Meresapi Keberkahan Isra Mi'raj di Masjid Hidayatullah, Perumahan Tanah Bang
Meresapi
Keberkahan Isra Mi'raj di Masjid Hidayatullah, Perumahan Tanah Bang
Tabanan, 26
Januari 2025, Pagi hingga menjelang Dzuhur – Suasana penuh syahdu menyelimuti Masjid
Hidayatullah di Perumahan Tanah Bang dalam peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad
SAW. Acara yang dihadiri oleh ratusan jamaah ini berlangsung penuh hikmat,
menggugah hati, dan menyatukan jiwa untuk merenungi perjalanan spiritual
Rasulullah yang penuh makna.
Acara diawali
dengan lantunan hadrah dari ibu-ibu Assafar Majlis Taklim Tanah Bang. Dengan
suara merdu dan tabuhan dinamis yang berpadu sempurna, mereka melantunkan
pujian cinta kepada Rasulullah SAW. Syair-syair yang menggugah itu tak hanya
memikat telinga, tetapi juga menggerakkan hati untuk merenungi cinta kepada
Sang Nabi dan kerinduan akan ridho Ilahi.
Pembukaan yang
Menggetarkan Jiwa
Seorang MC
membuka acara dengan membacakan Ummul Kitab, Al-Fatihah, yang mengajak seluruh
jamaah untuk menyatukan hati dan pikiran. Fokus pun diarahkan kepada inti
acara: sebuah peringatan akan perjalanan agung Nabi Muhammad SAW dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke Sidratul Muntaha, bertemu langsung dengan
Allah SWT.
Dalam lantunan
Surah Al-Isra, jamaah diajak merenungi bagaimana Nabi Muhammad SAW yang tengah
bersedih—ditinggal wafat dua orang tercintanya, Khadijah dan Abu Thalib—tetap
menjalani perjalanan yang berat dengan penuh keikhlasan. Karena undangan dari
Allah SWT, segala kesulitan pun menjadi ringan.
Shalawat dan
Keberkahan
Saat shalawat
dilantunkan, sorban dihamparkan sebagai simbol menjemput keberkahan. Jamaah
berbondong-bondong menyampaikan titipan rizki, sebuah wujud rasa syukur dan
pengharapan kepada Allah SWT. Kehadiran grup hadrah dari pondok pesantren
militer menambah suasana semakin syahdu. Dengan lantunan Mahalul Qiyam, jamaah
berdiri, sementara asap harum dan wangi kesturi menyelimuti ruangan. Jiwa-jiwa
jamaah larut dalam rindu kepada Rasulullah SAW, menguatkan tekad untuk
meneladani beliau.
Ceramah: Shalat
Sebagai Sarana Pertemuan dengan Allah
Ceramah utama
menjadi puncak acara, menyampaikan pesan mendalam tentang shalat. Sang
penceramah menggambarkan shalat sebagai "proposal kehidupan" yang
diajukan kepada Allah SWT. Di dalamnya, tersimpan keluh kesah, harapan, dan
inspirasi, yang semuanya ditujukan kepada Sang Maha Pengasih. Namun, untuk
merasakan nikmatnya shalat, dibutuhkan latihan, usaha, dan kesungguhan.
“Shalat adalah
momen kita berjumpa dengan Allah. Jadikan ia bukan sekadar kewajiban, tetapi
kebutuhan jiwa,” pesan sang penceramah.
Penutup yang
Penuh Harapan
Acara ditutup
dengan doa bersama yang dilantunkan penuh haru. Jamaah memanjatkan harapan agar
setiap proposal kehidupan yang mereka ajukan kepada Allah dapat diterima dan
diberkahi. Kesederhanaan peringatan Isra Mi'raj ini tak mengurangi maknanya;
justru keberkahan terasa meresap dalam setiap jiwa yang hadir.
Peringatan Isra
Mi'raj di Masjid Hidayatullah bukan sekadar acara seremonial, melainkan
momentum untuk merenungi makna perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW. Jamaah
diajak untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, meneguhkan cinta kepada
Rasulullah, dan berkomitmen untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Semoga
keberkahan Isra Mi'raj ini menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan, betapapun
beratnya, akan terasa ringan jika dilandasi cinta dan keikhlasan kepada Allah
SWT. (Raden- Rahma)



