Milad ke-35 IPHI: Meneguhkan Semangat Haji Mabrur Sepanjang Hayat
Milad ke-35 IPHI: Meneguhkan Semangat Haji Mabrur Sepanjang Hayat
Denpasar, 14
Maret 2025 / 14 Ramadhan 1446 H
Ikatan
Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Provinsi Bali menggelar peringatan Milad
ke-35 dengan penuh khidmat di Masjid Baitus Shobirin, Denpasar. Acara yang
dihadiri oleh keluarga besar IPHI ini juga diisi dengan buka puasa bersama
serta ceramah inspiratif dari Dr. KH. Ahmad Buchori Muslim, Ketua Departemen
Hukum dan Advokasi IPPHI.
Dalam
ceramahnya, beliau mengawali dengan mengajak jamaah untuk merefleksikan makna
sabar, sesuai dengan nama tempat kita berkumpul, Baitus Shobirin (Rumah
Orang-orang yang Sabar). Masjid ini, yang merupakan gagasan Ketua IPHI Bali,
Ir. H. Maman, menjadi saksi kebersamaan dan keteguhan hati para haji dalam
menjaga spirit keislaman di Pulau Dewata.
Mengapa Haji
Itu di Arafah, Bukan di Mekkah atau Madinah?
Dr. KH. Ahmad
Buchori Muslim menjelaskan bahwa puncak ibadah haji adalah wukuf di Arafah,
bukan di Mekkah atau Madinah. Arafah adalah tempat berkumpulnya seluruh umat
Islam dari berbagai penjuru dunia dalam keadaan yang sama—tanpa perbedaan
pangkat, status sosial, atau kekayaan. Inilah simbol persatuan dan kesetaraan
di hadapan Allah.
Arafah juga
melambangkan perjalanan kehidupan manusia, di mana setiap hamba diuji dengan
berbagai tantangan dan harus menemukan kesabaran serta ketulusan dalam
beribadah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:
"Al-Hajju
Arafah"—Haji itu (intinya adalah) wukuf di Arafah. (HR. Tirmidzi)
Kisah
Inspiratif: Keajaiban Haji Mabrur
Dalam
ceramahnya, KH. Ahmad Buchori Muslim membagikan kisah menggetarkan hati tentang
pasangan suami istri yang memilih menunda keberangkatan haji mereka demi
membantu seorang ibu miskin.
Diceritakan
bahwa pasangan ini telah menabung bertahun-tahun untuk berhaji. Namun, suatu
hari mereka melihat seorang ibu yang terpaksa memberi makan anak-anaknya dengan
daging bangkai karena kelaparan. Dengan penuh keikhlasan, pasangan tersebut
memberikan seluruh ongkos haji mereka kepada ibu tersebut.
Subhanallah,
Allah membalas keikhlasan mereka dengan cara yang luar biasa. Tanpa mereka
sadari, haji mereka tetap terlaksana melalui perantara malaikat. Foto-foto
mereka bahkan terlihat dalam kelompok jamaah haji di tanah suci. Kisah ini
mengingatkan kita bahwa haji mabrur tidak hanya tentang fisik yang berangkat ke
Mekkah, tetapi tentang ketulusan hati dalam berbagi dan berbuat baik.
Moto IPHI: Haji
Mabrur Sepanjang Hayat
Tema besar
IPHI, Haji Mabrur Sepanjang Hayat, kembali ditekankan dalam peringatan milad
kali ini. Haji mabrur bukan sekadar status setelah pulang dari tanah suci,
tetapi harus tercermin dalam sikap, akhlak, dan kontribusi positif bagi
masyarakat.
Sebagai
organisasi yang telah berdiri selama 35 tahun, IPHI memiliki tanggung jawab
besar dalam menjaga persaudaraan, membina para haji agar terus berperan aktif
dalam kebaikan, serta menjadi teladan di tengah masyarakat. IPHI yang pertama
kali dipimpin oleh H. Sulastomo, putra bungsu pahlawan 10 November, Timo, telah
melalui berbagai dinamika perjalanan. Namun, semangat untuk menjaga nilai-nilai
haji mabrur tetap menjadi prioritas utama.
Menguatkan
Persaudaraan, Menjaga Keutuhan
Di tengah
berbagai tantangan zaman, IPHI harus tetap solid dan mengutamakan persatuan.
Perbedaan pendapat adalah hal biasa, tetapi tujuan utama organisasi ini harus
tetap dijaga—menjadi wadah bagi para haji dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah
dan memberikan manfaat bagi umat.
Milad ke-35 ini menjadi momentum untuk merefleksikan kembali peran kita sebagai insan haji. Mari kita jaga keutuhan IPHI dengan semangat kebersamaan, menjauhi perpecahan, dan terus menebarkan manfaat. Sebab, sejatinya haji mabrur bukan hanya diukur dari perjalanan ke tanah suci, tetapi dari bagaimana kita menjalani hidup setelahnya.
Semoga Allah
senantiasa memberkahi langkah-langkah kita dalam menjaga persaudaraan dan
memperjuangkan nilai-nilai Islam di bumi pertiwi. Selamat Milad ke-35 IPHI!
(Raden Alit)



