Menghargai Mereka yang Selalu Siaga: Apresiasi untuk Relawan SAR Arjuna 115
Menghargai Mereka yang Selalu Siaga: Apresiasi untuk Relawan SAR Arjuna 115
Oleh Redaksi Suara Umat – Denpasar, Oktober 2025
Di setiap bencana, ada wajah-wajah yang tidak pernah tampil di layar kaca, namun langkahnya menembus lumpur, deras air, dan bahaya.
Mereka bukan pencari pujian. Mereka adalah penjaga kehidupan — orang-orang yang berlari ke arah bahaya ketika yang lain mencari selamat.
Mereka adalah Relawan SAR Arjuna 115.
Pahlawan yang Tak Pernah Minta Dikenang
Ketika banjir besar melanda Bali pada 10 September 2025, sebagian besar warga hanya sempat menyelamatkan diri. Tapi di antara kekacauan, tim SAR Arjuna 115, di bawah komando Drs. Brama Budianto, SH, justru bergerak menuju pusat bencana.
Mereka tidak datang membawa mikrofon atau kamera, melainkan tali, perahu karet, dan nyali.
Mereka tidak bertanya siapa yang harus diselamatkan, karena bagi mereka, setiap nyawa bernilai sama.
Hari demi hari, mereka bergulat dengan air dan waktu. Mengangkat anak kecil dari atap rumah, menenangkan ibu-ibu yang kehilangan harta benda, hingga membantu distribusi logistik dari Posko Bersama — tanpa pernah menuntut imbalan.
Sertifikat yang Sederhana, Namun Bermakna
Dalam acara Recovery Pascabencana dan Penutupan Posko Bersama di RM Bundo Kanduang, Denpasar, tim Arjuna 115 menjadi salah satu yang paling disorot.
Namun sorotan itu bukan dalam bentuk sanjungan megah, melainkan penghargaan kecil yang lahir dari hati besar.
Ketua Posko Bersama, H. Imam Asrorie, menyerahkan sertifikat apresiasi langsung kepada Drs. Brama Budianto, SH, selaku Komandan Arjuna 115, disaksikan oleh perwakilan tujuh lembaga kolaboratif kemanusiaan.
Seremoninya sederhana — tanpa tepuk tangan panjang, tanpa gegap gempita. Tetapi, di ruangan itu, terasa keheningan yang sarat makna.
“Biasanya relawan SAR tidak diberi penghargaan, karena dianggap itu tugas mereka.
Tapi hari ini kami ingin mengatakan: bukan tugasnya yang kami hormati, melainkan keikhlasan di balik setiap tugas,” ujar H. Imam Asrorie, suaranya bergetar menahan haru.
Mereka yang Turun Saat Air Naik
Bagi Arjuna 115, penghargaan bukanlah tujuan, melainkan pengingat.
Mereka hadir bukan untuk dipuji, melainkan karena panggilan nurani.
Mereka tahu, setiap bencana adalah ujian bagi kemanusiaan — bukan hanya bagi korban, tapi juga bagi siapa saja yang mau peduli.
Salah seorang anggota Arjuna yang malam itu menerima sertifikat berkata pelan,
“Kami hanya ingin masyarakat tahu, bahwa setiap aksi kecil di lapangan adalah bentuk cinta kepada sesama. Kalau kami bisa sedikit menghapus air mata orang lain, itu sudah cukup.”
Kata-kata itu menembus ruang, menyalakan api di dada setiap orang yang mendengarnya.
Menembus Batas antara Profesi dan Ibadah
Dalam banyak lembaga, tugas penyelamatan adalah bagian dari pekerjaan. Tapi di tangan para relawan Arjuna, ia berubah menjadi ibadah.
Mereka tidak pernah menagih terima kasih, karena mereka tahu, terima kasih yang sesungguhnya datang dari langit.
Penghargaan dari Posko Bersama bukan untuk membesarkan nama, melainkan untuk meneguhkan makna:
bahwa dalam setiap misi penyelamatan, ada cinta yang bekerja diam-diam.
Bahwa dalam setiap banjir, masih ada manusia yang bersedia tenggelam demi menolong yang lain naik ke permukaan.
Penutup: Saat Sertifikat Menjadi Cermin Jiwa
Sertifikat itu sederhana — hanya selembar kertas dengan tinta hitam, logo Posko Bersama, dan tanda tangan Ketua. Tapi nilainya jauh lebih dalam.
Ia menjadi cermin bagi semua yang hadir: bahwa kebaikan tidak selalu perlu megah, cukup tulus dan tepat sasaran.
Ketika acara usai dan senja menurunkan cahaya di Denpasar, beberapa anggota Arjuna 115 masih tampak di halaman, menyalami warga, bercanda dengan anak-anak kecil yang dulu mereka evakuasi.
Tak ada jarak antara penyelamat dan yang diselamatkan.
Hanya ada rasa syukur — bahwa di tengah bencana, manusia masih mau menjadi manusia. (RAYD)



