Muhammadiyah Bali Teguhkan Komitmen Kebangsaan dan Pendidikan Spiritual
Muhammadiyah Bali Teguhkan Komitmen Kebangsaan dan Pendidikan Spiritual
DENPASAR — Usia Muhammadiyah telah menapaki lebih dari satu abad. Namun, komitmen persyarikatan ini terhadap umat, bangsa, dan negara justru kian menemukan relevansinya. Hal tersebut ditegaskan dalam Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah yang dirangkaikan dengan peresmian Mushala KH. Ahmad Dahlan di Komplek Pendidikan Muhammadiyah Denpasar, Sabtu (20/12/2025).
Dalam sambutannya, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali, H. Ir. Husnul Fahmi, mengajak seluruh warga persyarikatan untuk mensyukuri perjalanan panjang Muhammadiyah yang hingga kini tetap konsisten berkhidmat bagi kemajuan bangsa. Ia menegaskan bahwa sejak kelahirannya di Yogyakarta, Muhammadiyah telah menanamkan komitmen untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun peradaban yang berkeadaban.
“Usia Muhammadiyah memang tidak lagi muda. Namun komitmennya terhadap bangsa dan negara tidak pernah surut,” ujarnya.
Ia memaparkan bahwa kehadiran Muhammadiyah di Bali telah dimulai sejak sekitar tahun 1930-an, bermula di wilayah Jembrana dan Buleleng, kemudian berkembang ke Denpasar pada dekade 1960-an. Perkembangan tersebut, menurutnya, menjadi bukti nyata bahwa Muhammadiyah diterima dan tumbuh secara harmonis di tengah masyarakat Bali yang majemuk.
“Ini keunikan Muhammadiyah di Bali. Di tengah masyarakat dengan latar belakang budaya dan agama yang beragam, Muhammadiyah tetap diterima dan mampu berkontribusi,” tuturnya.
Ia juga mengungkapkan capaian persyarikatan di Bali yang terus berkembang, mulai dari pendirian amal usaha kesehatan berupa klinik, hingga persiapan berdirinya universitas Muhammadiyah di Bali. Seluruh capaian tersebut, lanjutnya, merupakan ikhtiar kolektif untuk memperluas kontribusi Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.
Peresmian Mushala KH. Ahmad Dahlan, menurut Husnul Fahmi, menjadi bagian penting dari upaya membangun keseimbangan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan penguatan spiritual. Ia menegaskan bahwa pendidikan Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada penguasaan sains dan teknologi semata, tetapi harus dibarengi dengan pembinaan iman dan akhlak.
“Kita tidak mungkin hanya memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa diiringi penguatan nilai-nilai keislaman. Terlebih dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, kita harus menyiapkan generasi yang unggul secara intelektual sekaligus kokoh secara spiritual,” ujarnya.
Ia menyadari bahwa generasi hari ini mungkin tidak lagi menikmati buah dari Indonesia 2045. Namun, tanggung jawab menyiapkan generasi penerus tetap menjadi amanah yang harus ditunaikan bersama.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Mushala KH. Ahmad Dahlan merupakan milik persyarikatan Muhammadiyah. Karena itu, pengelolaannya harus mengikuti ketentuan dan nilai-nilai yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, seraya tetap terbuka bagi jamaah yang datang dari latar belakang yang beragam.
Pada kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pembangunan mushala, termasuk masyarakat sekitar, aparat desa, tokoh adat, serta para donatur yang dengan keikhlasan mendukung terwujudnya mushala tersebut.
“Mushala ini berdiri megah bukan semata karena bangunannya, tetapi karena semangat kebersamaan dan keikhlasan yang melahirkannya,” ungkapnya.
Rangkaian acara Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah ini menjadi peneguhan bahwa Muhammadiyah tidak hanya hadir sebagai gerakan dakwah, tetapi juga sebagai pilar peradaban yang terus berupaya memadukan iman, ilmu, dan amal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (RAYD)



