Mengajarkan Adab Lewat Secangkir Teh
Mengajarkan Adab Lewat Secangkir Teh
Liputan Kegiatan Pembekalan “Cara Minum Teh yang Baik dan Benar”
Mushola Ahmad Dahlan – Jl. Batanta 80
tgl. 15 November 2025
Pagi yang sejuk di Mushola Ahmad Dahlan, Jl. Batanta 80, menjadi saksi berkumpulnya para pimpinan, guru, dan karyawan SMK dalam sebuah kegiatan pembekalan bertema “Cara Minum Teh yang Baik dan Benar.” Acara dimulai tepat pukul 08.00, dihadiri oleh Direktur Utama H. Agus, Waka Direktur Coach Ardan, Komisaris Utama Ir. Hj. Nimmi Gulam, serta Kepala SMK Edy Suprayitno, S.Pd.
Sebagai penggiat pendidikan dan pembina karakter generasi muda, Chef Alit menegaskan bahwa belajar tidak hanya soal materi kelas, tetapi juga adab, gaya hidup sehat, dan kemampuan membangun relasi. Rahma membantu menyusun alurnya sehingga kegiatan ini mengalir dengan ringan, hidup, dan penuh nilai kebermanfaatan.
Ice Breaking: Melatih Fokus dan Kerja Sama
Coach Ardan membuka acara dengan ice breaking yang penuh energi. Para peserta—guru dan karyawan—diajak membentuk lingkaran untuk mengikuti permainan konsentrasi dan kerja sama. Suasana menjadi cair, tawa-tawa ringan terdengar, namun pesan yang ingin disampaikan tetap mendalam:
Fokus, disiplin, dan saling percaya adalah fondasi setiap proses belajar dan bekerja.
Dalam refleksinya, Chef Alit mengingatkan, “Kerja sama adalah ibadah sosial. Ketika kita bergerak bersama, maka kebaikan menjadi lebih luas.”
Pembekalan: Teh Sebagai Warisan, Gaya Hidup, dan Ilmu Pengetahuan
Sesi utama dimulai dengan pengantar tentang teh sebagai bagian dari warisan budaya dunia yang telah menjadi gaya hidup berbagai bangsa. Di tangan ahli teh, daun kecil ini bukan hanya minuman, tetapi simbol ketenangan, penghormatan, dan kesadaran diri.
Materi kemudian berkembang menjadi product knowledge:
White Tea: dikenal paling murni, minim oksidasi, aroma lembut, penuh antioksidan.
Green Tea: segar, menyehatkan, identik dengan budaya Asia Timur.
Oolong, Black Tea, Herbal Tea, dan ragam lainnya, dijelaskan sebagai bagian dari khazanah yang patut dipelajari.
Selain teori, Chef Alit menegaskan adab sederhana namun penting ketika menikmati teh:
Menghargai proses penyeduhan
Menyadari suhu, aroma, dan rasa
Menikmati dengan tenang dan tidak terburu-buru
Menjadikan teh sebagai momen refleksi dan syukur
Rahma pun menyisipkan nilai Qurani: “Dan nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.” (QS. Ad-Dhuha: 11).
Secangkir teh adalah nikmat kecil yang mengajarkan kesadaran besar.
Kurikulum 6 Pertemuan: Dari Teh ke Kewirausahaan
Program ini tidak berhenti pada pengenalan teh saja. Chef Alit menyiapkan kurikulum enam pertemuan untuk membuka peluang wirausaha bagi siswa:
1. Apa Itu Wirausaha?
Pemahaman dasar mindset pengusaha: pantang menyerah, kreatif, dan berani mengambil peluang.
2. Product Knowledge: Dunia Teh Lebih Dalam
Membedakan kualitas, karakter rasa, dan segmentasi pasar.
3. Marketing Dasar
Bagaimana membaca kebutuhan konsumen dan menyampaikan nilai produk.
4. Branding & Storytelling
Membangun identitas produk teh: nama, citra, dan narasinya.
5. Public Speaking & Deal With People
Melatih keberanian presentasi, negosiasi, dan komunikasi profesional.
6. Proposal Usaha & Permodalan
Siswa diminta membuat proposal sederhana.
Proposal terbaik akan mendapatkan permodalan awal—sebuah motivasi nyata bahwa mimpi bisa diwujudkan.
Chef Alit menegaskan, “Wirausaha adalah amal produktif. Kita ingin melahirkan siswa yang mandiri, bermartabat, dan bermanfaat bagi umat.”
Penutup: Secangkir Teh, Sejuta Peluang
Kegiatan di Mushola Ahmad Dahlan ini bukan sekadar pelatihan minum teh. Ia menjadi pintu pembuka menuju pembelajaran yang lebih luas: adab, kesehatan, estetika, hingga kewirausahaan.
Di akhir acara, suasana terasa hangat. Sebagaimana teh yang diseruput perlahan, ilmu yang dipelajari hari itu mengalir ke hati peserta dengan lembut namun melekat.
Rahma menutup narasi ini dengan refleksi:
Ketika niat, ilmu, dan keikhlasan bertemu, maka setiap kegiatan—meski sederhana—menjadi jalan kebermanfaatan.
(RAYD) Open Donasi PT Suara Umat Bank BSI 7326712967



