Detail Artikel

Milad: Saat Cahaya Dilahirkan Kembali”


Milad: Saat Cahaya Dilahirkan Kembali”

Refleksi Milad Muhammadiyah ke-113


Lahir.

Sebuah kata sederhana, namun di dalamnya tersimpan seluruh rahasia kehidupan.

Al-Qur’an menyebut kelahiran sebagai munculnya tanda-tanda kekuasaan Tuhan, saat manusia keluar dari ketiadaan menuju cahaya.


Seperti firman-Nya:

“Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa…”

(QS. An-Nahl: 78)


Kelahiran adalah awal dari segalanya—awal ilmu, awal perjalanan, awal perubahan.

Maka milad bukan sekadar angka yang berganti, tetapi sebuah momen ketika cahaya diperbarui, ketika visi kembali disucikan, dan ketika langkah diperteguh untuk masa depan.


Bagi seorang bayi, milad adalah tangis pertama yang memecah sunyi;

tangis yang menjadi pertanda bahwa hidup telah dimulai.

Pada detik itu, dunia mendapatkan penduduk baru

dan manusia mendapatkan kesempatan kedua untuk menjadi hamba yang lebih baik.


Begitu pula bagi sebuah ide.

Milad adalah saat gagasan itu lahir dari pikiran, menyala dalam dada,

kemudian bergerak ke dunia nyata dengan tekad untuk memberi manfaat.

Ide yang benar, kata Al-Qur’an, adalah cahaya yang tidak pernah padam,

“Cahaya di atas cahaya; Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”

(QS. An-Nur: 35)


Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu dimulai dari sebuah “kelahiran kecil”

yang tampak remeh—sebuah niat, sebuah mimpi, sebuah tekad.


Dan hari ini, kita sampai pada Milad Muhammadiyah ke-113.

Seratus tiga belas tahun yang lalu, lahirlah sebuah gerakan

yang membawa visi pencerahan di tengah gelapnya kebodohan;

gerakan yang memilih ilmu sebagai senjata,

dan dakwah sebagai pelita bagi bangsa.


Jika kelahiran seorang bayi membawa harapan bagi satu keluarga,

maka kelahiran Muhammadiyah telah membawa harapan bagi jutaan jiwa.

Rumah sakit, sekolah, panti asuhan, universitas, dan gerakan kemanusiaan—

semuanya adalah buah dari sebuah kelahiran ide yang disertai kesungguhan.


Milad bagi Muhammadiyah bukan nostalgia,

tetapi momentum untuk memperbarui niat—

bahwa pencerahan harus terus menyala,

bahwa amal harus terus bertumbuh,

bahwa Islam harus terus dihadirkan sebagai rahmat.


Milad adalah keberkahan.

Karena setiap tahun yang ditambahkan bukan sekadar umur,

melainkan ladang amal yang semakin luas.


Milad adalah cahaya.

Karena ia menyingkap apa yang redup, dan menunjukkan jalan yang harus ditempuh.


Milad adalah semangat.

Karena ia mengingatkan bahwa perjalanan belum selesai,

dan umat masih harus dibimbing menuju kemuliaan.


Milad adalah suka cita.

Karena kita masih diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari gerakan yang hidup.


Milad adalah nur petunjuk.

Cahaya yang menuntun kita, agar tak tersesat dalam gelapnya zaman.


Maka mari kita sambut milad ini

seperti seorang ibu menyambut kelahiran anaknya:

dengan syukur, dengan doa, dan dengan tekad untuk merawatnya agar tumbuh menjadi cahaya bagi dunia.


Karena sesungguhnya, setiap milad—baik milad manusia, milad ide, maupun milad sebuah persyarikatan—

adalah panggilan halus dari Allah untuk lahir kembali menjadi lebih baik.


Milad ke-113 Muhammadiyah.

Semoga terus menjadi cahaya di atas cahaya untuk umat dan kemanusiaan. 

(RAYD)  Open Donasi PT Media Suara Umat Bank BSI 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'