Detail Artikel

MENJAGA PERSATUAN UMAT, MERAWAT INDONESIA

MENJAGA PERSATUAN UMAT, MERAWAT INDONESIA

Catatan Kebangsaan dari Muhammadiyah dan MUI Pusat

Oleh: Suara Umat

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, forum kebangsaan dan keumatan kembali mengingatkan kita bahwa Indonesia dibangun bukan dari keseragaman, melainkan dari persatuan dalam perbedaan.

Dalam sambutannya, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan bahwa Muhammadiyah sejak awal hadir sebagai gerakan Islam yang berkemajuan, yang menempatkan dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial sebagai jalan utama membangun bangsa. Sejarah panjang Muhammadiyah di berbagai daerah—termasuk Bali—menjadi bukti bahwa Islam mampu hidup berdampingan, berkontribusi, dan memberi solusi nyata bagi masyarakat luas tanpa menegasikan kebinekaan.

“Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama memiliki misi yang sama: melayani umat, menjaga persatuan, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta,” tegasnya.

Lebih jauh disampaikan bahwa persatuan umat Islam bukan pilihan, melainkan keharusan sejarah. Perpecahan, apalagi yang dipicu oleh kepentingan politik sempit, hanya akan melemahkan kekuatan umat dan menjauhkan bangsa dari cita-cita keadilan sosial.


Islam Moderat, Jalan Tengah Bangsa

Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dalam sambutannya mengingatkan bahwa perbedaan cara beragama tidak boleh menjadi alasan untuk saling meniadakan. Islam Indonesia tumbuh dari tradisi dialog, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap kearifan lokal.

Menurutnya, konflik antarumat Islam sering kali bukan lahir dari ajaran agama, melainkan dari narasi yang sengaja dipertajam untuk memecah belah. Jika umat terpecah, maka kekuatan sosial, ekonomi, dan politik umat akan melemah dengan sendirinya.

“Jika umat ingin kuat, maka kuncinya adalah bersatu. Dan untuk bersatu, dibutuhkan kedewasaan, kelapangan hati, serta keikhlasan dalam berkhidmat,” ujarnya.

MUI menegaskan komitmennya untuk terus menjadi rumah besar umat Islam, yang merangkul seluruh ormas, golongan, dan generasi dalam semangat ukhuwah Islamiyah, wathaniyah, dan insaniyah.


Indonesia dan Masa Depan Peradaban

Dalam refleksi kebangsaan yang disampaikan, muncul keyakinan bahwa Indonesia memiliki potensi besar menjadi penyangga peradaban dunia di masa depan. Bukan dengan kekuatan senjata, tetapi dengan kekuatan moral, persatuan sosial, dan keadaban beragama.

Islam Indonesia—yang tumbuh dari pesantren, masjid, kampus, dan gerakan sosial—dipandang mampu menawarkan model peradaban yang damai, inklusif, dan berkeadilan. Namun semua itu hanya mungkin terwujud jika umat Islam tidak terjebak dalam konflik internal dan terus memperkuat kerja-kerja nyata di bidang pendidikan, ekonomi umat, dan pelayanan sosial.Penutup

Forum ini menegaskan satu pesan penting:
Umat Islam Indonesia hanya akan besar jika mampu bersatu, bekerja sama, dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan.

Muhammadiyah, NU, MUI, dan seluruh elemen umat dipanggil untuk terus bergandengan tangan—bukan demi kepentingan kelompok, tetapi demi masa depan bangsa dan kemanusiaan.

Suara Umat akan terus hadir mengabarkan ikhtiar-ikhtiar persatuan ini, sebagai bagian dari dakwah pencerahan dan jurnalistik keumatan. (RAYD) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'