Menyelamatkan Endek Bali, Menyulam Harmoni Peradaban
Menyelamatkan Endek Bali, Menyulam Harmoni Peradaban
Denpasar – Suasana khidmat menyelimuti ruang pertemuan ketika Dr. Andi Irman membuka acara dengan salam Islami dan salam tradisional Indonesia. Kehadiran berbagai pejabat daerah, mulai dari perwakilan Dinastis, Ekaube Bali, Porto Binda Bali hingga otoritas setempat lainnya, menandai keseriusan agenda ini: membicarakan masa depan pelestarian budaya Bali, khususnya kain tenun Endek.
Ancaman Identitas dari Pasar Non-Lokal
Dalam paparannya, Dr. Andi Irman mengungkap fakta yang mencemaskan: 83 persen kain Endek yang beredar di pasaran Bali bukanlah produk lokal, melainkan hasil produksi luar daerah. Dominasi ini bukan hanya soal angka, melainkan ancaman serius terhadap identitas budaya Bali sekaligus keberlanjutan ekonomi masyarakat pengrajin.
“Kita tidak bisa memandang Endek sekadar komoditas. Ia adalah simbol identitas, spiritualitas, dan sosial budaya Bali,” tegasnya, seraya menekankan pentingnya memberdayakan kembali penenun lokal agar tidak terpinggirkan oleh arus industrialisasi.
Menjelang Forum Intelektual Dunia di Bali
Pertemuan tersebut juga menjadi panggung pengumuman penting: pada 5–7 Desember mendatang, Bali akan menjadi tuan rumah pertemuan akbar sekitar 1.500 intelektual dari dalam dan luar negeri. Forum yang diinisiasi It’s Me Pusat bersama Orwell Bali ini akan membahas arah masa depan Indonesia dan Bali dalam konteks global.
Acara berskala internasional itu diproyeksikan bukan hanya sebagai pertemuan intelektual, tetapi juga ruang untuk meneguhkan kembali narasi harmoni: Islam yang bersanding dengan kearifan lokal, serta budaya yang berpadu dengan modernitas.
Budaya Sebagai Pilar Peradaban
Para pembicara sepakat, pelestarian Endek tidak berhenti pada aspek ekonomi. Ia adalah simbol peradaban: perekat identitas, kebanggaan kultural, sekaligus kekuatan ekonomi yang memberdayakan komunitas.
Langkah konkret pun disiapkan. Pihak berwenang berkomitmen menangani dominasi kain non-lokal, sementara panitia acara Desember tengah menggalang dukungan dari tokoh agama, komunitas, hingga akademisi.
Harmoni yang Disulam dari Benang Tradisi
Pertemuan ini pada akhirnya menegaskan satu pesan: menyelamatkan Endek Bali bukan sekadar menjaga selembar kain. Ia adalah ikhtiar menjaga harmoni, meneguhkan akar budaya, dan menyulam jalan bagi peradaban yang lebih berdaulat di tanah sendiri. (RAYD)



