Meneguhkan Pendidikan Islam Inklusif di Bali: Jejak dan Dinamika Bina Ihsan Mulia
Meneguhkan
Pendidikan Islam Inklusif di Bali: Jejak dan Dinamika Bina Ihsan Mulia
Oleh:
Redaksi Tabloid Suara Umat
Denpasar,
Bali — Di
tengah dinamika sosial dan keberagaman budaya Pulau Bali, hadirnya lembaga
pendidikan Islam yang inklusif dan terjangkau menjadi kebutuhan yang tak
terelakkan. Salah satu institusi yang menjawab kebutuhan tersebut adalah
Lembaga Pendidikan Bina Ihsan Mulia yang berlokasi di kawasan Muding Indah,
Badung Utara.
Berangkat
dari kegelisahan sosial terhadap terbatasnya akses pendidikan Islam, lembaga
ini berdiri sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat Muslim, khususnya
kalangan menengah ke bawah.
Awal Mula: Dari Kegelisahan Menjadi Gerakan
Pendidikan
Ketua
Yayasan Bina Ihsan Mulia, Fadhil Anwar, S.IP., M.Sc, mengisahkan bahwa
embrio lembaga ini lahir sekitar tahun 2015–2016. Pendiri yayasan, Haji Bagus
bersama istrinya, Aja Heni, melihat adanya kesenjangan dalam akses pendidikan
Islam di wilayah Denpasar dan Badung Utara, khususnya di kawasan Dalung.
“Saat itu
pendidikan Islam cenderung eksklusif dan belum sepenuhnya terjangkau oleh
masyarakat luas. Banyak anak-anak Muslim kesulitan mendapatkan pendidikan agama
yang layak dengan biaya yang terjangkau,” ungkap Fadhil.
Berangkat
dari realitas tersebut, yayasan kemudian merintis pendirian lembaga pendidikan
berbasis Islam yang tidak hanya berbentuk sekolah formal, tetapi juga
mengadopsi sistem madrasah.
Fase Perintisan: Dari Insan Teladan ke Bina Ihsan
Mulia
Perjalanan
awal lembaga ini tidaklah instan. Pada tahun 2016, kegiatan pendidikan dimulai
di lokasi sementara di Jalan Buana Kubu dengan nama Insan Teladan.
Selama dua tahun, proses pembelajaran berlangsung sambil menunggu pembangunan
gedung permanen.
Titik balik
terjadi pada tahun 2018 ketika lembaga resmi berpindah ke lokasi tetap di
Muding Indah dan berganti nama menjadi Bina Ihsan Mulia.
“Kini kami
berdiri di atas lahan seluas lebih dari 12 are dengan gedung tiga lantai milik
sendiri. Ini menjadi fondasi penting dalam pengembangan kualitas pendidikan,” jelas Fadhil.
Penguatan Infrastruktur dan Mutu Pendidikan
Seiring
kepindahan ke lokasi permanen, Bina Ihsan Mulia mulai melengkapi fasilitas
pendukung pembelajaran. Laboratorium komputer, ruang kreativitas siswa, serta
sarana pembelajaran lainnya menjadi bagian dari upaya meningkatkan mutu
pendidikan.
Lembaga ini
menaungi berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, RA, MI hingga MTs,
dengan orientasi pada pembentukan karakter dan prestasi siswa.
Dalam hal
sumber daya manusia, pihak yayasan menerapkan sistem rekrutmen terbuka dan
selektif. Proses seleksi meliputi tahapan administrasi, micro-teaching, hingga
wawancara mendalam.
“Kami
memastikan bahwa tenaga pendidik yang bergabung adalah SDM unggul di bidangnya,
baik dalam aspek keagamaan maupun kompetensi digital,” tegasnya.
Menyasar Masyarakat Menengah: Komitmen Inklusivitas
Salah satu
ciri khas Bina Ihsan Mulia adalah komitmennya untuk tetap menjangkau masyarakat
ekonomi menengah. Di tengah fluktuasi ekonomi, terutama pasca pandemi COVID-19,
lembaga ini tetap berupaya mempertahankan aksesibilitas pendidikan.
Pandemi
menjadi ujian berat, mengingat sebagian besar wali siswa terdampak, khususnya
mereka yang bekerja di sektor pariwisata dan swasta.
“Kami
menyadari kondisi ekonomi masyarakat tidak stabil. Karena itu, sejak awal kami
memang menargetkan untuk tetap hadir bagi kalangan menengah agar pendidikan
Islam tidak menjadi beban,” ungkap Fadhil.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Seiring
meningkatnya kepercayaan masyarakat, permintaan terhadap layanan pendidikan di
Bina Ihsan Mulia juga terus bertambah. Beberapa orang tua bahkan menginginkan
pengembangan model pendidikan seperti boarding school atau sekolah
berbasis alam.
Namun,
keterbatasan lahan dan konteks geografis perkotaan menjadi tantangan
tersendiri.
“Permintaan
masyarakat terus berkembang. Ada yang menginginkan sistem pesantren atau
sekolah alam. Ini menjadi tantangan yang harus kami kaji secara matang untuk
pengembangan ke depan,” katanya.
Di sisi
lain, sebagai yayasan mandiri, dukungan pemerintah masih terbatas pada bantuan
operasional sekolah (BOS), sementara pembiayaan lainnya ditanggung secara
internal.
Meneguhkan Peran Pendidikan Islam di Bali
Menutup
perbincangan, Fadhil Anwar menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah,
masyarakat, dan lembaga pendidikan dalam memperkuat eksistensi pendidikan Islam
di Bali.
“Pendidikan
Islam harus terus berkembang, kreatif, dan mandiri. Ini bukan hanya tanggung
jawab yayasan, tetapi tanggung jawab kita bersama agar nilai-nilai Islam tetap
hidup dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Bali,” pungkasnya.
Bina Ihsan
Mulia hari ini
bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan simbol perjuangan menghadirkan
pendidikan Islam yang inklusif, adaptif, dan berdaya saing di tengah pluralitas
Bali. Sebuah ikhtiar nyata yang berangkat dari kegelisahan, tumbuh melalui
komitmen, dan terus bergerak menjawab tantangan zaman. (RAHM &AMBAR)



