MENYIAPKAN SANTRI DI ERA DIGITAL: ANTARA KECERDASAN TEKNOLOGI DAN KEKUATAN AKHLAK
MENYIAPKAN SANTRI DI ERA DIGITAL: ANTARA KECERDASAN TEKNOLOGI DAN KEKUATAN AKHLAK
SUARAUMAT.ID — Perubahan adalah keniscayaan yang tidak dapat ditawar. Dalam lanskap zaman yang bergerak dengan kecepatan eksponensial, digitalisasi telah menjelma menjadi realitas yang tak terelakkan—menuntut kesiapan, sekaligus kesadaran. Dalam wawancara bersama Radio Megantara Bali, Dr. Dadang Hermawan menegaskan bahwa dunia pendidikan Islam kini berada pada titik krusial: antara bertahan dalam tradisi, atau bergerak adaptif menyongsong masa depan.
“Yang pertama tentu saja bagaimana mereka terus bergelut dengan digitalisasi ini,” ujarnya, menegaskan bahwa lembaga pendidikan Islam tidak boleh lagi berada di pinggiran perubahan. Sekolah, madrasah, dan pesantren dituntut untuk hadir sebagai aktor utama dalam transformasi, bukan sekadar penonton yang tertinggal oleh arus.
Ruang Belajar yang Melampaui Batas
Dalam pandangannya, proses pembelajaran telah mengalami redefinisi mendasar. Ia tidak lagi terikat pada ruang kelas, waktu tertentu, atau kehadiran fisik semata.
Belajar kini telah melampaui batas-batas konvensional—menjadi proses yang cair, fleksibel, dan terbuka.
Fenomena Work From Anywhere (WFA) yang merambah dunia kerja, kini juga menjalar ke dunia pendidikan. Interaksi dengan guru dan ustaz tetap memiliki nilai penting, namun teknologi membuka kemungkinan baru: belajar dapat berlangsung kapan saja, di mana saja, bahkan secara mandiri.
Di sinilah transformasi menjadi nyata—bahwa pengetahuan tidak lagi dimonopoli oleh ruang formal, melainkan tersebar dalam jejaring digital yang luas dan tak berbatas.
AI dan Lompatan Peradaban Pengetahuan
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin mempercepat pergeseran tersebut. Jika dahulu masyarakat menggantungkan diri pada mesin pencari, kini AI menghadirkan akses pengetahuan yang lebih cepat, lebih dalam, dan lebih terstruktur.
“Dulu kita mengenal ‘Mbah Google’, sekarang AI jauh lebih cerdas dan komprehensif,” ungkapnya.
Bagi generasi muda, ini adalah peluang besar. Pembelajaran mandiri menjadi semakin relevan, bahkan menjadi kebutuhan. Siapa pun dapat belajar, tanpa harus menunggu ruang kelas dibuka.
Namun, kemudahan ini sekaligus menjadi ujian.
Akhlak sebagai Penentu Arah
Di balik kemajuan yang memukau, Dr. Dadang mengingatkan bahwa digitalisasi tidak selalu berjalan dalam koridor kebaikan.
“Yang lebih penting adalah penanaman karakter dan akhlak.”
Pernyataan ini menjadi titik tekan yang tidak dapat diabaikan. Tanpa fondasi moral yang kuat, teknologi justru dapat menjadi pintu masuk bagi berbagai penyimpangan: penipuan digital, judi daring, hingga kecanduan gim yang perlahan menggerus kualitas kehidupan sosial dan spiritual.
Digitalisasi, pada akhirnya, bukan sekadar soal kecanggihan—melainkan soal arah.
Dan arah itu ditentukan oleh nilai.
Literasi Digital yang Berjiwa Nilai
Dalam konteks ini, literasi digital tidak cukup dipahami sebagai kemampuan teknis. Ia harus diperluas menjadi kesadaran etis—kemampuan memilah, memahami, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
“Jika literasi dan edukasi akhlak ditanamkan dengan baik, maka dampak negatif digitalisasi bisa diminimalkan,” jelasnya.
Di sinilah pendidikan Islam menemukan relevansinya yang paling mendalam. Ia tidak hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga membentuk manusia yang mampu mengendalikan teknologi itu sendiri.
Menyeimbangkan Akal dan Jiwa
Refleksi ini membawa kita pada satu kesimpulan penting: masa depan pendidikan Islam tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi yang diadopsi, tetapi oleh kekuatan nilai yang ditanamkan.
Kecerdasan digital tanpa akhlak adalah kekuatan tanpa arah. Sebaliknya, akhlak tanpa kecakapan teknologi berisiko tertinggal oleh zaman.
Maka, keseimbangan menjadi kata kunci—antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual, antara inovasi dan nilai, antara kemajuan dan kemanusiaan.
Ujian bagi Pendidikan Islam
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana manusia memanfaatkannya.
Apakah ia akan menjadi alat pencerahan, atau justru jalan menuju kemunduran?
Di titik inilah pendidikan Islam diuji.
Mampukah ia melahirkan generasi yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga kokoh dalam akhlak?
Pertanyaan itu bukan sekadar retoris. Ia adalah panggilan zaman—yang menuntut jawaban nyata.(RAYD)



