Detail Artikel

Merajut Maaf, Menyulam Harapan, Halal Bihalal MUI Bali di Tengah Suara Serak Sound System”

“Merajut Maaf, Menyulam Harapan, Halal Bihalal MUI Bali di Tengah Suara Serak Sound System”

Ada yang lebih hangat dari kopi Bali pagi hari yaitu suasana Halal Bihalal yang digelar MUI Bali di Hotel Haris Cokroaminoto Denpasar. Acara ini tak hanya jadi ajang silaturahmi, tapi juga menjadi panggung refleksi, tawa, dan harapan yang diselimuti lantunan ayat suci dan suara merdu… yang sayangnya kalah telak oleh sound system yang seolah kelelahan ikut puasa juga.

Sekitar 300 peserta dari berbagai organisasi keislaman di Denpasar hadir dengan semangat penuh. Acara dimulai pukul 10.30 WITA, dibuka oleh MC dengan musik islami santai. Lagu-lagu indah berkumandang, meski terdengar seperti bisikan makhlul halus dari gua karena kendala teknis. Tapi, seperti kata orang bijak “Yang penting bukan seberapa keras suaranya, tapi seberapa tulus niatnya.”

Tiba saatnya tausiyah dari KH. Ketut Jamaluddin. Beliau menyampaikan bahwa pintu surga itu terbuka bagi mereka yang ikhlas saling memaafkan. Tapi ada yang nyeletuk, “Masuk surga itu syaratnya mati dulu, Kyai…” dan tawa pun pecah, menandakan bahwa humor juga punya tempat dalam spiritualitas.

Pak Kyai menegaskan, dosa kepada Allah bisa selesai dengan istighfar. Tapi dosa ke sesama? Ya, harus minta maaf langsung. Jangan berharap minta ampun di sajadah, tapi tetap nyenggol hati orang lain di dunia nyata.

Mic yang makin ngadat membuat Pak Kyai bingung, sampai lupa materi. Tapi seperti orang tua bijak, beliau tetap lanjut, membahas soal rumah tangga, perceraian, bahkan poligami (yang bikin sebagian peserta pria tersenyum dan para istri geleng-geleng pelan). “Perempuan adalah tiang agama. Kalau rapuh, robohlah tatanan rumah tangga,” tegas beliau. Kalimat sederhana, tapi dalam dan mendidik.

Sekitar pukul 11.52, kabar gembira datang, Gubernur Bali tiba! Tausiyah pun ditutup, dan acara resmi dimulai dengan lagu Indonesia Raya. Jumlah tamu melonjak jadi 300 lebih, dan suasana makin khidmat.

Dalam sambutannya, panitia mengucapkan terima kasih kepada gubernur yang telah menjadi bagian dari perjalanan spiritual umat, baik sebelum maupun sesudah menjabat.

KH. Mahrusun Hadiono dari MUI Bali menyampaikan tiga poin penting tentang peran MUI dalam kehidupan masyarakat, menegaskan bahwa MUI bukan hanya lembaga fatwa, tapi juga penjaga moral publik.

Gubernur Bali datang dengan energi penuh. Minta maaf atas keterlambatan karena tugas di Gianyar, lalu langsung menukik ke isu serius: lingkungan, sampah, kemacetan, dan tentu saja bule yang makin kreatif, jualan burger, yoga, bahkan jadi driver online! “Kalau ketemu lagi, saya deportasi,” ujarnya tegas. Bukan karena anti asing, tapi karena Bali harus dijaga dari yang merusak tatanan sosial dan ekonomi lokal.

Transportasi publik mulai berjalan lagi, walau sempat off karena anggaran yang bikin kaget, 80 miliar! Tapi gubernur optimis, dengan sinergi daerah, kemacetan bisa diurai, sampah bisa dibereskan, dan Bali bisa kembali harum tak hanya karena dupa, tapi juga karena kebersamaan.

Acara ditutup tepat pukul 13.05 WITA dengan doa dari KH. Saifuddin Zaini. Doa yang tak hanya mengalun di langit Denpasar, tapi juga mengetuk hati para hadirin untuk terus memperbaiki diri, menjaga harmoni, dan saling memaafkan karena hidup ini terlalu singkat untuk menanam dendam.

Begitulah Halal Bihalal versi Bali, penuh makna, tawa, dan semangat menjaga bumi pertiwi.

#fawaid_al#

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'