh jejak beliau terlihat dalam kehidupan kita.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam Maulid: bukan sekadar memperingati kelahiran seorang manusia mulia, melainkan menghidupkan kembali risalahnya dalam diri umat yang mengaku mencintainya.(RAYD)

 Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'