Detail Artikel

MODERASI BERAGAMA: DARI IMAN, KASIH, DAN KEARIFAN LOKAL MENUJU KEHIDUPAN YANG HARMONIS

MODERASI BERAGAMA: DARI IMAN, KASIH, DAN KEARIFAN LOKAL MENUJU KEHIDUPAN YANG HARMONIS

Suara Umat.id — Perspektif Moderasi Beragama

Indonesia dibangun di atas keberagaman. Agama, keyakinan, suku, bahasa, budaya, tradisi, serta cara pandang yang berbeda merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bangsa. Keberagaman tersebut merupakan kekayaan, tetapi sekaligus membutuhkan kemampuan untuk dikelola agar tidak berubah menjadi sumber konflik dan perpecahan.

Dalam konteks inilah moderasi beragama menjadi penting. Moderasi beragama bukan sekadar jargon yang dibicarakan dalam seminar, forum pemerintah, atau dokumen kebijakan. Moderasi beragama harus menjadi cara pandang dan cara hidup yang diwujudkan dalam hubungan sehari-hari.

Moderasi beragama juga tidak berarti mencampuradukkan keyakinan atau meminta seseorang mengurangi iman yang dianutnya. Seorang Kristen tetap dapat menjadi Kristen yang taat, seorang Muslim tetap dapat menjalankan Islam dengan teguh, demikian pula umat Hindu, Buddha, Konghucu, Katolik, dan pemeluk agama serta kepercayaan lainnya tetap dapat menjalankan keyakinannya.

Yang menjadi persoalan adalah bagaimana keyakinan tersebut diwujudkan dalam kehidupan bersama.

Iman yang Melahirkan Kasih

Salah satu pesan penting dalam pembahasan moderasi beragama berbasis iman Kristen adalah bahwa iman kepada Tuhan harus melahirkan kasih kepada sesama.

Prinsip tersebut dapat ditemukan dalam Ulangan 6:5: “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Prinsip ini kemudian dipertegas dalam Matius 22:37–39 ketika Yesus mengajarkan bahwa kasih kepada Tuhan berjalan bersama dengan kasih kepada sesama manusia.

Pesan tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat bagi kehidupan masyarakat Indonesia.

Iman yang kuat seharusnya tidak membuat seseorang mudah membenci orang yang berbeda. Sebaliknya, kedalaman iman semestinya melahirkan kerendahan hati, penghormatan terhadap martabat manusia, kepedulian, serta kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai.

Karena itu, moderasi beragama tidak perlu dipahami sebagai upaya mengurangi keberagamaan. Justru moderasi dapat dipahami sebagai cara menjalankan iman secara dewasa di tengah masyarakat yang majemuk.

Seseorang dapat teguh dalam keyakinannya sekaligus menghormati orang lain yang berbeda keyakinan.

Teguh dalam iman tidak harus berarti keras terhadap perbedaan.

Kasih Harus Menjadi Tindakan

Kasih dalam kehidupan sosial bukan hanya perasaan simpatik. Kasih harus hadir dalam tindakan.

Menghormati tetangga yang berbeda agama, tidak menghina keyakinan orang lain, menolak kekerasan, membantu orang yang sedang mengalami kesulitan, serta memberikan ruang kepada setiap warga untuk menjalankan agamanya secara aman merupakan bentuk nyata dari kehidupan yang moderat.

Karena itu, pertanyaan penting dalam kehidupan bersama bukanlah siapa yang paling berhak menguasai yang lain, melainkan bagaimana semua orang dapat hidup sebagai sesama warga bangsa.

Di sinilah moderasi beragama menemukan dimensi kemanusiaannya.

Kita tidak membantu orang lain karena ia sama dengan kita. Kita membantu karena ia adalah manusia dan sesama warga negara.

Kita tidak menghormati orang lain karena ia memiliki keyakinan yang sama. Kita menghormatinya karena setiap manusia memiliki martabat yang harus dijaga.

Dari Mencintai kepada Persaudaraan

Mengelola keberagaman membutuhkan prinsip sederhana: mencintai untuk dicintai, membantu agar mau dibantu, membuka diri, memahami perbedaan, dan membangun komunikasi.

Setiap orang ingin dihargai. Karena itu, penghormatan harus dimulai dari diri sendiri.

Kita tidak dapat menuntut orang lain menghormati keyakinan kita apabila kita sendiri tidak bersedia menghormati keyakinan orang lain.

Demikian pula kita tidak dapat menuntut masyarakat membantu kita ketika mengalami kesulitan jika kita tidak pernah membangun kepedulian terhadap orang lain.

Dalam kehidupan sosial, semangat tersebut diwujudkan melalui gotong royong, membantu tetangga, menjaga keamanan lingkungan, memberikan bantuan ketika terjadi bencana, serta bekerja bersama menyelesaikan persoalan masyarakat.

Inilah bentuk moderasi beragama yang nyata.

Moderasi bukan hanya apa yang dikatakan di ruang seminar, tetapi apa yang dilakukan ketika kita kembali ke keluarga, lingkungan tempat tinggal, sekolah, kampus, kantor, rumah ibadah, dan ruang digital.

Membuka Diri untuk Menghilangkan Prasangka

Salah satu persoalan dalam masyarakat yang majemuk adalah kecenderungan seseorang hanya bergaul dengan kelompoknya sendiri.

Ketika seseorang hanya mendengar pendapat kelompoknya, membaca informasi dari lingkungannya sendiri, dan tidak pernah berjumpa secara langsung dengan kelompok lain, prasangka menjadi mudah berkembang.

Karena itu, membuka diri merupakan bagian penting dari moderasi.

Membuka diri tidak berarti kehilangan prinsip. Membuka diri berarti memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk mengenal orang lain secara lebih utuh.

Sering kali prasangka lahir bukan dari pengalaman langsung, melainkan dari informasi yang tidak lengkap.

Perjumpaan dapat mengubah prasangka menjadi pengetahuan. Pengetahuan kemudian dapat berkembang menjadi pengertian. Dari pengertian lahirlah kepercayaan, dan dari kepercayaan terbentuk kerja sama.

Menyama Braya: Berbeda tetapi Tetap Bersaudara

Dalam konteks Bali, nilai Menyama Braya memberikan contoh konkret bagaimana keberagaman dapat dikelola melalui semangat persaudaraan.

Menyama Braya dapat dipahami sebagai semangat melihat sesama sebagai saudara. Nilai ini tidak hanya relevan bagi hubungan orang-orang yang memiliki latar belakang sama, tetapi juga dapat menjadi dasar hubungan antarkelompok dan antarumat beragama.

Kementerian Agama mencatat bahwa Menyama Braya berkembang sebagai tradisi masyarakat Bali dan dipraktikkan oleh masyarakat lintas agama. Nilai tersebut tercermin dalam sikap saling membantu, saling menghormati, dan menjaga hubungan baik antarmanusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, semangat tersebut dapat terlihat melalui tradisi saling membantu, gotong royong, Ngejot, pengamanan kegiatan keagamaan, serta berbagai bentuk interaksi sosial lintas agama.

Dengan demikian, seseorang tidak pertama-tama melihat tetangganya sebagai “orang Hindu”, “orang Muslim”, atau “orang Kristen”, melainkan sebagai sesama manusia dan sesama saudara dalam kehidupan bermasyarakat.

Inilah kekuatan Menyama Braya.

Perbedaan identitas tidak menghapus persaudaraan.

Tri Hita Karana: Membangun Harmoni Secara Menyeluruh

Jika Menyama Braya memberikan tekanan kuat pada persaudaraan antarmanusia, maka Tri Hita Karana memberikan kerangka yang lebih menyeluruh mengenai kehidupan yang harmonis.

Tri Hita Karana mencakup tiga hubungan penting: Parahyangan, yaitu hubungan harmonis manusia dengan Tuhan; Pawongan, yaitu hubungan harmonis manusia dengan sesama; dan Palemahan, yaitu hubungan harmonis manusia dengan alam.

Kementerian Agama juga menjelaskan ketiga unsur tersebut sebagai hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.

Ketiganya tidak seharusnya dipisahkan.

Hubungan manusia dengan Tuhan harus tercermin dalam kehidupan sosial. Hubungan antarmanusia harus dijalankan dengan penghormatan dan keseimbangan. Sementara itu, kehidupan manusia juga harus memperhatikan lingkungan yang menjadi tempat berlangsungnya kehidupan.

Dengan demikian, Tri Hita Karana memberikan sebuah pesan sederhana: kehidupan yang baik adalah kehidupan yang seimbang.

Moderasi Beragama dan Kearifan Lokal

Di sinilah moderasi beragama bertemu dengan kearifan lokal Bali.

Moderasi beragama membutuhkan nilai-nilai yang dapat dipahami dan dipraktikkan oleh masyarakat. Karena itu, penguatan moderasi tidak selalu harus dimulai dari konsep yang bersifat abstrak.

Masyarakat sebenarnya telah memiliki banyak nilai lokal yang mengajarkan penghormatan, keseimbangan, persaudaraan, dan gotong royong.

Menyama Braya dan Tri Hita Karana merupakan contoh nyata bahwa nilai moderasi dapat tumbuh dari kebudayaan masyarakat sendiri.

Kajian mengenai kehidupan masyarakat Hindu-Muslim di Bali juga menunjukkan bahwa Menyama Braya dapat menjadi fondasi praktik moderasi beragama melalui berbagai bentuk interaksi sosial, termasuk gotong royong, saling membantu, dan penghormatan terhadap pelaksanaan kewajiban keagamaan masing-masing.

Karena itu, kebijakan moderasi beragama perlu memperhatikan kekayaan lokal. Pemerintah tidak harus selalu menghadirkan konsep dari luar masyarakat. Banyak nilai yang sebenarnya telah hidup dan diwariskan secara turun-temurun.

Tugas pemerintah adalah mengidentifikasi, memperkuat, dan mengembangkan nilai tersebut menjadi kekuatan sosial.

Dari Toleransi Menuju Kerja Sama

Moderasi beragama tidak boleh berhenti pada toleransi.

Toleransi penting, tetapi masyarakat membutuhkan sesuatu yang lebih kuat: kerja sama.

Orang yang berbeda agama tidak harus melakukan ritual yang sama untuk dapat bekerja sama dalam persoalan kemanusiaan.

Seorang Muslim dapat bekerja sama dengan umat Hindu dan Kristen membersihkan lingkungan. Umat Hindu dapat membantu masyarakat Muslim ketika mengalami musibah. Umat Kristen dapat bergotong royong bersama umat agama lain dalam kegiatan sosial.

Tidak diperlukan kesamaan keyakinan untuk membangun kepedulian bersama.

Pendidikan, kesehatan, lingkungan, kemiskinan, bencana, pemberdayaan ekonomi, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat merupakan persoalan bersama.

Di wilayah inilah seluruh umat dapat bertemu.

Kita berbeda dalam keyakinan, tetapi dapat bersatu dalam kemanusiaan.

Dialog: Memahami Tanpa Harus Menyetujui

Perbedaan juga membutuhkan komunikasi.

Banyak konflik bermula ketika komunikasi berhenti. Ketika orang tidak saling mengenal, informasi yang tidak benar mudah dipercaya. Ketika dialog tidak tersedia, prasangka berkembang.

Karena itu, dialog lintas agama dan lintas kelompok perlu terus diperkuat.

Dialog bukan forum untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Dialog adalah ruang untuk saling memahami.

Mendengar bukan berarti menyetujui.

Memahami bukan berarti membenarkan.

Seseorang dapat memahami pandangan orang lain tanpa harus meninggalkan keyakinannya sendiri.

Inilah kedewasaan dalam kehidupan beragama.

Pemerintah dan Pemimpin Harus Menjadi Teladan

Moderasi beragama tidak akan berhasil jika hanya menjadi program pemerintah.

Pemerintah memiliki tanggung jawab menciptakan ruang yang adil bagi seluruh warga negara untuk menjalankan agama dan keyakinannya. Pada saat yang sama, pemerintah perlu memastikan bahwa kebebasan tidak disalahgunakan untuk membenarkan kekerasan, diskriminasi, ataupun ujaran kebencian.

Tokoh agama juga memiliki tanggung jawab besar.

Bahasa yang digunakan seorang pemimpin dapat meredakan ketegangan, tetapi juga dapat memperbesar konflik.

Karena itu, tokoh agama, tokoh masyarakat, pendidik, birokrat, pejabat publik, pemuda, dan komunitas akar rumput harus menjadi bagian dari gerakan moderasi.

Kerukunan bukan hanya pekerjaan satu kementerian atau satu lembaga.

Kerukunan merupakan agenda kebangsaan.

Generasi Muda dan Tantangan Ruang Digital

Tantangan moderasi beragama saat ini tidak hanya berada di ruang fisik.

Ruang digital menjadi arena penting dalam kehidupan generasi muda.

Media sosial memungkinkan orang berinteraksi dengan siapa saja, tetapi juga membuka peluang bagi penyebaran hoaks, ujaran kebencian, fanatisme sempit, dan politik identitas.

Karena itu, nilai Menyama Braya juga perlu diterjemahkan menjadi etika bermedia sosial.

Berbeda pendapat tidak berarti bermusuhan.

Berbeda agama tidak berarti saling merendahkan.

Berbeda pilihan politik tidak berarti kehilangan persaudaraan.

Generasi muda perlu memiliki keberanian untuk mengatakan:

Saya teguh dengan keyakinan saya, tetapi saya tetap menghormati keyakinan Anda.

Sikap tersebut bukan tanda kelemahan iman. Justru itulah salah satu bentuk kedewasaan beragama.

Dari Ruang Seminar Menjadi Cara Hidup

Pada akhirnya, kegiatan seminar, dialog, dan forum lintas agama hanya akan bermakna apabila pesan yang dibicarakan dibawa ke kehidupan sehari-hari.

Moderasi beragama harus hadir di rumah.

Ia harus hadir di sekolah dan kampus.

Ia harus hadir di tempat kerja.

Ia harus hadir di lingkungan banjar dan desa.

Ia harus hadir di rumah ibadah.

Dan ia harus hadir di media sosial.

Kualitas moderasi seseorang tidak diuji ketika ia bertemu dengan orang yang sepemikiran. Kualitas tersebut diuji ketika ia bertemu dengan orang yang berbeda keyakinan, tradisi, pilihan, dan cara pandang.

Di situlah kualitas iman dan kedewasaan seseorang terlihat.

Merawat Bali, Merawat Indonesia

Bali memiliki kekayaan nilai yang sangat penting bagi kehidupan Indonesia.

Menyama Braya mengajarkan bahwa orang lain dapat dipandang sebagai saudara.

Tri Hita Karana mengajarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Perspektif iman Kristen mengingatkan bahwa kasih kepada Tuhan harus berjalan bersama kasih kepada sesama.

Sementara prinsip pengelolaan keberagaman mengajarkan bahwa kita perlu mencintai untuk dicintai, membantu agar mau dibantu, membuka diri, memahami perbedaan, serta membangun komunikasi dan dialog.

Ketiga perspektif tersebut sesungguhnya bertemu pada satu titik: manusia harus mampu menjalankan keyakinannya secara teguh tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.

Indonesia tidak membutuhkan masyarakat yang seragam.

Indonesia membutuhkan masyarakat yang mampu berbeda tanpa bermusuhan, mampu berdialog tanpa saling menghakimi, dan mampu bekerja sama tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing.

Kerukunan tidak lahir karena semua orang menjadi sama.

Kerukunan lahir karena orang-orang yang berbeda mampu saling menghormati dan bekerja bersama untuk kebaikan yang lebih besar.

Karena itu, moderasi beragama pada akhirnya bukan tentang menjadi kurang religius.

Moderasi beragama adalah tentang menjadi lebih dewasa dalam menjalankan keberagamaan.

Dan kedewasaan itu terlihat ketika iman melahirkan kasih, kasih melahirkan persaudaraan, persaudaraan melahirkan kerja sama, dan kerja sama menghadirkan perdamaian.

Berbeda keyakinan, satu kemanusiaan.
Berbeda tradisi, tetap menyama braya.
Berbeda jalan spiritual, bersama menjaga harmoni kehidupan.

Itulah semangat moderasi beragama yang dibutuhkan Indonesia.(RAYD)

 Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'