Detail Artikel

Merayakan Keanggunan Usia Senja: HLUN ke-27 Lantipda Bali Tampilkan Lansia yang Tangguh, Bahagia, dan Penuh Warna

Merayakan Keanggunan Usia Senja: HLUN ke-27 Lantipda Bali Tampilkan Lansia yang Tangguh, Bahagia, dan Penuh Warna

Denpasar, 15 Juni 2025 — Di bawah sinar pagi yang hangat, halaman Sekolah Pelangi Dharma Nusantara Denpasar dipenuhi senyum, langkah ringan, dan semangat juang para lansia. Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-27 bukan hanya seremoni tahunan—ia menjadi ruang afirmasi: bahwa usia bukan batas, tetapi justru pintu menuju keberdayaan dan kebahagiaan baru.

Dengan mengusung tema:

Dengan HLUN Kita Tingkatkan Lansia yang Sehat, Bahagia, Tangguh, dan Berdaya Guna,”


acara ini menjadi panggung nyata bagaimana para lansia menari dalam irama usia dengan kepala tegak dan hati merdeka.


Gerak Awal: Senam Lansia dan Pagi Penuh Energi

Sebelum prosesi resmi dimulai, para peserta terlebih dahulu diajak untuk menghangatkan tubuh dan jiwa lewat senam lansia bersama. Dengan musik ritmis dan gerakan penuh ceria, lansia dari berbagai kabupaten/kota menari bersama, menyatu dalam semangat kolektif: “Kami sehat, kami kuat.”


Seremoni Nasionalisme dan Hormat

Acara dibuka secara resmi dengan suasana khidmat nan menggugah:

  • Lagu Indonesia Raya

  • Mars dan Hymne Lantip, dipandu dirigen L. Ari Bram

  • Doa lintas iman oleh L. M. Soleh

Ini bukan sekadar tradisi. Ia adalah penghormatan kepada negeri dan para lansianya—penjaga nilai dan pengalaman bangsa.


Sentuhan Sosial: Bantuan Sosial untuk Mereka yang Memerlukan

Sebanyak 17 lansia duafa menerima bantuan sosial, sebagai bentuk konkret perhatian dan empati. Simbolisasi dilakukan kepada 7 penerima, diserahkan langsung oleh L. Yogo Prayitno, Wakil Ketua Lantipda. Momen ini menggambarkan bahwa dalam sistem sosial Lantip, tak seorang pun dibiarkan berjalan sendirian.


Pengetahuan yang Mencerahkan: Talkshow Cegah Demensia

Mata para peserta berbinar kala DR. dr. I Gusti Putu Suka Aryana, S.Pd.K.Ger. membawakan talkshow edukatif tentang pencegahan Demensia. Penjelasannya lugas namun hangat, mengajarkan bahwa menjaga daya ingat di usia lanjut bukan mustahil. “Kita tetap bisa tajam, kuat, dan mandiri,” ujarnya, disambut tepuk tangan.


Simfoni Semangat: Panggung Seni Lansia

Peringatan HLUN ini bukan hanya soal diskusi—ia tentang ekspresi dan selebrasi:

  • Pentas Angklung oleh ALBA yang menyejukkan hati

  • Linedance Lansia yang penuh semangat dan irama

  • Sekar Lantip yang menyanyikan lagu-lagu nostalgia penuh kenangan

Tak hanya tampil memukau, para lansia menunjukkan bahwa berkesenian adalah terapi, adalah bahagia.


Ekspresi Lantip: Identitas dan Keberdayaan

Empat sosok lansia tampil dalam segmen “Ekspresi Lantip”:

  • Lantip Tangguh

  • Lantip Bahagia

  • Lantip Sehat

  • Lantip Berdaya Guna

Mereka tampil percaya diri, mengenakan atribut simbolis dan gestur unik. Ini bukan sekadar atraksi panggung, melainkan pernyataan lantang: usia lanjut adalah masa emas untuk meneguhkan jati diri.


Lantip Berdendang, Door Prize dan Makan Siang Bersama

Acara ditutup dengan sesi “Lantip Berdendang”, di mana peserta bebas menyanyi, tertawa, dan berdansa. Suasana makin semarak saat door prize dibagikan—membawa gelak tawa dan kejutan menyenangkan. Makan siang bersama menjadi penutup hangat yang mempererat kebersamaan, membalut semangat dalam rasa syukur.


Harapan dari Bali: Lansia adalah Potensi Bangsa

Dalam berbagai sambutan—dari Ketua Panitia dr. Dian Ridhani, Ketua Lantipda Bali L. Henk Kusumawardana, dan tuan rumah yang diwakili L. Pande—terdengar harapan yang sama:
Bahwa Lansia bukan beban, tapi sumber daya sosial. Mereka adalah penjaga nilai, penjaga keluarga, penjaga masa depan.


Akhir Kata: Usia Senja Bukan Titik Akhir, tapi Titik Awal Kembali Bersinar

Dari Denpasar, sebuah pesan dikirimkan ke seluruh penjuru Nusantara:
Hidup adalah proses yang tak berhenti. Dan usia bukan rem, melainkan sayap baru untuk terbang lebih bijaksana.( Chef RAYS) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'