Detail Artikel

Menyulam Sinergi: Pertemuan Arjuna Rescue 115 dan Posko Bersama

Menyulam Sinergi: Pertemuan Arjuna Rescue 115 dan Posko Bersama

Pagi itu, suasana Posko Bersama di rumah makan Bundo Kanduang berbeda dari biasanya. Aroma kopi hangat berbaur dengan riuh rendah percakapan para relawan yang tengah menata agenda. Namun, yang paling menyita perhatian adalah hadirnya seorang pria paruh baya berbalut pakaian putih ASN. Rambutnya rapi, wajahnya bersih, geraknya berwibawa—sekelas perwira lapangan yang terbiasa memimpin operasi darurat.

Dialah Drs. Brama Budianto Darsono, S.H., Ketua Arjuna Rescue SAR 115, sosok yang biasanya tampil dengan seragam penyelamat, lengkap dengan sepeda motor berbox dan rompi lapangan. Namun kali ini berbeda. Tidak ada peluit komando, tidak ada sepatu boot yang menjejak lumpur. Yang hadir adalah figur pemimpin yang membawa visi: menyatukan kekuatan kemanusiaan melalui sebuah nota kesepahaman (MoU) dengan Posko Bersama, yang dikoordinasikan oleh H. Imam Asrorie.

Pertemuan itu tidak sekadar temu sapa, melainkan penegasan arah baru dalam penanganan kebencanaan. Lantip Yayuk, yang dikenal sebagai penghubung antara jejaring ormas dan relawan, menjadi jembatan yang mempertautkan dua entitas besar: Arjuna Rescue, ujung tombak pemerintah dalam operasi penyelamatan, dengan Posko Bersama, simpul kemanusiaan yang digerakkan oleh enam ormas — Lazismi, ICMI Orwil Bali, Forum Pemerhati Sejarah Islam, Majelis Taklim IPHI, Wanita Islam, dan Suara Umat — serta didukung oleh Bundo Kanduang yang menyediakan ruang persaudaraan.

Dalam suasana yang hangat namun serius, terjalin percakapan tentang sinergi tanggap darurat dan pemulihan pasca-bencana. Bahwa kehadiran masing-masing pihak bukan untuk berjalan sendiri, melainkan saling menopang. Bahwa penyelamatan bukan hanya urusan teknis lapangan, tetapi juga urusan hati: membangun jaringan, memperkuat solidaritas, dan memastikan tidak ada yang tertinggal dalam lingkar bantuan.

Ketua Rescue yang siang itu tampak tenang dengan cincin akik di jemarinya dan tasbih di tangan, menyampaikan komitmen: “Arjuna Rescue bukan sekadar pasukan darurat. Kami adalah bagian dari masyarakat, dan siap menjadi mitra strategis Posko Bersama, agar setiap bencana menjadi momentum kebangkitan, bukan sekadar luka.”

Momen itu diabadikan bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan kesadaran mendalam: bahwa kolaborasi adalah jalan panjang yang membutuhkan kesabaran. MoU yang tengah dirintis menjadi simbol, bahwa antara negara, ormas, dan komunitas relawan, ada ruang luas untuk sinergi tanpa batas.

Seperti sungai yang mencari muara, kerja sama ini diharapkan terus mengalir, menjangkau mereka yang terdampak bencana, memberi harapan ketika air surut, dan meneguhkan semangat ketika badai datang kembali.

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'