Meneguhkan Ilmu di Tengah Perbedaan: Tausiyah Ustaz Drs. Muhammad Barhiman, M.Pd. dalam Halalbihalal Muhammadiyah Denpasar
Meneguhkan Ilmu di Tengah Perbedaan: Tausiyah Ustaz Drs. Muhammad Barhiman, M.Pd. dalam Halalbihalal Muhammadiyah Denpasar
Denpasar, 11 April 2026 / 23 Syawal 1447 H — Suasana khidmat menyelimuti rangkaian Halalbihalal Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kota Denpasar bersama Guru dan Karyawan Muhammadiyah se-Kota Denpasar saat memasuki sesi inti: penyampaian tausiyah oleh Ustaz Drs. Muhammad Barhiman, M.Pd.
Di Mushola Faqih Hasan, lantunan shalawat dan pengantar singkat membuka ruang refleksi yang lebih dalam. Para jamaah yang sejak pagi memenuhi ruangan, kini larut dalam keheningan ilmiah—menyimak pemaparan yang tidak hanya menyentuh aspek ibadah, tetapi juga cara berpikir umat dalam menyikapi perbedaan.
Ilmu sebagai Pondasi Amal dan Peradaban
Dalam pengantar tausiyahnya, Barhiman menegaskan bahwa ilmu merupakan fondasi utama dalam setiap amal. Ia mengingatkan bahwa semangat beragama tidak boleh dilepaskan dari kedalaman pemahaman.
“Beramal itu harus dengan ilmu,” tegasnya, mengutip pesan para ulama yang sarat makna.
Ia kemudian merujuk sejumlah ayat Al-Qur’an yang menegaskan keutamaan ilmu, di antaranya dari Surah Al-Isra’, Al-Mujadilah, dan Fathir, yang secara konsisten menempatkan ilmu sebagai cahaya pembimbing kehidupan.
Lebih jauh, ia mengangkat sebuah hadis populer tentang kewajiban menuntut ilmu hingga ke negeri yang jauh sebagai simbol bahwa perjalanan intelektual seorang muslim harus melampaui batas geografis dan cara berpikir sempit.
Memahami Perbedaan Idulfitri dengan Kacamata Ilmu
Secara umum, Barhiman menyinggung fenomena perbedaan penentuan Hari Raya Idulfitri yang kerap muncul di tengah umat Islam. Ia mengajak jamaah untuk melihat persoalan ini secara lebih jernih dan proporsional.
Menurutnya, perbedaan tersebut berakar pada metode penafsiran dalil, khususnya terkait makna “melihat hilal” (rukyat). Dalam kajian bahasa dan tafsir, kata “melihat” tidak selalu bermakna visual semata, tetapi juga dapat berarti melihat dengan ilmu dan perhitungan (hisab).
“Dalam tradisi keilmuan Islam, melihat tidak selalu dengan mata, tetapi juga dengan pemahaman,” paparnya.
Dengan demikian, baik metode rukyat maupun hisab memiliki dasar yang kuat dalam khazanah Islam. Perbedaan yang muncul bukanlah bentuk penyimpangan, melainkan konsekuensi dari kekayaan metodologi dalam memahami teks agama.
Kedewasaan Sikap dalam Menghadapi Ikhtilaf
Dalam nada yang menyejukkan, ia menegaskan bahwa perbedaan tidak seharusnya melahirkan konflik, apalagi perpecahan di tengah umat.
“Semua memiliki dasar yang kuat. Maka tidak perlu saling menyalahkan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan harus mampu menghadirkan sikap wasathiyah (moderat)—yakni berada di tengah, adil, dan proporsional dalam menyikapi perbedaan.
Antara Ibadah dan Ijtihad: Memahami Batasannya
Salah satu poin penting dalam tausiyah tersebut adalah penegasan bahwa cara menentukan awal bulan Hijriah bukanlah ibadah mahdhah, melainkan bagian dari wilayah ijtihad (ta’aqquli).
Artinya, metode yang digunakan—baik rukyat maupun hisab—merupakan hasil pemikiran manusia yang dapat berkembang seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Yang menjadi ibadah adalah puasanya, bukan cara menentukannya,” jelasnya.
Pandangan ini memberikan ruang bagi umat Islam untuk lebih terbuka terhadap perkembangan sains, tanpa kehilangan esensi ibadah itu sendiri.
Seruan untuk Terus Belajar dan Bersatu
Menutup tausiyahnya, Barhiman mengajak seluruh jamaah untuk tidak berhenti belajar dan terus memperluas wawasan. Ia menekankan bahwa kemajuan umat sangat ditentukan oleh kesungguhan dalam menuntut ilmu dan kedewasaan dalam bersikap.
Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, ia mengingatkan bahwa umat Islam harus mampu mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam satu kesatuan yang utuh.
Halalbihalal ini pun tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang pencerahan—di mana perbedaan dipahami sebagai rahmat, dan ilmu diteguhkan sebagai jalan menuju kemajuan umat.(RAYD)



