Detail Artikel

Meracik Peradaban dari Silaturahmi: Intisari Gagasan Besar Farida Hanum untuk ICMI Bali”

“Meracik Peradaban dari Silaturahmi: Intisari Gagasan Besar Farida Hanum untuk ICMI Bali”

Denpasar — Dalam suasana hangat Halal bi Halal ICMI Orwil Bali, suara kepemimpinan itu tidak hadir dengan gegap gempita, melainkan mengalir tenang, penuh makna, dan menyentuh ruang batin. Ketua ICMI Orwil Bali, Ir. Farida Hanum, M.Si., menghadirkan sambutan yang bukan sekadar laporan kegiatan, tetapi sebuah refleksi mendalam tentang arah, nilai, dan masa depan organisasi.

Di hadapan para pengurus, anggota, dan tamu undangan, Farida Hanum merangkai narasi yang mempertemukan capaian konkret dengan visi besar. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ICMI Bali selama ini bukanlah hasil kerja individual, melainkan buah dari kebersamaan yang terjaga.

“Apa yang kita capai hari ini adalah hasil dari kebersamaan, keikhlasan, dan rasa memiliki yang tumbuh dalam setiap langkah kita,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar evaluasi, sambutan tersebut menjadi ajakan untuk menata ulang cara pandang—bahwa organisasi bukan hanya tempat berhimpun, tetapi ruang untuk bertumbuh dan memberi makna. Dalam konteks itulah, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara hati, iman, ilmu, dan identitas.

“Tidak cukup hanya hati yang bersih. Kita harus meneguhkan iman, memperkaya ilmu, dan menjaga identitas. Dari sanalah lahir insan cendekia yang berwawasan kebangsaan,” tegasnya.

Farida Hanum juga menggarisbawahi bahwa ICMI Bali telah bergerak melampaui sekadar wacana. Berbagai program nyata—mulai dari santunan sosial, penguatan literasi, hingga ruang diskusi ilmiah—menjadi bukti bahwa organisasi ini hidup dan berdenyut bersama masyarakat.

Dalam refleksinya terhadap program Ramadan 1447 H, ia menyoroti bagaimana target santunan kepada guru agama yang semula direncanakan 50 penerima, justru berkembang menjadi 78 orang.

“Ketika niat baik dirangkai dengan kesungguhan, hasilnya selalu melampaui batas yang kita rencanakan. Itulah keberkahan,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga menyinggung pentingnya inovasi dalam dakwah intelektual, seperti pengembangan podcast kajian, partisipasi dalam forum riset nasional, serta kolaborasi lintas bidang. Semua ini, menurutnya, adalah bentuk adaptasi ICMI terhadap zaman yang terus berubah.

Namun, di balik capaian-capaian tersebut, Farida Hanum tidak melupakan akar utama: silaturahmi. Ia menempatkan Halal bi Halal sebagai momentum strategis untuk memperkuat ikatan emosional dan spiritual antaranggota.

“Silaturahmi bukan sekadar tradisi. Ia adalah fondasi peradaban. Dari sanalah tumbuh kepercayaan, dan dari kepercayaan lahir kekuatan,” tuturnya.

Pada bagian akhir, ia mengajak seluruh anggota untuk menjaga jati diri sebagai insan yang memberi manfaat luas, tidak hanya dalam lingkup organisasi, tetapi juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Jadilah pribadi yang kehadirannya dinanti, keberadaannya dirindukan, dan kebaikannya diteladani,” pesannya, yang disambut dengan keheningan penuh makna.

Sambutan Farida Hanum bukan hanya penutup acara, melainkan penanda arah. Ia menegaskan bahwa ICMI Bali sedang bergerak menuju sesuatu yang lebih besar—bukan sekadar organisasi yang aktif, tetapi komunitas intelektual yang memberi dampak nyata bagi peradaban.

Dalam keheningan yang tersisa setelah acara usai, satu hal menjadi jelas: bahwa dari meja silaturahmi sederhana itu, sedang diracik masa depan yang penuh harapan.(RAYD)

 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'