Detail Artikel

Menyemai Harapan di TK Bhakti: Posko Bersama Menyapa dengan Cinta

Menyemai Harapan di TK Bhakti: Posko Bersama Menyapa dengan Cinta


Denpasar, 29 September 2025 —

Siang yang terik mulai menua, jarum jam menunjuk pukul 14.00 WITA. Dari Posko Bersama Bundo Kanduang, sebuah perjalanan kecil tapi penuh arti diberangkatkan. Di dalamnya, tiga nama yang sudah menjadi denyut nadi kepedulian: H. Imam Asrorie, L. Nining, dan L. Yogo.


Tujuan mereka adalah TK Bhakti, sebuah sekolah yang sejak berdirinya bukan hanya sekadar ruang belajar, tetapi taman pertama yang menanam benih karakter. Di bangku-bangku mungilnya, tawa anak-anak setiap hari tumbuh menjadi doa; di dinding-dindingnya, penuh tempelan warna dan coretan imajinasi yang seakan berkata: masa depan harus tetap cerah, meski bencana sempat singgah.


Hari itu, keenam paket sembako dibawa dengan hati-hati — bukan hanya sebagai bingkisan logistik, melainkan simbol kasih sayang untuk siswa, wali murid, dan para guru yang ikut merasakan pahit getir banjir. Bencana mungkin mengikis harta benda, tetapi ia tak akan pernah bisa meruntuhkan semangat berbagi dan solidaritas kemanusiaan.


Kehadiran rombongan kecil ini disambut hangat. Para guru yang biasanya menjadi pilar keteguhan di depan kelas, kali ini berdiri sebagai penerima uluran tangan solidaritas. Wali murid yang selama ini mengantar anak-anaknya dengan penuh cinta, kini merasakan ada keluarga besar lain yang ikut mendampingi mereka.


TK Bhakti, dengan segala kesederhanaannya, menjadi saksi bahwa Posko Bersama bukan hanya bergerak di ruang logistik, tetapi juga di ruang batin — menguatkan, meneguhkan, dan membangunkan kembali harapan.


“Ini bukan sekadar bantuan,” ujar seorang guru dengan mata berkaca-kaca, “tapi semangat kebersamaan yang menyalakan lagi optimisme kami untuk terus mendampingi anak-anak.”


Dari Bundo Kanduang ke TK Bhakti, jarak yang ditempuh tak seberapa jauh. Namun maknanya melintasi batas: dari sekadar perjalanan fisik, menjadi perjalanan hati. Sebuah langkah kecil yang membawa pesan besar: bahwa dalam setiap duka, selalu ada ruang bagi cinta untuk kembali tumbuh. (RAYD) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'