Detail Artikel

Maya Suhasni Siregar: FAHMI UMMI Bali Harus Hadir dengan Kerja Nyata

Maya Suhasni Siregar: FAHMI UMMI Bali Harus Hadir dengan Kerja Nyata

Plt. Ketua Umum PP FAHMI UMMI: Perempuan Harus Menguatkan Keluarga, Memberdayakan Ekonomi, dan Menjadi Mitra Strategis Pemerintah

BADUNG, Suara Umat.id — Pelantikan Pengurus Wilayah FAHMI UMMI Provinsi Bali bukan sekadar pergantian atau pengukuhan struktur organisasi. Bagi Plt. Ketua Umum PP FAHMI UMMI, Hj. Maya Suhasni Siregar, S.E., momentum tersebut harus menjadi titik awal lahirnya kerja nyata perempuan muslimah untuk keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Pesan itu disampaikan Maya dalam sambutannya pada Pelantikan Pengurus Wilayah FAHMI UMMI Provinsi Bali dan Pengukuhan Pengurus Daerah FAHMI UMMI Kabupaten/Kota se-Bali, di Ruang Sidang Utama Gosana, Kantor DPRD Kabupaten Badung, Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung, Sempidi, Mengwi, Badung, Rabu, 23 September 2026.

Di hadapan jajaran Kementerian Agama, pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi perempuan, serta keluarga besar FAHMI UMMI, Maya menyebut pelantikan tersebut sebagai momentum bersejarah bagi kehadiran FAHMI UMMI di Bali.

Namun, menurut dia, jabatan organisasi bukan sekadar status.

Amanah yang diletakkan di pundak para pengurus merupakan tanggung jawab yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Karena itu, ia mengajak seluruh pengurus FAHMI UMMI bekerja dengan keikhlasan, mengedepankan kebersamaan, serta menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab.

Dari Diri, Keluarga, hingga Bangsa

Maya menempatkan penguatan pribadi dan keluarga sebagai titik awal gerakan FAHMI UMMI.

Ia meminta organisasi menjadi wadah bagi para anggotanya untuk membangun diri, mengembangkan potensi, dan memperkuat keluarga sebelum memberikan dampak yang lebih luas kepada lingkungan.

“Bangun diri sendiri dahulu, mengembangkan potensi diri terlebih dahulu, dan menguatkan keluarga,” demikian inti pesan Maya dalam sambutannya.

Dari keluarga yang kuat, menurut kerangka yang disampaikannya, perempuan kemudian dapat memberikan dampak positif kepada lingkungan dan pada akhirnya berkontribusi bagi bangsa.

Cara pandang tersebut menempatkan keluarga bukan sebagai ruang privat semata, melainkan sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun masyarakat.

Bali dan Misi Merawat Kerukunan

Maya secara khusus menyoroti karakter Bali sebagai daerah yang dikenal karena kekayaan alam, budaya, sekaligus kehidupan masyarakat yang memiliki tradisi toleransi.

Dalam konteks itu, keberadaan FAHMI UMMI di Bali, menurutnya, memiliki tantangan sekaligus tanggung jawab tersendiri.

Ia meminta para pengurus menjadikan organisasi sebagai perekat sosial dan simbol keharmonisan, sekaligus mengambil bagian dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah—persaudaraan sesama anak bangsa.

Muslimah FAHMI UMMI, katanya, harus mampu tampil anggun, toleran, menghormati kearifan lokal, serta siap hidup berdampingan dalam membangun Bali yang damai.

Pesan tersebut sejalan dengan tema pelantikan yang mengangkat “Peran Perempuan Merajut Kerukunan Umat Beragama di Bali.”

Dengan demikian, organisasi perempuan tidak ditempatkan hanya dalam ruang internal umat, tetapi juga dalam ruang sosial yang lebih luas.

FAHMI UMMI dan Politik: Tidak Menjadi Bagian Partai Politik

Dalam sambutannya, Maya juga menjelaskan posisi organisasi.

Ia menyebut FAHMI UMMI sebagai organisasi perempuan yang berlandaskan Pancasila, dengan tujuan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa sekaligus ukhuwah Islamiyah.

FAHMI UMMI, menurut penjelasannya, juga diarahkan untuk mendorong terbentuknya masyarakat madani yang menjunjung prinsip kebenaran, keadilan, dan kejujuran dalam berbagai bidang kehidupan.

Di sisi lain, ia menegaskan bahwa FAHMI UMMI bersifat mandiri dan tidak menjadi bagian dari organisasi lain maupun kekuatan sosial-politik atau partai politik tertentu.

Penegasan ini penting dalam menjelaskan posisi organisasi di tengah keberagaman latar belakang anggotanya.

Lintas Organisasi, Tanpa Harus Meninggalkan Organisasi Asal

Salah satu karakter FAHMI UMMI yang ditekankan Maya adalah keterbukaan keanggotaan.

Ia menyampaikan bahwa perempuan yang bergabung dengan FAHMI UMMI tidak harus meninggalkan organisasi asalnya.

Dalam sambutannya, ia menyebut perempuan yang berasal dari berbagai organisasi seperti Muhammadiyah, Al Washliyah, Persis, BKMT dan organisasi lainnya tetap dapat mempertahankan keanggotaan di organisasi masing-masing sekaligus bergabung di FAHMI UMMI.

Dengan pola tersebut, FAHMI UMMI dirancang sebagai ruang perjumpaan dan kolaborasi perempuan dari berbagai latar belakang.

Bukan menyeragamkan organisasi asal, tetapi mempertemukan potensi yang berbeda dalam kerja bersama.

Dakwah Melalui Politik, Hukum, Ekonomi dan Pendidikan

Maya juga menjelaskan bahwa FAHMI UMMI tidak menempatkan dakwah sebagai satu bidang yang berdiri sendiri.

Dakwah, menurutnya, dapat dijalankan melalui berbagai bidang kehidupan.

Kesadaran politik menjadi bagian dari dakwah. Kesadaran hukum menjadi bagian dari dakwah. Begitu pula ekonomi, pendidikan dan pelatihan, kelembagaan serta kemasyarakatan.

Dengan pendekatan itu, Maya berharap para anggota FAHMI UMMI tidak hanya memahami nilai keagamaan secara normatif, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menerjemahkannya dalam kerja nyata.

Tujuannya adalah menghadirkan manfaat bagi agama, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Tiga Agenda untuk FAHMI UMMI Bali

Setelah pelantikan, Maya meminta pengurus segera menyusun program kerja yang konkret dan memiliki dampak bagi masyarakat Bali.

Ia menyampaikan sedikitnya tiga bidang yang perlu mendapat perhatian.

Pertama, penguatan ketahanan keluarga.

FAHMI UMMI diminta membina para perempuan agar mampu menjadi bagian penting dalam pembentukan generasi muda Bali yang berakhlak, cerdas dan memiliki toleransi tinggi.

Keluarga ditempatkan sebagai ruang pertama pembentukan karakter anak.

Kedua, pemberdayaan ekonomi dan UMKM.

Maya melihat Bali memiliki potensi besar dalam industri kreatif, antara lain kuliner, kerajinan dan sektor pariwisata.

Potensi tersebut, menurutnya, perlu ditangkap melalui pengembangan ekonomi syariah dan kolaborasi dengan UMKM lokal.

Salah satu tujuan yang ditekankan adalah mendorong perempuan agar memiliki kemandirian finansial.

Ketiga, membangun kemitraan strategis dengan pemerintah.

Maya meminta pengurus FAHMI UMMI Bali segera melakukan konsolidasi dan membangun sinergi dengan pemerintah daerah.

Kemitraan tersebut diarahkan agar berbagai program pemberdayaan perempuan dapat berjalan dan menjangkau masyarakat secara tepat.

Dari Pelantikan Menuju Kerja

Di penghujung sambutannya, Maya menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh jajaran Pengurus Wilayah FAHMI UMMI Bali yang baru dilantik.

Ia mengajak seluruh pengurus melangkah bersama untuk kemaslahatan umat.

Pesannya kemudian ditutup dengan ungkapan penyemangat yang disambut para “Ummi” yang hadir:

“FAHMI UMMI, Man Jadda Wajada!”

Seruan itu bukan sekadar penutup suasana pelantikan. Ia menjadi penanda bahwa setelah struktur dikukuhkan, pekerjaan organisasi justru baru dimulai.

Di Bali, FAHMI UMMI membawa agenda yang cukup luas: menguatkan keluarga, memberdayakan perempuan, mengembangkan ekonomi, membangun kapasitas, dan merawat kerukunan.

Semua itu bermuara pada satu pertanyaan yang lebih substantif setelah pelantikan: seberapa jauh amanah organisasi dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata yang dirasakan masyarakat? (RAYD)

 Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'