Detail Artikel

Muhasabah Menjelang Ramadhan

Muhasabah Menjelang Ramadhan

Kalau Ini Ramadhan Terakhirku, Sudah Siapkah Aku?

Menjelang Ramadhan di usia kita hari ini, suasananya terasa berbeda. Dulu, ketika masih berada di usia dua puluhan atau tiga puluhan, Ramadhan identik dengan hal-hal yang ringan dan menyenangkan. Menu berbuka apa hari ini, baju baru warna apa untuk lebaran, kue apa saja yang akan memenuhi toples di ruang tamu. Semua terasa sederhana. Hidup seakan masih panjang.

Kini, Ramadhan terasa lebih sunyi. Lebih serius. Lebih menggetarkan.

Usia bukan sekadar angka. Ia adalah alarm halus dari Allah. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan bahwa waktu yang tersisa tidak sebanyak yang telah berlalu.

Kita mulai melihat teman sebaya jatuh sakit. Ada yang tiba-tiba berpulang. Ada yang dahulu bercanda bersama, kini hanya tinggal kenangan. Dalam diam, hati pun bertanya: kalau giliranku tiba, apakah aku sudah siap?

Ramadhan datang membawa pertanyaan yang lebih dalam: kalau ini Ramadhan terakhirku, sudah siapkah aku?

Di usia yang semakin matang, fisik tidak lagi sama. Puasa harus dijalani lebih hati-hati. Lambung kadang menuntut perhatian. Lutut terasa lebih cepat lelah ketika berdiri lama dalam shalat tarawih. Namun justru di situlah letak keindahannya. Kita diingatkan bahwa tubuh ini tidak selamanya kuat, dan kita dipaksa untuk lebih bersandar kepada Allah.

Ramadhan di usia ini bukan lagi tentang terlihat rajin. Bukan soal memperlihatkan aktivitas ibadah. Bukan perlombaan mengkhatamkan Al-Qur’an paling cepat. Ia menjadi perjalanan yang lebih personal. Tentang hati yang ingin dibersihkan sebelum benar-benar pulang.

Jika jujur pada diri sendiri, dosa masa muda kita tidak sedikit. Ego yang pernah tinggi. Lisan yang pernah melukai. Waktu yang terbuang untuk hal yang sia-sia. Shalat yang pernah ditunda. Orang tua yang mungkin pernah kita kecewakan.

Ramadhan hadir seperti kesempatan ulang. Seakan Allah berbisik lembut, masih ada waktu untuk memperbaiki.

Di usia ini pula kita menyadari bahwa anak-anak sedang melihat. Cara kita menyambut Ramadhan akan mereka tiru. Jika yang mereka lihat hanya kesibukan dapur dan dekorasi rumah, itulah yang mereka anggap penting. Namun jika mereka melihat orang tuanya bangun lebih awal untuk tahajud, lebih lembut dalam berbicara, lebih sabar dalam berinteraksi, maka mereka belajar makna Ramadhan yang sesungguhnya.

Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah latihan pulang. Latihan menahan diri. Latihan merendahkan ego. Latihan melepaskan dunia sedikit demi sedikit.

Usia membuat kita lebih jujur pada diri sendiri. Kita tahu mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya sekadar gengsi. Kita tahu mana yang akan dibawa mati dan mana yang hanya tertinggal di lemari.

Karena pada akhirnya, yang ikut ke liang kubur hanyalah amal. Bukan jumlah pengikut di media sosial. Bukan omzet usaha. Bukan pujian manusia.

Menjelang Ramadhan ini, mungkin yang perlu disiapkan bukan hanya stok kurma dan sirup, tetapi hati. Sudahkah kita meminta maaf kepada orang tua? Sudahkah kita berdamai dengan pasangan? Sudahkah kita melepaskan dendam yang diam-diam masih tersimpan?

Ramadhan di usia kita adalah tentang keberanian. Berani berubah. Berani mengakui salah. Berani memperbaiki diri.

Kita mungkin tak bisa mengulang masa muda, tetapi kita masih bisa memperbaiki masa depan akhirat. Dan satu hal yang perlu disadari, tidak semua orang diberi kesempatan mencapai usia hari ini. Jika Allah masih memberi umur, itu bukan kebetulan. Itu amanah.

Maka jangan jalani Ramadhan seperti tahun-tahun biasa. Naikkan levelnya. Perdalam sujudnya. Lembutkan lisannya. Perbanyak istighfar.

Bisa jadi satu Ramadhan yang dijalani dengan sungguh-sungguh di usia ini menjadi penentu arah hidup selamanya.

Jangan menunggu sehat sempurna. Jangan menunggu semua masalah selesai. Jangan menunggu merasa lebih siap. Waktu tidak menunggu.

Ramadhan sudah di depan mata. Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita akan memasukinya sebagai pribadi yang sama seperti tahun lalu, atau sebagai versi yang lebih siap pulang?

Jika hati tergerak, mulailah hari ini dengan satu perubahan nyata. Satu langkah kecil, namun konsisten. Karena bisa jadi, ini bukan Ramadhan biasa.(RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'