Mengisi Kemerdekaan dengan Amal Saleh, Membangun Indonesia Berkemajuan
Mengisi Kemerdekaan dengan Amal Saleh, Membangun Indonesia Berkemajuan
Ustaz Syahdan: Kemerdekaan Bukan Sekadar Bebas dari Penjajahan, tetapi Juga Bebas dari Syirik, Kebodohan, Kemiskinan, dan Kezaliman
DENPASAR, SuaraUmat.id – Kemerdekaan Indonesia bukanlah garis akhir perjuangan. Bagi umat Islam, kemerdekaan merupakan amanah yang harus diisi dengan amal saleh, akhlak, ilmu pengetahuan, keadilan, serta pembangunan peradaban.
Pesan tersebut disampaikan Ustaz Syahdan S.Pd.,M.Pd.dalam Kajian Senin Sore di Rumah Dakwah Muhammadiyah Kota Denpasar, Jalan Selayar, Senin, 10 Agustus 2026, pukul 17.00 WITA.
Kajian yang bertepatan dengan momentum bulan kemerdekaan tersebut mengangkat tema "Mengisi Kemerdekaan, Islam Berkemajuan serta Peran Muhammadiyah dalam Mewujudkan Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur."
Menurut Ustaz Syahdan, kemerdekaan harus dipandang sebagai nikmat Allah sekaligus amanah yang memiliki konsekuensi moral. Bangsa yang telah memperoleh kemerdekaan tidak cukup hanya mengenang jasa para pejuang, tetapi juga harus meneruskan cita-cita mereka dengan membangun kehidupan yang lebih adil dan bermartabat.
Kemerdekaan adalah Nikmat yang Wajib Disyukuri
Ustaz Syahdan mengawali ceramahnya dengan mengingatkan jamaah bahwa manusia setiap hari menerima nikmat Allah yang tidak terhitung jumlahnya.
Bahkan kemampuan bernapas dan menghirup oksigen merupakan nikmat yang sering kali dianggap biasa. Demikian pula kemerdekaan bangsa Indonesia yang memungkinkan masyarakat menjalani kehidupan tanpa berada di bawah penjajahan.
Karena itu, kemerdekaan harus disyukuri bukan sekadar melalui seremoni, tetapi melalui tindakan nyata.
Ia mengingatkan pesan Al-Quran dalam Surah Ibrahim ayat 7 bahwa siapa saja yang bersyukur atas nikmat Allah akan mendapatkan tambahan nikmat, sementara mengingkari nikmat akan mendatangkan konsekuensi yang berat.
"Jangan hanya menikmati kemerdekaan. Kemerdekaan adalah amanah yang harus diisi dengan amal saleh, akhlak, dan pembangunan peradaban," ujarnya.
Menurutnya, rasa syukur atas kemerdekaan juga harus diwujudkan dengan menghargai para pejuang bangsa. Banyak di antara mereka berasal dari kalangan ulama, kiai, santri, dan tokoh agama yang ikut berjuang melawan penjajahan.
Kemerdekaan Tidak Berhenti pada Bebas dari Penjajahan
Dalam perspektif Islam, kata Ustaz Syahdan, makna kemerdekaan jauh lebih luas daripada sekadar terbebas dari kekuasaan bangsa asing.
Kemerdekaan sejati harus membawa manusia keluar dari berbagai bentuk keterbelengguan.
Pertama, manusia harus merdeka dari syirik menuju tauhid. Kedua, merdeka dari kebodohan menuju kecerdasan dan ilmu pengetahuan. Ketiga, merdeka dari kemiskinan dan ketergantungan menuju kemandirian.
Kemerdekaan juga berarti membebaskan masyarakat dari kezaliman menuju keadilan, serta dari kemaksiatan menuju ketakwaan kepada Allah.
"Kalau kita berbicara tentang kemerdekaan dalam perspektif Islam, jangan hanya berpikir bebas dari penjajahan. Kita juga harus bebas dari syirik, kebodohan, kemiskinan, ketergantungan, kezaliman, dan kemaksiatan," jelasnya.
Pandangan tersebut menempatkan kemerdekaan sebagai proyek peradaban. Sebuah bangsa belum sepenuhnya merdeka apabila rakyatnya masih terbelenggu oleh kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, dan ketergantungan.
Kekayaan Indonesia Harus Menjadi Amanah
Ustaz Syahdan juga menyinggung kekayaan alam Indonesia yang sangat besar.
Menurutnya, kekayaan tersebut semestinya menjadi sumber kesejahteraan seluruh rakyat, bukan hanya dinikmati oleh segelintir orang yang memiliki kekuasaan dan akses terhadap sumber daya.
Kemerdekaan, katanya, akan kehilangan makna apabila kekayaan bangsa tidak dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Karena itu, para pemegang amanah harus menyadari bahwa kekuasaan bukanlah fasilitas untuk memperkaya diri, melainkan tanggung jawab yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
"Jangan merasa memiliki kekuasaan lalu menikmati semuanya sendiri, sementara rakyat dibiarkan menghadapi kesulitan. Kekayaan negeri ini harus dikelola sebagai amanah," tegasnya.
Keadilan dan Ihsan Menjadi Pilar Kehidupan Berbangsa
Dalam membangun Indonesia yang berkemajuan, Ustaz Syahdan mengajak jamaah menghayati pesan Allah dalam Surah An-Nahl ayat 90 yang memerintahkan manusia untuk berlaku adil dan berbuat ihsan.
Keadilan, menurutnya, tidak boleh dikalahkan oleh hubungan keluarga, kedekatan, kepentingan kelompok, maupun perbedaan latar belakang.
Seseorang harus diperlakukan secara adil karena ia memang memiliki hak untuk diperlakukan secara adil.
Sementara ihsan mengajarkan manusia untuk melakukan kebaikan dengan kesadaran bahwa seluruh perbuatannya berada dalam pengawasan Allah.
"Kalau kita tidak melihat Allah, yakinlah bahwa Allah melihat kita. Karena itu, berbuatlah adil dan berbuat baik meskipun tidak ada manusia yang mengetahui," katanya.
Kesadaran semacam itu, lanjutnya, menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang bersih dari korupsi, nepotisme, penyalahgunaan kekuasaan, dan berbagai bentuk ketidakadilan.
Berbuat Baik kepada Keluarga Memiliki Keutamaan
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Syahdan juga mengingatkan jamaah agar tidak melupakan keluarga ketika memiliki kemampuan untuk bersedekah dan membantu orang lain.
Membantu keluarga yang membutuhkan bukan sekadar bentuk kebaikan sosial. Di dalamnya terdapat nilai menjaga hubungan kekeluargaan.
Menurutnya, seseorang yang memberikan bantuan kepada kerabat memperoleh dua nilai kebaikan sekaligus, yakni pahala sedekah dan pahala menjaga silaturahmi.
Ia mengingatkan bahwa kebaikan kepada keluarga sering kali tidak terlihat oleh masyarakat luas. Karena itu, seseorang tidak seharusnya mencari pengakuan ketika membantu orang terdekat.
Kebaikan yang dilakukan secara diam-diam justru dapat menjadi bentuk keikhlasan yang lebih kuat.
Jangan Membiarkan Kemungkaran Tumbuh
Pesan penting lainnya dalam ceramah tersebut adalah kewajiban mencegah kemungkaran.
Ustaz Syahdan mengingatkan bahwa kemungkaran yang dibiarkan tumbuh sedikit demi sedikit pada akhirnya dapat menjadi persoalan besar di tengah masyarakat.
Ia memberikan gambaran bahwa sesuatu yang awalnya hanya dilakukan oleh beberapa orang dapat berkembang menjadi kebiasaan dan akhirnya dianggap normal apabila tidak pernah ada yang mengingatkan.
Karena itu, umat Islam diperintahkan untuk melakukan perubahan sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Bagi orang yang memiliki kewenangan, kemungkaran dapat dicegah dengan tindakan nyata. Bagi yang tidak memiliki kekuasaan, pencegahan dapat dilakukan melalui nasihat dan penyampaian yang baik.
Jika seseorang tidak mampu mengubah keadaan dan justru khawatir ikut terseret di dalamnya, maka menjauh dari lingkungan tersebut merupakan salah satu bentuk menjaga diri.
"Kalau tidak mampu mengubahnya dengan tindakan, sampaikan dengan lisan. Kalau itu pun tidak mampu, maka tinggalkan. Jangan sampai kita justru ikut terbawa," tuturnya.
Hijrah Bukan Sekadar Berpindah Tempat
Ustaz Syahdan juga memberikan pemaknaan yang lebih luas mengenai hijrah.
Menurutnya, hijrah tidak selalu berarti berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Hijrah juga berarti meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah.
Seseorang yang meninggalkan lingkungan maksiat karena ingin menjaga keimanannya, misalnya, pada hakikatnya sedang melakukan hijrah.
Begitu pula orang yang meninggalkan kebiasaan sia-sia dan memilih kegiatan yang lebih bermanfaat.
Ia mengingatkan bahwa salah satu ciri orang beriman adalah mampu menjauh dari perbuatan yang tidak memiliki manfaat.
Karena itu, waktu dan kesempatan yang diberikan Allah seharusnya digunakan untuk sesuatu yang membangun kehidupan, bukan dihabiskan dalam aktivitas yang merusak diri dan masa depan.
Islam Berkemajuan adalah Karakter Dakwah Muhammadiyah
Dalam bagian lain ceramahnya, Ustaz Syahdan menjelaskan makna Islam berkemajuan yang menjadi karakter dakwah Muhammadiyah.
Menurutnya, Islam berkemajuan harus berlandaskan Al-Quran dan Sunnah, sekaligus mampu menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata.
Islam tidak cukup hanya dibicarakan di ruang pengajian. Nilai-nilainya harus hadir dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, kehidupan sosial, ekonomi, kebudayaan, dan pembangunan masyarakat.
"Menghadirkan Islam dalam kehidupan, membumikan nilai-nilai Islam, mencerahkan masyarakat, memajukan ilmu pengetahuan, itulah yang dimaksud dengan Islam berkemajuan," jelasnya.
Dengan demikian, dakwah tidak berhenti pada ceramah, tetapi bergerak menjadi kekuatan perubahan sosial.
Al-Quran adalah Petunjuk Menuju Kehidupan yang Lurus
Ustaz Syahdan kemudian mengajak jamaah kembali kepada Al-Quran sebagai pedoman kehidupan.
Ia merujuk Surah Al-Isra ayat 9 yang menjelaskan bahwa Al-Quran memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus serta membawa kabar gembira bagi orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh.
Menurutnya, umat Islam tidak boleh berhenti pada membaca dan memahami Al-Quran. Keimanan harus dilanjutkan dengan amal saleh.
"Al-Quran itu bukan sekadar dibaca. Ia adalah petunjuk. Ketika Allah memberikan kabar gembira kepada orang beriman, keimanan itu harus dibuktikan dengan amal saleh," katanya.
Karena itu, kedekatan dengan Al-Quran semestinya melahirkan perubahan perilaku. Semakin seseorang memahami petunjuk Allah, semakin besar pula dorongan untuk melakukan kebaikan.
Pengajian Bukan Sekadar Berkumpul
Ustaz Syahdan juga mengingatkan pentingnya menghadiri majelis ilmu.
Menurutnya, pengajian bukan sekadar forum berkumpul, tetapi bagian dari upaya membangun kehidupan spiritual dan intelektual umat.
Ia menyampaikan bahwa majelis ilmu memiliki keutamaan besar. Orang-orang yang berkumpul untuk mengingat Allah dan mempelajari agama mendapatkan rahmat, ketenangan, serta perhatian para malaikat.
Karena itu, jamaah diminta tidak meremehkan langkah menuju majelis ilmu.
Setiap langkah menuju tempat pengajian, menurutnya, harus dipandang sebagai bagian dari perjalanan mendekatkan diri kepada Allah.
Istiqamah Menjadi Kunci Keselamatan
Pada bagian akhir ceramah, Ustaz Syahdan menekankan pentingnya istiqamah.
Menurutnya, seorang Muslim tidak cukup hanya mengakui Allah sebagai Tuhan. Pengakuan tersebut harus diwujudkan dengan konsistensi menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Orang yang istiqamah akan memperoleh pertolongan Allah, baik dalam kehidupan dunia maupun ketika menghadapi kehidupan akhirat.
Ia mengingatkan bahwa janji Allah kepada orang-orang yang teguh di jalan-Nya adalah janji yang pasti.
"Yang penting istiqamah di jalan Allah. Kalau kita berada di jalan Allah, jangan khawatir. Allah telah menjanjikan pertolongan dan perlindungan kepada orang-orang yang istiqamah," ujarnya.
Mengisi Kemerdekaan dengan Perubahan Nyata
Ceramah Ustaz Syahdan pada akhirnya mengajak jamaah melihat kemerdekaan dari perspektif yang lebih dalam.
Kemerdekaan bukan hanya peristiwa sejarah yang diperingati setiap bulan Agustus. Kemerdekaan adalah amanah yang harus terus diisi dengan kerja nyata.
Bangsa Indonesia harus terus bergerak menuju masyarakat yang berilmu, mandiri, adil, sejahtera, dan bertakwa.
Bagi warga Muhammadiyah, semangat tersebut menemukan bentuknya dalam gerakan Islam berkemajuan: menghadirkan nilai-nilai Al-Quran dan Sunnah dalam kehidupan, mencerahkan masyarakat, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta membangun peradaban.
Dengan demikian, memperingati kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang menyiapkan masa depan.
Sebab kemerdekaan yang sesungguhnya bukan sekadar terbebas dari penjajahan, melainkan kemampuan sebuah bangsa untuk berdiri dengan martabatnya sendiri, mengelola amanah dengan adil, mencerdaskan rakyat, mengentaskan kemiskinan, dan membangun kehidupan yang diridai Allah SWT.



