Menghapus Mitos Bulan Safar: Islam Menolak Keyakinan Hari Sial
Menghapus Mitos Bulan Safar: Islam Menolak
Keyakinan Hari Sial
Ustaz Wayan Sahdan: Tauhid Mengajarkan Semua Hari
Adalah Baik, Tidak Ada Bulan Pembawa Sial
DENPASAR,
SuaraUmat.id –
Keyakinan bahwa Bulan Safar merupakan bulan sial yang harus dihindari masih
hidup di sebagian masyarakat Muslim Indonesia. Beragam ritual seperti sedekah
bumi, safaran, hingga berbagai tradisi penolak bala masih dilakukan dengan
keyakinan dapat menghindarkan musibah.
Padahal,
dalam pandangan Islam, seluruh keyakinan tersebut tidak memiliki landasan
syariat. Yang diajarkan Rasulullah SAW justru adalah menguatkan tauhid dan
menggantungkan seluruh harapan hanya kepada Allah SWT.
Hal itu
disampaikan Ustaz Wayan Sahdan, S.Pd., M.Pd.I, saat menyampaikan Kajian
Senin Sore di Rumah Dakwah Muhammadiyah Kota Denpasar, Jalan Selayar,
Senin pukul 17.00 WITA, dengan tema "Safar: Menghapus Mitos dan
Menguatkan Tauhid."
Hadis Nabi Menolak Anggapan Bulan Safar Membawa
Sial
Dalam
ceramahnya, Ustaz Wayan Sahdan mengawali penjelasan dengan hadis sahih riwayat
Imam Bukhari dan Muslim.
"Laa
'adwaa wa laa thiyarata wa laa haamata wa laa shafar."
Hadis
tersebut menegaskan bahwa tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya
tanpa izin Allah, tidak ada pertanda sial, tidak ada kesialan karena burung
hantu, dan tidak ada kesialan yang melekat pada Bulan Safar.
Menurutnya,
keyakinan bahwa suatu bulan, hari, atau peristiwa tertentu membawa kesialan
merupakan bentuk kepercayaan yang bertentangan dengan prinsip tauhid.
"Islam
mengajarkan bahwa seluruh kejadian berada di bawah kehendak Allah. Tidak ada
hari sial, tidak ada bulan sial. Yang ada hanyalah ketetapan Allah,"
tegasnya.
Semua Musibah Telah Ditetapkan Allah
Ustaz Wayan
kemudian mengajak jamaah kembali kepada petunjuk Al-Qur'an, khususnya Surah
Al-Hadid ayat 22.
Allah SWT
berfirman bahwa tidak ada musibah yang menimpa bumi maupun manusia kecuali
telah tertulis di Lauhul Mahfuz sebelum semuanya diciptakan.
Ayat
tersebut, menurutnya, menjadi fondasi keimanan bahwa segala sesuatu terjadi
atas ilmu dan kehendak Allah, bukan karena mitos, pantangan, maupun ramalan.
"Kalau
seseorang gagal, tertimpa musibah, atau memperoleh nikmat, semuanya berada
dalam ilmu Allah. Karena itu jangan menyalahkan bulan, hari, atau benda
tertentu."
Tradisi Tolak Bala Perlu Diluruskan
Dalam
kajian tersebut, Ustaz Wayan juga menyinggung berbagai tradisi yang masih
berkembang di masyarakat Jawa maupun daerah lain, seperti sedekah bumi, safaran,
bekakak, hingga ritual memberi sesajen di sumber mata air atau
tempat-tempat yang dianggap keramat.
Ia menilai
tradisi budaya pada dasarnya tidak menjadi persoalan selama tidak disertai
keyakinan bahwa ritual tersebut mampu menolak bala atau mendatangkan
keselamatan.
"Kalau
sekadar makan bersama sebagai bentuk silaturahmi tentu berbeda. Tetapi ketika
diyakini bisa menolak musibah, di situlah aqidah harus diluruskan."
Menurutnya,
dalam Islam hanya Allah yang berkuasa menolak bahaya dan mendatangkan manfaat.
Sedekah Tidak Ditujukan kepada Alam atau Makhluk
Menanggapi
pertanyaan jamaah mengenai tradisi memberi "sedekah" kepada pohon,
hewan, atau makhluk lain sebagai bentuk penghormatan kepada "saudara
tua", Ustaz Wayan menjelaskan bahwa Islam telah menetapkan secara jelas
siapa saja yang berhak menerima zakat maupun sedekah.
Ia merujuk
kepada Surah At-Taubah ayat 60 yang menyebut delapan golongan penerima zakat,
yakni fakir, miskin, amil zakat, mualaf, memerdekakan budak, orang yang
terlilit utang karena kebutuhan syar'i, pejuang di jalan Allah, dan ibnu sabil.
"Al-Qur'an
sudah membatasi penerima zakat. Tidak ada ketentuan memberikan sedekah kepada
pohon, gunung, sungai, ataupun makhluk lain sebagai bagian dari ritual
keagamaan."
Tidak Ada Hari Baik dan Hari Buruk
Di akhir
kajiannya, Ustaz Wayan menegaskan bahwa Islam juga menolak anggapan adanya
hari-hari tertentu yang dianggap membawa sial sehingga seseorang dilarang
menikah, membangun rumah, bepergian, atau memulai usaha.
Sebaliknya,
Rasulullah SAW justru menyebut hari Jumat sebagai sayyidul ayyam atau
penghulu segala hari.
Karena itu,
umat Islam diminta meninggalkan seluruh bentuk tahayul, khurafat, dan keyakinan
yang tidak memiliki dasar dari Al-Qur'an maupun Sunnah.
"Kita
harus menghapus seluruh mitos yang bertentangan dengan aqidah. Kembalilah
kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Semua hari adalah baik, semua bulan adalah ciptaan
Allah, dan tidak ada satu pun yang dapat mendatangkan manfaat ataupun mudarat
kecuali dengan izin-Nya."
Tauhid Harus Menjadi Pondasi Kehidupan
Kajian yang
berlangsung hingga menjelang waktu Magrib tersebut ditutup dengan ajakan agar
umat Islam memperkuat tauhid dalam seluruh aspek kehidupan.
Menurut
Ustaz Wayan Sahdan, masyarakat perlu membedakan antara budaya yang bersifat
sosial dengan keyakinan yang menyentuh persoalan aqidah. Ketika sebuah tradisi
diyakini memiliki kekuatan gaib untuk mendatangkan keselamatan atau menolak
musibah, maka keyakinan itu harus diluruskan berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.
"Tauhid
yang murni akan membebaskan manusia dari rasa takut kepada mitos. Seorang
mukmin hanya takut kepada Allah dan hanya berharap kepada Allah semata,"
pungkasnya.
(RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



