Menggapai Keberkahan Ramadan: Merenungi Kedalaman Qalbu dan Bahaya Kesombongan
Menggapai
Keberkahan Ramadan: Merenungi Kedalaman Qalbu dan Bahaya Kesombongan
Jakarta,
21 Maret 2025 – Senja
di Masjid Nurul Iman, Blok M, Jakarta, terasa syahdu. Jamaah yang hadir duduk
khausyuk, menanti momen berbuka sambil menyimak tausiyah yang menggugah hati.
Suasana semakin khidmat ketika tema ceramah kali ini membahas sesuatu yang tak
kasat mata, namun sangat menentukan nasib seseorang di dunia dan akhirat:
penyakit
hati dan kesombongan.
Penyakit
Hati, Musuh yang Mengintai
Dalam
ceramahnya, Penceramah menukil perkataan sahabat Nabi, Imam Huraidoh,
yang menegaskan bahwa penyakit hati jauh lebih berbahaya daripada penyakit
fisik. Penyakit hati dapat menghancurkan pahala amal ibadah, menjauhkan
seseorang dari Allah, serta merampas ketenangan jiwa.
Kesombongan menjadi salah satu penyakit hati
yang paling mematikan. Mengutip pemikiran Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Penceramah
menyampaikan bahwa kesombongan adalah penghalang terbesar antara seorang hamba
dan Rabb-nya. “Kesombongan tidak hanya menjauhkan kita dari manusia lain,
tetapi juga dari rahmat Allah,” tegasnya
.
Empat
Akar Kesombongan yang Harus Diwaspadai
Dalam
ceramahnya, Penceramah menjelaskan bahwa ada empat faktor utama yang
sering kali menjadi sumber kesombongan manusia:
- Ilmu – Ketika seseorang merasa
lebih pintar dan memandang rendah orang lain yang kurang berpengetahuan.
Padahal, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hati dan
semakin takut kepada Allah.
- Nasab (Keturunan) – Merasa lebih mulia hanya
karena berasal dari keluarga terpandang atau keturunan ulama. Padahal,
Allah tidak melihat asal-usul manusia, melainkan melihat ketakwaannya.
- Harta – Merasa lebih kaya, lalu
memandang orang lain dengan sebelah mata. Kisah Qarun yang ditelan bumi
menjadi pelajaran bahwa kesombongan karena harta bisa berakhir dengan
kehancuran.
- Banyaknya Pengikut atau
Jabatan –
Orang yang memiliki pengaruh besar terkadang merasa lebih penting dan
lebih berhak dihormati dibanding orang lain.
Bahaya
Pujian dan Rasa Bangga yang Berlebihan
Dalam
ceramahnya, Penceramah juga mengingatkan bahaya pujian yang bisa membutakan
hati manusia. Rasulullah bersabda:
“Barang
siapa yang suka jika orang-orang berdiri menyambutnya, maka hendaklah ia
mencari tempat duduknya di neraka.” (HR. Ahmad)
Sikap
ingin dihormati, ingin selalu diistimewakan, dan ingin disanjung adalah gejala
awal dari kesombongan. “Jangan sampai kita tergoda untuk menikmati penghormatan
dunia, lalu kehilangan tempat kita di akhirat,” ujar Penceramah dengan nada
penuh peringatan.
Mengambilkan
Sandal Teman: Antara Rendah Hati dan Kesombongan yang Terselubung
Sebuah
ilustrasi menarik disampaikan dalam ceramah tersebut. Mengambilkan sandal teman
sepintas terlihat sebagai sikap rendah hati, tetapi jika dilakukan untuk pamer
atau dengan niat merendahkan orang lain, perbuatan itu justru berbalik menjadi
kesombongan terselubung.
“Mungkin
kita merasa baik dengan mengambilkan sandal teman, tetapi bagaimana jika hal
itu justru membuatnya merasa kecil dan direndahkan?” ujar Imam Asrorie. Islam
mengajarkan bahwa setiap tindakan harus dilandasi keikhlasan dan niat baik,
bukan demi pencitraan atau membuat orang lain merasa rendah diri
.
Surat
At-Taubah Ayat 100: Ikhlas Adalah Kunci Surga
Ceramah
menjelang berbuka ini semakin menggugah ketika Penceramah mengutip Surat
At-Taubah ayat 100:
“Orang-orang
yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan
Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada
mereka dan mereka pun ridha kepada Allah...”
Ayat ini
menegaskan bahwa ridha Allah hanya diberikan kepada mereka yang ikhlas,
sabar, dan bersyukur. Bukan kepada orang-orang yang sibuk membanggakan diri
atau mengumpulkan pengikut, tetapi kepada mereka yang merendahkan hatinya di
hadapan Allah dan sesama manusia.
Tiga
Pilar Kebahagiaan Akhirat
Menutup
ceramahnya, Penceramah menegaskan bahwa jika ingin meraih kebahagiaan di
akhirat, setiap Muslim harus menjaga tiga pilar utama dalam hatinya:
- Ikhlas – Beramal semata-mata
karena Allah, bukan untuk mencari pujian manusia.
- Sabar – Bertahan dalam ujian
dengan keyakinan bahwa setiap cobaan adalah bentuk kasih sayang Allah.
- Syukur – Senantiasa bersyukur atas
nikmat yang kecil maupun besar, sebab rasa syukur adalah kunci keberkahan
hidup.
Harapan
Bertemu Nabi di Surga
Sebagai penutup,
Penceramah mengajak seluruh jamaah untuk bersama-sama memperbaiki hati,
menjauhi kesombongan, dan menumbuhkan ketakwaan.
“Jika
ingin berada satu gerbong dengan Nabi Muhammad di akhirat kelak, maka bersihkan hati dari
kesombongan, iri, dengki, dan penyakit hati lainnya,” tutupnya.
Saat
adzan Maghrib berkumandang, suasana Masjid Nurul Iman dipenuhi doa-doa yang
lirih, memohon ampunan dan keridhaan Allah. Ramadan bukan hanya tentang menahan
lapar dan haus, tetapi juga tentang memperbaiki hati. Semoga setiap amal yang
kita lakukan di bulan suci ini menjadi bekal menuju kebahagiaan abadi di
akhirat.
Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.(RORIE)
Top of Form
Bottom of Form



