Detail Artikel

Merawat Persaudaraan di Tengah Zaman: Pesan Damai dari Mimbar Jumat

Merawat Persaudaraan di Tengah Zaman: Pesan Damai dari Mimbar Jumat

Khutbah Jumat – Musholla KH Ahmad Dahlan, Denpasar | Jalan Pulau Batanta No. 80
Khatib: Abdul Hakim


Denpasar – Suasana khusyuk menyelimuti Musholla KH Ahmad Dahlan pada Jumat siang. Jamaah yang hadir memenuhi ruang ibadah, menyimak dengan tenang setiap kalimat yang disampaikan khatib, Abdul Hakim.

Dalam khutbahnya, beliau mengangkat tema yang sangat relevan dengan kehidupan saat ini: merawat persaudaraan dan menjaga keimanan di tengah tantangan zaman modern, termasuk derasnya arus informasi di media sosial.


Iman yang Terukur dari Kepedulian

Mengawali pesan utamanya, khatib menegaskan bahwa keimanan seseorang tidak hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi juga dari kepedulian sosialnya.

“Seseorang belum sempurna imannya sampai ia mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Kalimat ini menjadi penegasan bahwa iman bukan hanya urusan pribadi, melainkan memiliki dimensi sosial yang kuat.

Empati, simpati, dan kepedulian terhadap sesama adalah cermin nyata dari kualitas iman seseorang.


Tiga Pilar Persaudaraan

Khatib kemudian menjelaskan bahwa dalam kehidupan ini terdapat tiga bentuk persaudaraan yang harus dijaga:

  1. Persaudaraan sesama umat Islam, yang dilandasi oleh iman.
  2. Persaudaraan kebangsaan, sebagai sesama warga negara Indonesia.
  3. Persaudaraan kemanusiaan, sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Ketiganya harus berjalan seimbang, saling menguatkan, dan tidak boleh saling meniadakan.

Beliau mengingatkan bahwa umat Islam ibarat satu bangunan yang saling menguatkan, atau satu tubuh yang saling merasakan.

Jika satu bagian terluka, maka seluruh bagian lainnya akan ikut merasakan sakit.


Larangan Berpecah Belah

Dalam bagian yang penuh penekanan, khatib mengingatkan agar umat tidak kembali pada pola hidup jahiliyah:

berselisih, berpecah, dan terkotak-kotak dalam kelompok yang saling menjatuhkan.

Padahal, pedoman hidup sudah jelas tersedia, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.

“Jangan sampai kita terpecah hanya karena perbedaan yang seharusnya bisa disikapi dengan bijak.”

Pesan ini menjadi refleksi mendalam di tengah realitas masyarakat yang kerap mudah terprovokasi oleh perbedaan.


Etika Bermedia Sosial: Ujian Zaman Modern

Khutbah kemudian mengarah pada fenomena yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: media sosial.

Khatib mengingatkan dengan tegas:

“Berhati-hatilah dalam menggunakan media sosial. Jangan mudah terprovokasi, jangan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.”

Beliau menekankan bahwa:

  • fitnah lebih berbahaya daripada pembunuhan
  • dosa kepada sesama manusia tidak akan selesai tanpa penyelesaian langsung

Dalam situasi seperti ini, sikap terbaik adalah menahan diri.

“Jika ada yang memprovokasi, jangan dibalas dengan keburukan. Doakan kebaikan, dan tetap jaga akhlak.”


Menuju Masyarakat yang Damai

Di akhir khutbah, Abdul Hakim mengajak seluruh jamaah untuk bersama-sama menjaga persatuan:

membangun masyarakat yang damai, saling menghormati, dan bebas dari fitnah serta permusuhan.

Beliau menegaskan bahwa kedamaian tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus diupayakan melalui sikap bijak dan akhlak yang mulia.

“Mari kita jaga persatuan sebagai umat Islam dan sebagai bangsa Indonesia, agar kita dapat hidup dalam kedamaian dan keberkahan.”


Penutup

Khutbah ditutup dengan ajakan untuk terus memperkuat iman dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Pesan yang tertinggal begitu kuat:

Iman yang sejati tidak hanya tampak dalam ibadah, tetapi juga dalam cara kita memperlakukan orang lain.
Dan persaudaraan yang terjaga adalah fondasi utama bagi kehidupan yang damai.


Redaksi | Denpasar (RAYD)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'