Menembus Batas Akses Pendidikan: Visi Besar Rektor ITB Stikom Bali dalam Membangun Generasi Unggul
Menembus Batas Akses Pendidikan: Visi Besar Rektor ITB Stikom Bali dalam Membangun Generasi Unggul
Denpasar, 9 April 2026 — Di tengah dinamika perubahan global yang kian cepat, perguruan tinggi dituntut tidak sekadar menjadi pusat ilmu, melainkan juga lokomotif transformasi sosial. Hal inilah yang ditegaskan oleh Rektor ITB Stikom Bali, Dr. Dadang Hermawan, dalam sambutannya yang reflektif sekaligus visioner pada kegiatan pengenalan produk knowledge di Aula ITB Stikom Bali.
Dengan gaya tutur yang cair namun sarat makna, ia membuka pidatonya melalui sapaan hangat kepada seluruh hadirin—para pimpinan, dekan, mitra, serta pemangku kepentingan pendidikan. Suasana yang semula formal perlahan mencair ketika ia memperkenalkan salam khas kampus, “Salam Stikom Bali, Always The First”, sebuah semboyan yang bukan hanya slogan, melainkan manifestasi tekad untuk senantiasa berada di garda terdepan dalam inovasi pendidikan.
Namun di balik suasana hangat itu, tersimpan kegelisahan intelektual yang mendalam. Rektor menyoroti realitas yang masih membayangi dunia pendidikan tinggi Indonesia, yakni rendahnya Angka Partisipasi Kasar (APK). Ia memaparkan bahwa hingga kini, APK nasional masih bertahan di kisaran 31 hingga 32 persen, sebuah angka yang mencerminkan bahwa mayoritas generasi usia kuliah belum tersentuh pendidikan tinggi.
“Ini bukan sekadar statistik, melainkan cermin kesejahteraan bangsa,” ungkapnya dengan nada serius.
Menurutnya, terdapat korelasi erat antara tingkat pendidikan dan kualitas hidup masyarakat. Negara-negara maju seperti Singapura dan Korea Selatan menunjukkan lonjakan kesejahteraan seiring tingginya partisipasi pendidikan tinggi. Sebaliknya, Indonesia masih menghadapi paradoks klasik: untuk mengenyam pendidikan dibutuhkan biaya, namun untuk memiliki kemampuan ekonomi yang memadai justru diperlukan pendidikan itu sendiri.
Sebuah lingkaran yang nyaris tak terputus.
Dalam konteks itulah, ITB Stikom Bali. hadir menawarkan jalan keluar. Tidak sekadar konsep, melainkan langkah konkret yang terukur dan sistematis. Rektor memaparkan berbagai program strategis yang dirancang untuk membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat, khususnya generasi muda usia kuliah.
Program KIP Kuliah dari pemerintah pusat menjadi salah satu pilar utama. Di samping itu, terdapat program Satu Keluarga Satu Sarjana dari Pemerintah Provinsi Bali, serta berbagai skema beasiswa internal yayasan yang dirancang untuk menjangkau kalangan kurang mampu.
Namun, inovasi paling menonjol terletak pada program kuliah sambil magang dan bekerja ke luar negeri, terutama ke Jepang. Program ini tidak hanya menjawab persoalan biaya pendidikan, tetapi juga memberikan pengalaman kerja global yang bernilai tinggi.
“Mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga belajar dari dunia nyata. Mereka bekerja, berpenghasilan, dan membangun masa depan bahkan sebelum wisuda,” jelasnya.
Ia mengungkapkan bahwa kebutuhan tenaga kerja muda di Jepang dalam lima tahun ke depan mencapai satu juta orang, sebuah peluang besar yang harus ditangkap dengan kesiapan sistem pendidikan yang adaptif. Program ini dirancang sejak awal masa kuliah, sehingga mahasiswa telah dipersiapkan secara kompetensi maupun mental untuk terjun ke dunia kerja internasional.
Tidak berhenti di situ, Rektor juga memaparkan lanskap akademik kampus yang terus berkembang. ITB Stikom Bali. kini memiliki beragam program studi, mulai dari jenjang magister, sarjana, hingga diploma, yang tersebar di bidang teknologi informasi dan bisnis digital. Bahkan, melalui program double degree, mahasiswa berkesempatan meraih dua gelar sekaligus, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dalam narasi yang lebih filosofis, ia menegaskan pentingnya mimpi sebagai fondasi pembangunan pendidikan. Ia menyinggung pengembangan kampus baru sebagai simbol bahwa setiap capaian besar selalu berawal dari keberanian untuk membayangkan masa depan.
“Kita harus berani bermimpi. Karena dari mimpi itulah lahir perencanaan, dan dari perencanaan lahir kenyataan,” tuturnya.
Lebih jauh, ia juga menyoroti fleksibilitas sistem pembelajaran yang kini berkembang, termasuk model hybrid learning yang memadukan tatap muka dan daring. Menurutnya, transformasi digital dalam pendidikan bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan yang harus diadaptasi secara bijak.
Di sisi lain, ia juga mengungkap upaya kampus dalam menjalin komunikasi strategis dengan berbagai pihak, termasuk pemangku kebijakan di tingkat nasional, guna memperluas akses beasiswa berbasis aspirasi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar untuk memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak lagi menjadi penghalang utama bagi generasi muda dalam mengakses pendidikan tinggi.
Menutup sambutannya, Dr. Dadang Hermawan menyampaikan ajakan terbuka kepada seluruh mitra untuk bersama-sama menjadi bagian dari gerakan besar ini. Ia menekankan bahwa keberhasilan membangun generasi unggul tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan melalui kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.
Dari ruang aula yang menjadi saksi, tersirat sebuah keyakinan: bahwa pendidikan adalah jembatan peradaban. Dan di atas jembatan itu, kampus, mitra, serta masyarakat berjalan bersama, menapaki masa depan yang lebih cerah—dengan ilmu sebagai cahaya, dan kolaborasi sebagai kekuatan.(RAYD)



