Detail Artikel

Mengembalikan Aqidah kepada Al-Qur'an dan Sunnah di Tengah Tradisi Masyarakat

Mengembalikan Aqidah kepada Al-Qur'an dan Sunnah di Tengah Tradisi Masyarakat

Ustaz Wayan Sahdan: Kemurnian Tauhid Harus Menjadi Fondasi, Budaya Tidak Boleh Menggeser Syariat

DENPASAR, SuaraUmat.id – Di tengah kuatnya pengaruh budaya dan tradisi lokal, umat Islam dituntut memiliki keteguhan dalam menjaga kemurnian aqidah. Beragam adat istiadat yang diwariskan turun-temurun sering kali berkembang menjadi keyakinan yang diyakini mampu mendatangkan keselamatan, menolak musibah, bahkan menentukan keberuntungan seseorang.

Padahal, Islam telah memberikan pedoman yang jelas bahwa seluruh bentuk ibadah, keyakinan, dan pengharapan hanya boleh ditujukan kepada Allah SWT. Tradisi yang bertentangan dengan prinsip tauhid harus dikoreksi, sementara budaya yang tidak bertentangan dengan syariat dapat tetap dilestarikan.

Pesan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan Ustaz Wayan Sahdan, S.Pd., M.Pd.I, dalam Kajian Senin Sore bertema "Safar: Menghapus Mitos dan Menguatkan Tauhid" di Rumah Dakwah Muhammadiyah Kota Denpasar, Jalan Selayar, Senin (20/7/2026) pukul 17.00 WITA.

Al-Qur'an dan Sunnah Menjadi Ukuran Kebenaran

Dalam ceramahnya, Ustaz Wayan mengingatkan bahwa ukuran benar dan salah dalam Islam bukanlah kebiasaan masyarakat, melainkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Menurutnya, sebuah tradisi tidak dapat dibenarkan hanya karena telah dilakukan secara turun-temurun. Seluruh praktik keagamaan harus diuji berdasarkan dalil yang sahih.

"Kita harus kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Jangan menjadikan tradisi sebagai ukuran agama. Justru tradisi harus diukur dengan ajaran Islam."

Ia menegaskan bahwa Rasulullah SAW telah menyempurnakan ajaran agama sehingga umat Islam tidak memerlukan tambahan ritual yang tidak memiliki dasar syariat.

Mitos Tidak Memiliki Tempat dalam Aqidah Islam

Salah satu bentuk penyimpangan aqidah yang disoroti dalam kajian tersebut ialah masih berkembangnya berbagai mitos di tengah masyarakat.

Mulai dari keyakinan adanya hari sial, bulan sial, pertanda buruk dari suara burung tertentu, hingga berbagai ritual penolak bala, semuanya dinilai bertentangan dengan prinsip tauhid apabila diyakini memiliki kekuatan di luar kehendak Allah.

Ustaz Wayan mengutip hadis Rasulullah SAW yang menolak anggapan adanya kesialan yang melekat pada bulan Safar maupun tanda-tanda tertentu.

Menurutnya, seorang Muslim tidak boleh menggantungkan rasa takut kepada benda, waktu, tempat, ataupun makhluk.

"Yang menentukan manfaat dan mudarat hanyalah Allah SWT. Tidak ada satu pun makhluk yang memiliki kekuasaan tanpa izin-Nya."

Bahaya Sinkretisme dalam Kehidupan Beragama

Ustaz Wayan juga menyoroti fenomena bercampurnya ajaran Islam dengan kepercayaan-kepercayaan lama yang berasal dari animisme dan dinamisme.

Ia menyebut berbagai tradisi seperti sedekah bumi, safaran, sesajen, hingga ritual di tempat-tempat yang dianggap keramat sebagai bentuk sinkretisme yang perlu diluruskan apabila mengandung unsur keyakinan terhadap kekuatan selain Allah.

Menurutnya, Islam datang bukan untuk menghapus seluruh budaya masyarakat, melainkan menyucikannya dari unsur-unsur syirik dan khurafat.

"Budaya boleh tetap hidup, tetapi aqidah tidak boleh dicampur dengan keyakinan yang bertentangan dengan tauhid."

Menghormati Orang Saleh Tanpa Berlebihan

Dalam penjelasannya, Ustaz Wayan juga mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak dalam sikap berlebihan terhadap tokoh-tokoh saleh.

Ia menjelaskan bahwa banyak ulama dan penyebar Islam merupakan pribadi yang sangat berjasa dalam dakwah. Namun penghormatan kepada mereka tidak boleh berubah menjadi keyakinan bahwa mereka memiliki kekuatan gaib, mampu mengabulkan permohonan, atau menjadi perantara keselamatan.

Sejarah umat terdahulu, katanya, menunjukkan bagaimana pengagungan terhadap orang-orang saleh akhirnya melahirkan praktik pemujaan yang menyimpang dari ajaran tauhid.

"Islam mengajarkan penghormatan kepada ulama, tetapi ibadah dan penghambaan tetap hanya kepada Allah."

Tauhid Membebaskan Manusia dari Ketakutan

Menurut Ustaz Wayan, kemurnian tauhid memiliki dampak besar terhadap kehidupan seorang Muslim.

Orang yang meyakini bahwa seluruh urusan berada di tangan Allah tidak akan mudah dipengaruhi oleh mitos, ramalan, maupun berbagai bentuk tahayul.

Ia tidak akan menunda pernikahan karena dianggap hari buruk, tidak membatalkan perjalanan karena pertanda tertentu, dan tidak mencari keselamatan melalui ritual-ritual yang tidak diajarkan Rasulullah SAW.

"Tauhid menjadikan hati tenang, karena seorang mukmin yakin bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat menimpa dirinya kecuali atas izin Allah."

Budaya Boleh Dilestarikan, Aqidah Harus Dijaga

Menutup kajiannya, Ustaz Wayan menegaskan bahwa Islam menghargai keberagaman budaya selama tidak bertentangan dengan syariat.

Tradisi gotong royong, silaturahmi, musyawarah, maupun berbagai bentuk kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai kebaikan dapat dipelihara sebagai bagian dari kehidupan sosial.

Namun, ketika sebuah tradisi berkembang menjadi keyakinan yang mengandung unsur syirik, khurafat, atau tahayul, maka umat Islam wajib mengembalikannya kepada tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah.

Menurutnya, kemurnian aqidah merupakan pondasi utama yang harus dijaga oleh setiap Muslim agar tidak terjebak dalam praktik-praktik yang dapat merusak keimanan.

"Islam tidak datang untuk memutus budaya, tetapi untuk meluruskan keyakinan. Selama budaya tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah, ia dapat menjadi bagian dari kehidupan. Namun jika telah menyentuh wilayah aqidah, maka yang harus didahulukan adalah wahyu Allah, bukan tradisi manusia," pungkasnya.

 (RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'