Menjadi Pribadi yang Lebih Baik di Bulan Penuh Keberkahan
Menjadi Pribadi yang Lebih Baik di Bulan Penuh Keberkahan
Ustadz Agus Salim: Syukur, Ikhlas, dan Kesabaran adalah Fondasi Kehidupan Seorang Mukmin
TABANAN — Semarak Zulhijjah yang diselenggarakan di Masjid Al-Hamzah, Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, tidak hanya menjadi ajang silaturahmi umat Islam di daerah pegunungan Bali itu, tetapi juga menjadi ruang perenungan spiritual yang mendalam. Dalam tausiyah utamanya, Ustadz Agus Salim, S.Pd.I, mengajak jamaah menjadikan Bulan Zulhijjah sebagai momentum memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan menata kembali orientasi hidup menuju ridha Allah SWT.
Di hadapan jamaah yang memenuhi masjid, Ustadz Agus Salim menegaskan bahwa perubahan menuju kebaikan tidak harus dimulai dari hal-hal besar. Justru, menurutnya, perubahan sejati lahir dari kesadaran hati untuk memperbaiki diri sedikit demi sedikit namun dilakukan secara istiqamah.
“Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik. Mulailah dari apa yang mampu kita lakukan hari ini. Sebab hidup adalah perjalanan menuju Allah, dan setiap langkah kecil menuju kebaikan memiliki nilai di sisi-Nya,” tuturnya.
Syukur yang Tidak Berhenti di Lisan
Dalam ceramahnya, Ustadz Agus Salim menyoroti pentingnya syukur sebagai salah satu kunci kebahagiaan hidup. Ia mengingatkan bahwa banyak manusia terjebak dalam perasaan kurang, meskipun sesungguhnya telah diberikan nikmat yang melimpah.
Menurutnya, syukur bukan sekadar mengucapkan Alhamdulillah, melainkan menggunakan seluruh nikmat yang diberikan Allah sesuai dengan tujuan penciptaannya.
“Bersyukur bukan hanya di bibir. Bersyukur adalah bagaimana mata digunakan untuk melihat kebaikan, tangan digunakan untuk membantu sesama, dan harta digunakan untuk kemaslahatan,” jelasnya.
Ia mengajak jamaah untuk tidak terus-menerus membandingkan diri dengan mereka yang berada di atas secara materi, melainkan melihat mereka yang hidup dalam keterbatasan agar tumbuh rasa syukur dan empati.
“Rumah yang sederhana, kendaraan yang biasa, pekerjaan yang mungkin belum sempurna, semua itu tetap merupakan nikmat Allah yang harus disyukuri,” katanya.
Keikhlasan sebagai Energi Kehidupan
Lebih lanjut, Ustadz Agus Salim menjelaskan bahwa seluruh amal hanya akan bernilai apabila dibangun di atas pondasi keikhlasan. Ia mengingatkan bahwa banyak orang berbuat baik, tetapi kehilangan nilai amal karena tujuan yang keliru.
Menurutnya, keikhlasan berarti menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam setiap aktivitas kehidupan.
“Segala sesuatu yang dilakukan karena Allah akan terasa ringan. Namun ketika dilakukan demi pujian manusia, maka akan menjadi beban yang melelahkan,” ujarnya.
Ia mencontohkan bagaimana para sahabat Nabi SAW mampu mengorbankan harta, tenaga, bahkan jiwa mereka karena keyakinan bahwa seluruh kehidupan pada hakikatnya adalah milik Allah SWT.
Kesabaran Menghadapi Ujian Kehidupan
Dalam bagian lain ceramahnya, Ustadz Agus Salim mengingatkan bahwa kehidupan dunia tidak pernah lepas dari ujian. Kesulitan ekonomi, masalah keluarga, kesehatan, maupun berbagai persoalan sosial merupakan bagian dari sunnatullah yang harus dihadapi dengan kesabaran.
Menurutnya, kesabaran bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi kemampuan menjaga hati tetap tenang sambil terus berikhtiar.
“Allah tidak pernah memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Karena itu jangan mudah berputus asa. Setiap kesulitan selalu membawa peluang dan hikmah yang sering kali baru kita pahami di kemudian hari,” katanya.
Ia mengajak jamaah menjadikan Zulhijjah sebagai bulan latihan kesabaran dan pengorbanan, sebagaimana teladan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang menunjukkan kepatuhan total kepada Allah SWT.
Menjadi Muslim yang Bermanfaat
Menutup tausiyahnya, Ustadz Agus Salim mengajak jamaah untuk tidak hanya fokus pada kesalehan pribadi, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Menurutnya, keberhasilan seorang Muslim tidak diukur dari banyaknya harta atau jabatan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada sesama.
“Orang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Maka jadilah pribadi yang menghadirkan solusi, bukan menambah masalah. Jadilah sumber kebaikan di keluarga, masyarakat, dan lingkungan tempat kita hidup,” pesannya.
Semangat Baru dari Jatiluwih
Tausiyah yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan itu mendapat sambutan antusias dari jamaah. Di tengah hamparan hijau persawahan Jatiluwih yang terkenal hingga mancanegara, pesan-pesan tentang syukur, keikhlasan, kesabaran, dan pengabdian kepada sesama terasa mengalir begitu dekat dengan kehidupan masyarakat.
Semarak Zulhijjah di Masjid Al-Hamzah pun menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial. Ia menjelma menjadi ruang pembelajaran spiritual yang mengingatkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari hati yang bersyukur, jiwa yang ikhlas, dan kesabaran yang terus dirawat dalam perjalanan menuju Allah SWT. (AMBAR) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



