Menjadi Umat Pilihan: Kuliah Subuh Prof. Dr. Abdul Mu’ti di Denpasar, Menggugah Spirit Kebangkitan Islam Berkemajuan"
Mu'ti di Denpasar, Menggugah Spirit Kebangkitan Islam Berkemajuan
Denpasar, 13 Juli 2025 - Dalam udara pagi yang sejuk, selepas kumandang azan Subuh, halaman Jl. Batanta No. 80 Denpasar dipenuhi oleh para jamaah dari seluruh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan unsur organisasi otonom. Dalam rangkaian perjalanan ke Pondok Pesantren Internasional Dea Malela milik Prof. Dr. M. Din Syamsuddin di Bima, Nusa Tenggara Barat, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar, Menengah dan Nonformal RI, Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed., menyempatkan diri memberikan kuliah subuh istimewa yang menggugah kesadaran spiritual dan kebangsaan umat.
Dengan penuh khidmat, Prof. Mu'ti membuka tausiyahnya dengan ayat agung dari surah Ali 'Imran ayat 110:
"Kuntum khayra ummatin ukhrijat lin-nas, ta'muruna bil-ma'ruf wa tan-hauna 'anil-munkar wa tu'minuna billah..."
"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah."
Ayat ini menjadi fondasi perenungan akan potensi besar umat Islam untuk menjadi pelita peradaban, penebar rahmat, dan agen perubahan dunia.
Tiga Jenis Jamaah Subuh
Dengan gaya khasnya yang ringan namun mendalam, Prof. Mu'ti menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali atas kesigapan mereka menyiapkan acara dalam waktu singkat. Di sela itu, beliau berkelakar, "Yang hadir pagi ini terdiri dari tiga kelompok: yang terbiasa bangun Subuh, yang terpaksa bangun Subuh, dan mungkin... yang tersiksa bangun Subuh!" candanya yang disambut tawa hangat para hadirin.
Keberadaan Tokoh-Tokoh Strategis: Sebuah Silaturahmi yang Bermakna
Momen langka ini juga diramaikan oleh kehadiran tokoh-tokoh penting yang merupakan kader aktif Muhammadiyah namun saat ini mengemban amanah di luar struktur resmi. Salah satunya adalah Rektor ITB STIKOM Bali, Dr. Dadang Hermawan, yang telah hadir bahkan sebelum azan Subuh berkumandang. Di tengah padatnya aktivitas akademik dan kepemimpinan, Dr. Dadang menyempatkan hadir demi menjaga ikatan batin dengan gerakan Muhammadiyah. Tak hanya hadir secara fisik, beliau juga menyerahkan bingkisan berupa kain khas Bali kepada Prof. Mu'ti dan istri - sebuah simbol kehangatan budaya dan penguatan ukhuwah lintas wilayah dan profesi.
Hadir pula seorang tokoh penting dari Forum Pemerhati Sejarah Islam Bali, yang saat ini tengah merintis pembangunan Museum Bali Harmoni - sebuah inisiatif monumental yang bertujuan menjadi pusat sejarah masuknya Islam ke Bali, penguatan budaya toleransi, serta sebagai sentra kajian, pelatihan manasik haji, dan peradaban Islam multikultural.
Sayangnya, karena keterbatasan waktu, kedua tokoh ini belum berkesempatan menyampaikan secara utuh ide-ide brilian mereka kepada Prof. Mu'ti. Namun, jaringan silaturahmi yang terjalin di pagi penuh berkah itu telah mencatat jejak kehangatan dan niat baik - yang kelak akan berbuah pada pertemuan dan kolaborasi lebih lanjut.
Umat Pilihan di Panggung Global
Dalam pemaparannya, Prof. Mu'ti menyinggung hasil survei Pew Research Center tahun 2015 yang menunjukkan bahwa dari lebih dari 7 miliar penduduk dunia, mayoritas beragama Kristen, disusul Islam, lalu kelompok non-agama yang terbagi menjadi agnostik dan ateis. Meski secara kuantitas masih di bawah Kristen, umat Islam memiliki peluang besar menjadi umat pilihan - jika mampu memanfaatkan modal-modal strategisnya.
Beliau mencontohkan sejarah Bani Israil, yang meski hanya berjumlah kurang lebih sekitar 15 juta jiwa, mampu menorehkan pengaruh besar secara global karena menjadi "umat pilihan" pada masanya. Maka dari itu, ujar Prof. Mu'ti, kini saatnya umat Islam, khususnya Indonesia yang menjadi negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia, bangkit dan menunjukkan eksistensinya sebagai rahmat bagi semesta alam.
Namun, beliau juga memberi catatan penting: jumlah Muslim Indonesia kelak bisa digeser oleh India yang mencatatkan laju pertumbuhan umat Islam yang pesat. "Kualitas, bukan sekadar kuantitas, yang menentukan arah sejarah umat," tegasnya.
Lima Modal Strategis Muhammadiyah
Prof. Mu'ti kemudian memaparkan lima modal utama Muhammadiyah dalam meneguhkan perannya sebagai gerakan Islam yang tercerahkan:
Kelima modal ini, lanjut beliau, adalah kendaraan untuk membawa Muhammadiyah menjadi rahmatan lil ‘alamin - berkah bagi semua umat, tidak hanya bagi warga Muhammadiyah.
Tiga Hal yang Harus Dihindari
Namun demikian, Prof. Mu'ti juga mengingatkan agar gerakan ini tidak terjerumus pada tiga hal yang dapat menjadi racun organisasi:
"Jika Muhammadiyah mampu menghindari tiga racun ini, insya Allah ia akan menjadi mercusuar peradaban dan pelita dunia Islam," pungkas beliau dengan suara mantap.
Penutup yang Berkesan
Acara kuliah subuh ini menjadi bagian dari transit singkat Prof. Mu'ti sebelum melanjutkan perjalanan ke Pondok Pesantren Internasional Dea Malela, Bima - sebuah institusi pendidikan yang dibina langsung oleh Prof. Din Syamsuddin, tokoh penting dalam percaturan Islam global.
Kegiatan juga dimeriahkan dengan penampilan simbolik dari Aisyiyah, yang menampilkan bibit tanaman sebagai wujud dakwah lingkungan dan cinta bumi. Sebuah isyarat bahwa perjuangan Islam bukan hanya di mimbar, tetapi juga di ladang, di kelas, dan di seluruh sendi kehidupan.



