Menjaga Tradisi, Merawat Harmoni: Kampung Santri Bali Sambut
Menjaga Tradisi, Merawat Harmoni: Kampung
Santri Bali Sambut
1
Muharram dan 1 Suro dengan Rotibul Haddad, Santunan, Jenang Suroan, dan Ancak
Pitu
TABANAN,
SUARAUMAT.ID – Malam
pergantian Tahun Baru Islam menjadi momentum istimewa bagi warga Kampung Santri
Bali yang berlokasi di Jalan Ulaman, Banjar Rauh, Desa Kapal, Kabupaten
Tabanan, Bali. Bertepatan dengan datangnya 1 Muharram 1448 Hijriah sekaligus
1 Suro dalam penanggalan Jawa, masyarakat menggelar rangkaian pengajian,
doa bersama, santunan, serta tradisi makan bersama yang sarat makna budaya dan
spiritual.
Kegiatan
yang berlangsung pada Selasa malam, 16 Juni 2026, mulai pukul 19.45 WITA
hingga selesai tersebut menjadi wujud syukur sekaligus ikhtiar spiritual
menyongsong tahun baru dengan harapan kehidupan yang lebih baik, lebih berkah,
dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Acara
diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan tawasul dan pembacaan
Rotibul Haddad yang diikuti jamaah dengan penuh kekhusyukan. Lantunan
dzikir dan doa menggema di tengah suasana malam, menghadirkan ketenangan
sekaligus memperkuat ikatan spiritual antarwarga.
Setelah
itu, jamaah bersama-sama mengikuti Doa Selamat, memohon perlindungan
Allah SWT dari segala mara bahaya, keselamatan keluarga, keberkahan rezeki,
serta kemudahan dalam menjalani kehidupan di tahun yang baru.
Momentum
keagamaan tersebut kemudian diperdalam melalui tausiah keislaman yang
mengingatkan pentingnya menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai sarana muhasabah
dan hijrah diri.
Dalam
penyampaiannya, pengasuh Kampung Santri Bali menegaskan bahwa makna 1 Muharram
dan 1 Suro bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum meninggalkan
kebiasaan yang kurang baik menuju kehidupan yang lebih diridhai Allah SWT.
"Hijrah
yang sesungguhnya adalah berpindah dari keburukan menuju kebaikan, dari
kelalaian menuju kesadaran, dan dari perpecahan menuju persaudaraan," pesannya di hadapan jamaah.
Santunan sebagai Wujud Kepedulian Sosial
Sebagai
bagian dari ajaran Islam yang menekankan kepedulian terhadap sesama, panitia
juga menyalurkan santunan kepada anak yatim, dhuafa, dan para janda yang
hadir dalam kegiatan tersebut.
Bantuan
yang diberikan merupakan amanah dari para donatur yang berasal dari lingkungan
Kampung Santri Bali maupun masyarakat luas yang turut berpartisipasi dalam
menyemarakkan peringatan Tahun Baru Islam.
Suasana
haru terasa ketika santunan diserahkan. Senyum penerima manfaat menjadi
gambaran nyata bahwa perayaan tahun baru tidak hanya diisi doa dan dzikir,
tetapi juga diwujudkan melalui aksi sosial yang memberikan manfaat langsung
kepada masyarakat.
Jenang Suroan dan Ancak Pitu, Warisan Budaya yang
Sarat Makna
Usai
rangkaian pengajian, jamaah mengikuti tasyakuran atau kauman dengan
menikmati hidangan khas bulan Suro berupa Jenang Suroan dan Ancak Pitu.
Jenang
Suroan merupakan bubur tradisional berbahan dasar beras yang disiram kuah kari
gurih dengan pelengkap ayam suwir, kacang tanah, tempe, telur dadar iris,
perkedel kentang kecil, daun seledri, dan cabai merah. Hidangan ini telah lama
menjadi simbol syukur masyarakat Jawa dan Using dalam menyambut datangnya bulan
Muharram.
Sementara
itu, perhatian jamaah tertuju pada Ancak Pitu, tradisi khas masyarakat
Using Banyuwangi yang masih lestari di kalangan warga diaspora Banyuwangi di
Bali.
Ancak
dibuat dari rangkaian tulang daun pisang dan bambu yang berfungsi sebagai wadah
makanan. Di atasnya tersaji nasi putih, aneka lauk-pauk, sayuran, buah-buahan,
serta hasil bumi lainnya yang kemudian ditutup kembali menggunakan daun pisang.
Berbeda
dengan tumpeng yang berbentuk mengerucut ke atas, ancak disusun datar.
Filosofi
ancak mencerminkan kesederhanaan, kebersamaan, dan kesetaraan manusia di
hadapan Allah SWT. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, karena
seluruh manusia memiliki kedudukan yang sama sebagai makhluk ciptaan-Nya.
Tujuh ancak
yang disiapkan malam itu dinikmati secara bersama-sama oleh jamaah yang hadir.
Sebagian disantap di lokasi sebagai simbol kebersamaan, sementara sebagian
lainnya dibawa pulang untuk dibagikan kepada keluarga sebagai berkah dan
pengingat nilai persaudaraan.
Diaspora Banyuwangi Merawat Tradisi di Bumi Bali
Kegiatan
tersebut dihadiri warga diaspora Banyuwangi yang berasal dari berbagai daerah,
di antaranya Taman Suruh, Kabat, Limbangan, Rogojampi, dan sejumlah wilayah
lain yang kini menetap di Bali. Turut hadir pula masyarakat Bali serta beberapa
mualaf yang ikut merasakan hangatnya suasana kebersamaan.
Di tengah
keberagaman Pulau Dewata, tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya dapat menjadi
sarana mempererat persaudaraan sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan.
Doa untuk Para Donatur dan Masa Depan Generasi
Menutup
rangkaian acara, panitia menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat dan
donatur yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
Doa
dipanjatkan agar setiap sedekah dan kontribusi yang diberikan menjadi amal
jariyah yang terus mengalir pahalanya, membawa keberkahan bagi keluarga,
memudahkan urusan dunia dan akhirat, serta mendapatkan perlindungan Allah SWT.
Peringatan
1 Muharram dan 1 Suro di Kampung Santri Bali akhirnya bukan sekadar seremoni
tahunan. Ia menjadi ruang perjumpaan antara agama, budaya, dan kemanusiaan.
Dari lantunan Rotibul Haddad, santunan kepada sesama, hingga semangkuk Jenang
Suroan dan Ancak Pitu, tersimpan pesan bahwa tradisi yang dirawat dengan baik
akan selalu melahirkan harmoni, persaudaraan, dan harapan baru bagi kehidupan
yang lebih bermakna.
Reporter:
Ambarwati
Editor: Redaksi SuaraUmat.id
(RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



