Detail Artikel

Mengapa Allah Paling Banyak Menceritakan Nabi Musa?

Mengapa Allah Paling Banyak Menceritakan Nabi Musa?

Karena Dalam Kisah Musa, Manusia Sedang Berkaca pada Dirinya Sendiri

Oleh: Rahma — Chef Raden Alit

Di antara seluruh nabi yang disebut dalam Al-Qur'an, ada satu nama yang paling sering diulang.

Bukan Nabi Ibrahim AS.
Bukan Nabi Nuh AS.
Bukan pula Nabi Isa AS.

Melainkan Nabi Musa AS.

Namanya disebut lebih dari seratus kali dan kisahnya tersebar di berbagai surat. Dari kelahirannya yang penuh ancaman, perjuangannya melawan Fir'aun, pengembaraannya di padang pasir, hingga perjalanannya mencari ilmu kepada Khidir.

Pertanyaannya, mengapa?

Mengapa Allah begitu sering mengulang kisah Nabi Musa?

Apakah sekadar untuk menceritakan sejarah?

Tentu tidak.

Sebab Al-Qur'an bukan kitab sejarah. Ia adalah kitab petunjuk.

Dan barangkali, alasan terbesar Allah paling banyak menceritakan Nabi Musa adalah karena dalam diri Musa, manusia menemukan cermin bagi seluruh pergulatan hidupnya.


Musa Adalah Kisah Tentang Ketakutan yang Berubah Menjadi Keberanian

Kisah Musa dimulai bukan dari istana, melainkan dari ketakutan.

Seorang bayi yang lahir di tengah kekuasaan Fir'aun.

Seorang ibu yang diperintahkan meletakkan bayinya ke dalam sungai.

Secara logika, itu adalah perpisahan.

Namun dalam pandangan Allah, itu adalah penyelamatan.

Di sinilah Al-Qur'an mengajarkan pelajaran pertama:

Tidak semua yang tampak hilang benar-benar kehilangan.

Terkadang Allah menyelamatkan kita melalui jalan yang tidak kita pahami.

Bukankah manusia modern juga hidup dalam ketakutan yang sama?

Takut kehilangan pekerjaan.

Takut kehilangan masa depan.

Takut kehilangan orang yang dicintai.

Takut terhadap hal-hal yang bahkan belum terjadi.

Dan melalui kisah Musa, Allah seakan berkata:

Percayalah kepada-Ku bahkan ketika jalan di depanmu tidak terlihat.


Musa Adalah Kisah Tentang Melawan Fir'aun yang Ada di Setiap Zaman

Ketika mendengar nama Fir'aun, banyak orang membayangkan seorang raja Mesir kuno.

Padahal Al-Qur'an tidak hanya sedang berbicara tentang seseorang.

Fir'aun adalah simbol.

Simbol kesombongan.

Simbol kekuasaan yang mabuk.

Simbol manusia yang merasa dirinya tidak membutuhkan Tuhan.

Dan yang menarik, Fir'aun tidak selalu berada di istana.

Kadang ia hidup dalam sistem.

Kadang dalam kekuasaan.

Kadang dalam budaya.

Dan kadang dalam diri manusia sendiri.

Saat seseorang merasa dirinya paling benar.

Saat jabatan membuatnya lupa diri.

Saat kekayaan menjadikannya angkuh.

Saat ilmu membuatnya meremehkan orang lain.

Mungkin saat itu, ada sedikit Fir'aun yang sedang tumbuh dalam dirinya.

Karena itu kisah Musa bukan hanya tentang melawan penguasa zalim.

Ia adalah kisah tentang melawan kesombongan yang hidup di dalam hati manusia.


Musa Adalah Kisah Kepemimpinan yang Tidak Mudah

Banyak orang ingin menjadi pemimpin.

Sedikit yang siap memikul beban kepemimpinan.

Musa menghadapi umat yang:

  • sering mengeluh,

  • mudah membangkang,

  • sulit bersyukur,

  • dan cepat melupakan nikmat Allah.

Namun Musa tidak meninggalkan mereka.

Ia terus membimbing.

Terus mengingatkan.

Terus bersabar.

Dari sini kita belajar bahwa:

Kepemimpinan bukan tentang dihormati.

Kepemimpinan adalah kesediaan memikul beban orang lain.

Di tengah dunia yang semakin haus popularitas, pelajaran ini terasa semakin relevan.


Musa Adalah Kisah Tentang Ilmu dan Kerendahan Hati

Salah satu bagian paling menakjubkan dalam Al-Qur'an adalah pertemuan Musa dengan Khidir.

Musa adalah nabi besar.

Penerima Taurat.

Pemimpin umat.

Namun Allah tetap memerintahkannya belajar.

Mengapa?

Karena sebesar apa pun ilmu manusia, selalu ada wilayah yang belum ia ketahui.

Di hadapan Khidir, Musa menyaksikan hal-hal yang tampak tidak masuk akal:

  • perahu dilubangi,

  • seorang anak dibunuh,

  • tembok diperbaiki tanpa upah.

Barulah di akhir perjalanan Musa memahami bahwa apa yang tampak buruk belum tentu buruk dalam pandangan Allah.

Pelajaran ini sangat penting bagi manusia modern.

Kita hidup di zaman yang ingin memahami segala sesuatu dengan cepat.

Padahal tidak semua takdir dapat dijelaskan saat itu juga.

Ada hikmah yang baru terlihat setelah bertahun-tahun.

Ada jawaban yang baru ditemukan setelah air mata mengering.

Karena itu:

Tidak semua yang menyakitkan adalah musibah.

Dan tidak semua yang menyenangkan adalah anugerah.


Musa Adalah Kisah Tentang Keyakinan di Tengah Kemustahilan

Mungkin kalimat paling kuat dalam kisah Musa adalah ketika Laut Merah berada di depan dan pasukan Fir'aun berada di belakang.

Umatnya panik.

Mereka merasa semuanya telah berakhir.

Namun Musa berkata:

"Sekali-kali tidak. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan memberi petunjuk kepadaku."

Kalimat itu lahir bukan dari keadaan yang mudah.

Kalimat itu lahir ketika semua alasan untuk putus asa justru sedang berkumpul.

Dan bukankah itu juga keadaan banyak manusia hari ini?

Ketika:

  • hidup terasa sempit,

  • doa belum terjawab,

  • jalan keluar belum terlihat,

  • dan harapan mulai menipis.

Musa mengajarkan bahwa iman bukan muncul setelah keajaiban terjadi.

Iman adalah kemampuan tetap percaya sebelum keajaiban itu datang.


Mengapa Allah Mengulang Kisah Musa Berkali-kali?

Karena kisah Musa bukan sekadar kisah Musa.

Ia adalah kisah manusia.

Kisah tentang:

  • ketakutan,

  • perjuangan,

  • kesabaran,

  • kepemimpinan,

  • pencarian ilmu,

  • dan pencarian Tuhan.

Setiap zaman memiliki Fir'aunnya sendiri.

Setiap manusia memiliki Laut Merahnya sendiri.

Setiap hati memiliki padang pasirnya sendiri.

Dan setiap jiwa membutuhkan keyakinan yang pernah dimiliki Musa.

Mungkin itulah sebabnya Allah tidak bosan mengulang kisahnya.

Karena selama manusia masih hidup di bumi, kisah Musa tidak pernah benar-benar selesai.

Ia terus hidup dalam setiap orang yang sedang berjuang mempertahankan iman di tengah dunia yang semakin gaduh.

Dan di antara seluruh pelajaran itu, mungkin ada satu pesan yang paling layak disimpan dalam hati:

Ketika jalan tampak buntu dan dunia berkata "tidak mungkin", iman berkata:

"Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku." 

(RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'