Menyusuri Jalan Menuju Ridho-Nya
Menyusuri Jalan Menuju Ridho-Nya
Denpasar, 23 September 2025
Pagi itu, tepat pukul sembilan, rombongan kecil dari Posko Bersama Bundo Kanduang berangkat dengan langkah mantap. H. Saleh beserta istri, H. Imam, dan Lantip Yayuk menjadi penggeraknya. Di tangan mereka ada 17 paket sembako—bukan sekadar barang, melainkan titipan kasih yang dibalut doa.
Lalu lintas Denpasar, seperti biasa, padat dan macet. Jalan seolah tidak pernah mengenal waktu, tidak pula memberi jeda tempat. Semua berdesakan mencari ruang, tetapi jarang ada yang benar-benar mencari solusi. Di tengah hiruk pikuk itu, mereka melaju tanpa keluh, karena di hati hanya ada satu tujuan: menyampaikan amanah kepada yang berhak.
Tujuan pertama adalah Banjar Kusuma Jati, yang terletak di jalan Bung Tomo, Kusuma Bangsa. Warga sudah menanti dengan penuh harap. Komunikasi yang telah dijalin sejak kemarin membuat pertemuan berlangsung hangat. Kusuma Jati adalah saksi bisu dari dua sungai yang terus menyempit: dahulu selebar tujuh meter, kini tinggal tiga meter. Ruang air kian terhimpit, daya tampung berkurang, akhirnya banjir mencari jalannya sendiri.
Di balik duka itu, tampak wajah-wajah penuh syukur. Warga lokal menyambut dengan antusias, mengucap terima kasih atas hadirnya tali kasih yang menyambung. Informasi presisi dari Lantip Yayuk memastikan bantuan tepat sasaran, tepat waktu.
Perjalanan berlanjut. Rombongan menuju kediaman Pak Toha, tokoh ICMI sekaligus Ketua Orda Badung yang juga terdampak. Dengan senyum ringan ia bercerita, sudah membeli kasur baru—simbol bahwa hidup memang harus terus bangkit meski sempat terpuruk.
Lalu singgah ke rumah Gusti Made Artawan, di Jalan Nuansa Cempaka, Perumahan Sastra Loka Nomor 5, Dusun Lepang, Desa Padang Sambian Kaja, Denpasar Barat. Satu lagi jejak silaturahmi terukir.
Perjalanan ditutup dengan kunjungan ke kediaman Pak Ainur Karim, di Jalan Pura Demak Barat, Gang Lange 3. Dari satu rumah ke rumah lain, dari satu senyum ke senyum lain, paket sembako yang sederhana berubah menjadi simbol besar: kehadiran, perhatian, dan kepedulian.
Jam menunjukkan pukul dua siang ketika tim kembali ke Posko. Letih tentu ada, tapi lebih besar lagi rasa lega. Semua perjalanan ini bukan sekadar distribusi bantuan, melainkan sebuah ikhtiar menyusuri jalan menuju ridho-Nya, mencari berkah-Nya, dan membangun persaudaraan yang tak lekang oleh waktu.(RAYD)



