Muhasabah Hijrah: Menjaga Iman di Tengah Perjalanan Tiga Alam Kehidupan
Muhasabah Hijrah: Menjaga Iman di Tengah
Perjalanan Tiga Alam Kehidupan
Denpasar – Suasana khusyuk menyelimuti
pelaksanaan Shalat Jumat di Musholla KH Ahmad Dahlan, Jalan Pulau
Batanta No. 80, Denpasar. Bertindak sebagai khatib, Ustadz Dr. Abiza
menyampaikan khutbah yang sarat renungan tentang hakikat iman, makna hijrah,
dan pentingnya mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.
Dengan gaya
penyampaian yang teduh dan menyentuh, Ustadz Dr. Abiza mengajak jamaah
menjadikan pergantian bulan Hijriah bukan sekadar perubahan angka dalam
kalender, melainkan momentum memperbaiki diri, memperkuat ketakwaan, dan
memperbaharui komitmen sebagai hamba Allah.
"Iman
bukan hanya diucapkan oleh lisan, tetapi harus dibuktikan dalam amal. Hijrah
bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan hati menuju ketaatan
kepada Allah."
Khutbah
diawali dengan pujian kepada Allah SWT atas limpahan nikmat iman, Islam,
kesehatan, dan kesempatan sehingga kaum muslimin kembali memenuhi panggilan-Nya
di rumah Allah.
"Kalimat
yang paling dicintai Allah adalah Alhamdulillah. Ia bukan sekadar
ungkapan syukur, tetapi pengakuan bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah dan
hanya kepada-Nya segala pujian dipersembahkan."
Shalawat
dan salam kemudian dipanjatkan kepada Nabi Muhammad SAW, sang pembawa risalah
yang menerangi jalan kehidupan umat manusia hingga akhir zaman.
Jumat Adalah Panggilan Iman
Khatib
mengingatkan bahwa kehadiran seorang muslim di masjid pada hari Jumat bukanlah
rutinitas biasa, melainkan bukti ketaatan kepada Allah.
Sebagaimana
firman Allah dalam Surah Al-Jumu'ah ayat 9:
"Wahai
orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk melaksanakan salat pada hari
Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang
demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
Menurut
khatib, ayat ini bukan sekadar perintah meninggalkan pekerjaan, tetapi juga
mengajarkan bahwa ketika Allah memanggil, seluruh urusan dunia harus berada
di urutan kedua.
"Setiap
langkah menuju masjid dicatat sebagai amal kebaikan, sementara dosa-dosa
berguguran seiring langkah kaki seorang hamba."
Iman Tidak Cukup Diucapkan, Tetapi Harus
Dibuktikan
Khatib
kemudian mengingatkan bahwa iman bukan sekadar identitas.
"Iman
bukan hanya tulisan pada kartu identitas. Bukan pula sekadar pengakuan di
lisan. Iman harus tampak dalam amal, akhlak, dan ketaatan kepada Allah."
Demikian
pula takwa.
Takwa bukan
sekadar penampilan yang religius, bukan pula kesalehan yang dipertontonkan di
hadapan manusia.
Takwa
adalah menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya
dengan ikhlas semata-mata karena Allah.
Allah SWT
berfirman:
"Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa
dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."
(QS. Ali Imran: 102)
Muharram Telah Berlalu, Saatnya Memperbaiki
Hijrah
Khutbah
juga mengajak jamaah melakukan refleksi setelah berlalunya bulan Muharram dan
memasuki bulan Safar.
Menurut
khatib, hijrah bukan hanya perpindahan tempat sebagaimana yang dilakukan
Rasulullah SAW.
Hijrah
sejati adalah perpindahan hati.
Hijrah dari
maksiat menuju taat.
Hijrah dari
lalai menuju ingat kepada Allah.
Hijrah dari
cinta dunia menuju rindu akhirat.
Setiap
pergantian bulan Hijriah hendaknya menjadi momentum mengevaluasi perjalanan
hidup.
"Jangan
sampai kalender Hijriah berganti, tetapi diri kita tidak pernah berubah menjadi
lebih baik."
Manusia Hidup di Tiga Alam
Salah satu
bagian khutbah yang paling menggugah adalah penjelasan mengenai perjalanan
manusia yang sesungguhnya hidup dalam tiga dimensi kehidupan.
1. Alam Masa Lalu
Sebelum
lahir ke dunia, setiap manusia pernah bersaksi di hadapan Allah.
Allah
bertanya:
"Bukankah
Aku Tuhanmu?"
Seluruh ruh
menjawab:
"Benar,
Engkau adalah Tuhan kami."
Karena
itulah fitrah manusia sebenarnya adalah bertauhid.
Khatib
menegaskan bahwa sejarah tidak boleh dilupakan.
"Bangsa
yang melupakan sejarah akan kehilangan jati dirinya. Demikian pula seorang
muslim yang melupakan sejarah keimanannya akan mudah terseret oleh arus
kehidupan."
Al-Qur'an
sendiri dipenuhi kisah para nabi sebagai pelajaran agar manusia mengambil
hikmah dari perjalanan umat terdahulu.
2. Alam Dunia
Saat ini
manusia hidup di alam perjuangan.
Di sinilah
ujian sesungguhnya berlangsung.
Allah ingin
melihat apakah manusia mampu menjaga komitmen yang pernah diikrarkan sebelum
dilahirkan.
"Tugas
terbesar kita bukan hanya menjadi muslim, tetapi mempertahankan iman hingga
akhir hayat."
Karena itu
setiap hari adalah ujian.
Apakah hati
semakin dekat kepada Allah?
Ataukah
justru semakin jauh oleh kesibukan dunia?
3. Alam Akhirat
Perjalanan
manusia tidak berhenti pada kematian.
Kehidupan
sesungguhnya justru dimulai setelah dunia berakhir.
Karena itu
orang yang cerdas bukanlah yang sekadar berhasil mengumpulkan kekayaan dunia.
Orang yang
cerdas adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkan
bekal untuk kehidupan setelahnya.
Rasulullah
SAW bersabda:
"Orang
yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik
persiapannya untuk kehidupan setelah mati."
(HR. Ibnu Majah)
Sejarah Menguatkan Iman
Khatib
menegaskan bahwa Al-Qur'an sarat dengan kisah umat terdahulu bukan untuk
dikenang semata, melainkan agar menjadi pelajaran.
Begitu pula
dalam kehidupan berbangsa.
Masyarakat
yang melupakan sejarah akan kehilangan arah.
Sementara
seorang mukmin yang melupakan perjalanan hidupnya akan mudah kehilangan
nilai-nilai keimanan.
"Sejarah
bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi kompas yang menunjukkan arah masa
depan."
Tujuan Hidup Adalah Husnul Khatimah
Seluruh
perjalanan hidup pada akhirnya bermuara pada satu tujuan.
Bukan
gelar.
Bukan
jabatan.
Bukan
kekayaan.
Melainkan
bagaimana Allah memanggil kita dalam keadaan beriman.
"Keberhasilan
hidup bukan diukur dari panjangnya usia, melainkan bagaimana akhir perjalanan
itu ditutup dengan husnul khatimah."
Karena itu,
setiap pergantian waktu hendaknya menjadi kesempatan memperbaiki amal,
memperkuat iman, dan mempertebal ketakwaan.
Penutup
Mengakhiri
khutbahnya, khatib mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan kehidupan dunia
sebagai ladang amal menuju akhirat.
"Kita
semua sedang berjalan menuju Allah. Persoalannya bukan apakah kita akan sampai,
tetapi bekal apa yang kita bawa ketika tiba di hadapan-Nya."
Semoga
Allah SWT meneguhkan hati kita di atas iman, menjaga langkah kita dalam
ketakwaan, serta mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah, sehingga
kelak dikumpulkan bersama Rasulullah SAW dan orang-orang saleh di surga-Nya.
Aamiin Ya
Rabbal 'Alamin.
(RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



