Menjemput Tanda-Tanda Diterimanya Ibadah di Penghujung Ramadan
Menjemput Tanda-Tanda Diterimanya Ibadah di Penghujung Ramadan
Khutbah Jumat – Masjid Sudirman Agung, Denpasar | 20 Maret 2026
Khatib: Ustadz Syaifudin (Ketua MUI Denpasar)
Denpasar – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Sudirman Agung, Denpasar, pada Jumat siang (20/3/2026). Jamaah yang memadati masjid mendapatkan siraman rohani yang mendalam dari khatib, Ustadz Syaifudin, yang dikenal sebagai Ketua MUI Denpasar pada periode sebelumnya.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menyampaikan bahwa kehadiran Pangdam IX/Udayana di tengah jamaah menjadi simbol kuatnya sinergi antara ulama dan umara dalam menjaga persatuan umat.
Ibadah dan Rahasia Keikhlasan
Mengawali khutbah, Ustadz Syaifudin mengajak jamaah merenungi satu pertanyaan mendasar:
bagaimana tanda-tanda ibadah kita diterima oleh Allah?
Beliau menegaskan bahwa meskipun keputusan akhir berada di tangan Allah, ada tanda-tanda yang dapat dirasakan oleh seorang hamba.
Tanda pertama adalah keikhlasan.
Setiap ibadah menuntut hati yang bersih dari riya dan pamrih. Namun di antara semua ibadah, puasa memiliki keistimewaan sebagai ibadah yang paling tersembunyi dan paling dekat dengan keikhlasan.
Berbeda dengan ibadah lain seperti haji atau sedekah yang dapat terlihat dan bahkan dipublikasikan, puasa tidak bisa dipamerkan, tidak bisa didokumentasikan, dan tidak bisa direkayasa.
Puasa adalah dialog sunyi antara hamba dan Tuhannya.
Istiqamah sebagai Tanda Diterimanya Ibadah
Tanda kedua dari diterimanya ibadah adalah istiqamah setelah ibadah itu berlalu.
Mengutip pandangan ulama, beliau menjelaskan bahwa tanda amal diterima adalah ketika seseorang mampu melanjutkannya dengan amal kebaikan berikutnya.
Selama Ramadan, umat Islam mendapatkan suasana yang sangat mendukung:
- Mudah melangkah ke masjid
- Semangat membaca Al-Qur’an meningkat
- Sedekah menjadi kebiasaan
- Sholat berjamaah terasa ringan
Namun beliau mengingatkan, ujian sesungguhnya bukan saat Ramadan, melainkan setelahnya.
Apakah semangat itu akan bertahan, atau justru memudar?
Istiqamah, menurut beliau, bukan berarti harus menyamai intensitas Ramadan, tetapi menjaga kesinambungan amal, meskipun dalam kadar yang sederhana namun konsisten.
Ujian Menjadi Hamba Sejati
Dalam bagian reflektif, Ustadz Syaifudin menegaskan:
“Kita tidak ingin menjadi hamba Allah yang hanya hidup di bulan Ramadan. Kita ingin menjadi hamba Allah yang sejati.”
Beliau menggambarkan realitas yang sering terjadi:
- Sholat berjamaah menurun drastis setelah Ramadan
- Al-Qur’an kembali jarang dibaca
- Semangat sedekah mulai berkurang
Di titik inilah keimanan sedang diuji.
Apakah seorang Muslim mampu menjaga nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari, atau hanya menjadikannya sebagai ibadah musiman.
Ramadan: Akhir atau Awal
Menjelang akhir khutbah, beliau mengingatkan bahwa Ramadan akan segera berlalu dan umat Islam akan memasuki bulan Syawal.
Momentum ini menjadi cermin:
apakah Ramadan menjadi akhir dari kebaikan, atau justru awal dari perjalanan iman yang lebih panjang.
Keberhasilan Ramadan bukan diukur dari semangat selama sebulan, tetapi dari kemampuan menjaga nilai-nilainya setelah ia pergi.
Penutup
Khutbah ditutup dengan doa agar Allah memberikan kekuatan kepada umat Islam untuk menjaga keikhlasan dan mempertahankan istiqamah dalam ibadah.
Pesan yang disampaikan terasa sederhana namun mendalam:
Ibadah bukan tentang momentum, tetapi kesinambungan.
Bukan tentang semangat sesaat, tetapi keteguhan sepanjang hayat.(RAYD)



