Detail Artikel

Merenda Silaturahmi, Membawa Buah Tangan

Merenda Silaturahmi, Membawa Buah Tangan

Catatan dari Posko Bersama Banjir Denpasar

Alhamdulillah, lima belas paket sembako kembali hadir di antara kita. Bukan sekadar beras, minyak, atau gula yang terbungkus rapi, melainkan simbol kepedulian yang tak pernah padam, meski waktu bergulir dan banjir mulai surut. Setiap paket adalah doa, setiap bungkusan adalah tanda bahwa masih ada tangan-tangan yang rela berbagi, bahkan di tengah kesibukan dan keterbatasan.

Namun perjalanan kemanusiaan belum usai. Seperti yang disampaikan Koordinator Posko Bersama, hari ini semangat itu akan dilipatgandakan. Sebanyak 35 paket sembako kembali disiapkan, bukan untuk sekadar dibagi, melainkan untuk dijadikan buah tangan saat silaturahmi dengan saudara-saudara yang masih terdampak banjir.

Silaturahmi ini bukan hanya kunjungan sosial, melainkan jembatan hati. Karena bencana tidak pernah memilih siapa yang akan ditimpa; entah ia warga asli yang sudah berpuluh tahun menjejak tanah ini, atau penyewa rumah kontrakan yang baru kemarin datang membawa harapan. Semua adalah manusia, semua berhak atas kepedulian.

Meski begitu, catatan lapangan menunjukkan fakta: sebagian penerima bantuan ternyata bukan warga lokal, melainkan penyewa kontrakan yang menetap sementara. Sementara masyarakat lokal—pemilik rumah dan tanah—juga terdampak meski mungkin dengan cara berbeda. Maka hari ini, penyisiran data dilakukan. Bukan untuk membedakan apalagi memisahkan, tetapi untuk memastikan setiap bantuan sampai dengan adil, transparan, dan tepat sasaran.

Karena dalam kemanusiaan, tidak ada garis batas antara lokal dan non-lokal. Ada yang kehilangan harta benda, ada pula yang kehilangan ruang tinggal. Ada yang berduka karena rumahnya tergenang, ada pula yang resah karena kontrakannya terendam. Semua sama-sama manusia, semua sama-sama berhak ditolong.

Bencana memang membawa luka, tetapi juga membuka ruang luas bagi persaudaraan. Dari posko yang sederhana, kita belajar kembali tentang arti gotong royong: yang kuat menopang yang lemah, yang berlebih berbagi dengan yang kekurangan. Inilah wajah kemanusiaan yang sebenarnya—senyap, tulus, tanpa pamrih.

Maka biarlah 35 paket sembako itu menjadi saksi. Bahwa kita tidak pernah lelah berjalan, menembus lorong-lorong sempit dan gang becek, demi menyapa saudara-saudara yang masih menunggu. Bahwa kita percaya, setiap silaturahmi adalah ladang pahala, setiap buah tangan adalah pengikat hati.

Dan pada akhirnya, banjir bukan hanya tentang air yang meluap. Ia adalah ujian kebersamaan. Sebab di antara lumpur dan genangan, kita menemukan satu hal: kemanusiaan tidak pernah tenggelam. (RAYD) *Rek. PT. MEDIA SUARA UMAT. Bank BSI.7326712967*

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'